Tetukang

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 September 2016
Tetukang

Tidak ada tempat untuk beruzlah (merenung) yang lebih baik dari pada saat berkendara. Mungkin karena saya tak pernah berurusan dengan kasur yang empuk, paling tidak 8 tahun silam sejak saya memulai hidup dikota. Terkadang pun hidup saya terlalu sederhana, semisal bersedih hanya karena surel tak berbalas atau berbahagia karena akhirnya bisa menyendiri.

Tapi sudahlah, Zaman menuduh saya dan kami-orang-orang yang seperti saya- terlalu banyak berfikir, saya cenderung suka berlebihan memikirkan apapun bahkan yang belum terjadi sekalipun. Dolan (jalan-jalan) untuk sekedar mencari waktu sendiri walau sekedar untuk beruzlah biar saja nampak seperti safih (gila/bodoh), “kadang kala menyendiri adalah hal yang benar-benar saya butuhkan”. Anggap saja satu klausa ini telah tertahan berlam-lama dalam tenggorkan semenjak para tukang memandang saya dengan tatapan yang tidak tidak karena saya yang garib, jarang pulang lalu berlalu begitu saja.

Maaf tapi saya terlalu sibuk dengan pertanyaan yang berjubel butuh jawaban. Kamu tahukan seperti apa rasanya setelah menyelesaikan satu drama Korea yang berpuluh-puluh episode, lantas setelah itu kamu kembali kedunia nyata, seperti digantung! Perasaanmu!, jadi biarlah saya menjawab pertanyaan itu dahulu.

Lagipula tidak ada kebetulan, kebetulan pada akhirnya hanyalah panasea (obat) untuk perisitiwa diluar sepengetahuan manusia. Saya percaya pada setiap sesuatu ada satu pola, pola kecil yang membentuk pola besar.Tiga tahun silam semenjak lulus, saya menghabiskan waktu untuk mencari pekerjaan. Saya selalu suka saat wawancara paling pertama, kamu tahu apa yang saya katakan pada bapak hrd yang saat itu kebetulan bersama dengan bapak kepala cabang?, bukan, bukan memperkenalkan diri. Saya justru menegaskan “sebenarnya saya tidak berminat dengan pekerjaan ini”, lalu kamu tau pertanyaan setelahnya?, saya bertanya tentang pola. jawabannya jelas. Saya ditolak. Kamu tau kan rasanya ditolak? Seperti saat kau menghabiskan bagian terkahir makanan kesukaanmu, oh sudah habis?.  

Kamu tau, bagiamana otak manusia dibagi menjadi ruang-ruang?, daya ingat saya hanya tiga detik, sama atau dua detik lebih cepat dibandingkan ikan, jadi saya membagi hidup saya menjadi ruang-ruang agar lebih mudah mengingat. Saat lupa saya harus kembali keruang sebelumnya. Setiap ruang saya beri gerbang semacam anian, agar saya gampang keluar masuk.  

Jadi uzlah saya tentang universalitas bukanlah kebetulan, lagi pula harus ada satu pola besar yang kita lalui. Maka pada satu anian, yang selalu dengan kebetulan memberi saya petunjuk, misalnya pada satu waktu beberapa meter setelahnya anak gadis yang diboncengi bapaknya-anggap saja bapaknya agar kamu tidak kecewa- memakai sweater bertulisakan “universal relation between person is kindness”. Waktu bukan lagi universalitas yang baik, ia suka selingkuh. Bermain dibelakang. Banyak maunya dan suka mengatur-atur.       

Karena itu saya tidak suka dengan konsep waktu, terlalu mengada-ada. Kamu tau kan rasanya tak dianggap? Seperti, oh!. Waktu hanyalah pembenaran semata, jalan pintas agar ada anggapan yang sama. Tapi tidak ada yang salah menggunakan jam tangan, seorang teman perempuan berkehendak kukuh memberi saya hadiah, lewat perpesanan ia menulis, “but its something u need”, atas penolakan saya sebab saya tak ingin hadiah lain selain jam tangan, malam ini kita tak akan berjumpa jika yang kau bawa bukan jam tangan. Ah beberapa hari kedepan ia akan menjadi seorang istri, hal yang tak pernah bisa saya bayangkan. Ia akan menikahi laki-laki yang tingginya dua kali lipat darinya. Saya tau harus berbahagia tapi bukankah itu artinya jam tangan akan tertunda?. Sudahlah lagipula saya sudah punya jam tangan meski penujuk waktunya selalu saya atur secara asal-asalan.

Bagimanapun juga dibelahan dunia lain ada hewan yang disebut dengan istilah banobo, hewan yang hampir mendekati manusia. Primata pejalan dua kaki terlama diantara lainnya setelah manusia. Mereka belajar membuat api, mereka belajar memasak bahkan mengendarai mobil golf. Satu orang yang paling dekat denganya Susan Savage akhirnya mengatakan, banobo belajar dari manusia, kita mempunyai kesamaan, bukan bentuk fisik tapi peradaban. Jadi apapun yang Darwin katakan tentang evolusi fisik itu sudah mole(membosankan), saya lebih senang menyebutnya dengan penyesuaian peradaban.Jauh jauh hari pada kuliahnya salah seorang professor di Oxford university tentang “how ideas have sex” mengatakan bahwa idelah yang membuat kita bertahan hidup selama ini. Lagipula nenek moyang kita bukan kera, nenek moyang kita pelaut!.

ini adalah pekan terburuk, dua tiga malam saya tak sanggup tidur karena lagu dangdut remix semacam tet ted teded teded -  teded tet teded, yang diputar berulang-ulang dari jam 8 malam sampai jam 6 pagi sebab saya tak sanggup jua pulang kekamar karena tukang-tukang. setelah tulisan ini selesai, saya mencetaknya. Membacanya berulang-ulang. Butuh dua hari mencari kepastian bagaimana mengatakannya. tukang-tukang harus mengerti, saya orang baik.

Kepulangan saya tak bersambut, pekerjaan selesai, tidak satupun saya dapati seseorang yang lain. Ah kebetulan!. kamu tau kan rasanya kebetulan? Semacam jawaban iya saya mau.

  

Catatan :

kamu tau rasanya ingin mengatakan sesuatu tapi tak tau caranya? Seperti menyet, bilang takut ditolak, tak bilang takut di ambil orang. Kamu mau syura(nasehat) dari saya? Disana, jalur bone-makassar yang biasa disebut camba, ada beberapa baligho dengan tiga kalimat bersusun. Salah satunya, biarkan tingkah laku monyet menjadi atraksi. Ayolah kepala kamu kau isilah selain cinta2an.   

Image : nyunyu.com 

  • view 128