/mama/

Alenia
Karya Alenia  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Mei 2016
/mama/

“Madre amo te”
Jika pada awalnya setiap critter yang berwujud dilahirkan dari Rahim “lessu” seorang wanita, maka penghargaan atas mereka (madre) pada akhirnya adalah harga mati.
 
Ada begitu banyak ikatan di dunia ini, mulai dari yang sederhana semisal ikatan atas dasar profesionalisme hingga ikatan yang hyper-bole melo-dramatistik seperti urusan yang anda namai “complicated”. Dan di antara keruwetan dan keegoisannya masing-masing seperti soalan profesionalisme jam-kerja yang mengusik waktu bercinta, atau harapan palsu, perasaan yang tergantung dan status yang tidak jelas, ada satu ikatan yang tidak pernah dimakan usia, ikatan atas dasar yang lebih kuat, yang telah membangun peradaban dari zaman yang gelap gulita sampai pada zaman yang terang benderang. Ikatan antara anak dan ibu, maksud saya ibu dan anak.
 
Setiap penulis selalu memulai menulis dengan segelas kopi, kopi dan menulis sudah menjadi rukun menulis, maka sesuai syarat sahnya saya akan memulai dari sana, maksud saya dari sini. Meskipun saya bukan penggemar kopi. Sama sekali. Apakah anda tau, bahwa kah-vay (Turki), ka-vee (Finnlandia), ka-fay (China), kaffee (Berlin), Caffe (Roma), kofi (Nigeria), gah-veh (Teheran) adalah sebutan untuk kopi?. Kopi selalu dibentuk dari dua suku kata yang sama padahal beberapa Negara yang saya sebutkan tadi hamper berasal tidak pada satu keluarga bahasa. Kesimpulannya adalah kopi adalah istilah universal yang menembus kisi benteng-benteng budaya. Dan itu sama sekali tidak penting sebab tulisan ini tidak sama sekali berkaitan dengan kopi.
 
“mama” adalah salah satu Shailene Woodley maksud saya “divergent bahasa” selain dari kopi. Pada faktanya “mama” hampir digunakan oleh berbagai suku sebagai panggilan kepada “ibu”. Misalnya bahasa Swahili di Afrika menyebut mama, Tagalog di philipina menggunakan nanay, sementara mama digunakan oleh penutur bahasa Indonesia dan mandarin, orang Eskimo memakai anana, dan parole penutur koasati di texas dan Lousiana memanggil ibu dengan mamma. Masing masing menggunakan dua suku kata, lebih tepatnya dua bunyi dasar, m/n dan a yang direduplikasi. Bahkan bahasa daerah di Indonesia pun cenderung menggunakan panggilan yang sama. Pertanyaannya adalah mengapa panggilan kepada ibu sama pada banyak bahasa?.
 
Saya akan merujuk pada kesimpulan Roman Jakobson untuk menjawab pertenyaan tersebut. Jakob memulainya dengan suara yang paling mudah diciptakan yakni bunyi vocal. Dan diantara tanda-tanda bunyi vocal tersebut /a/ lah yang paling mudah diantara yang lain. Lebih tepatnya dengan aspirasi dibelakang menjadi /ah/, lantas itulah mengapa ketika anda merasa sakit /ah/ lah yang menjadi pilihan fonem dan itu pekerjaan saraf yang berurusan dengan spontanitas bukan pilihan logis. Silahkan buktikan sendiri, maksud saya dengan mengucapkannya, jangan berfikir macam-macam!.
Bayi memulainya dengan yang termudah, meskipun begitu mereka tetap membutuhkan variasi, maka variasi yang paling mudah setelah membuka mulut adalah dengan menutup mulut. Maka terdengarlah bunyi konsonan /m/ atau /n/. pada akhirnya bunyi /ma/ atau /am/ diucapkan berulang-ulang terdengarlah /mama/ atau /amama/. Mengingat ibu adalah manusia pertama yang ditemui bayi maka ibu memudahkan prosesnya dengan menjadikan mama sebagai panggilan untuk mereka. Proses berulang kemudian membentuk persepsi bayi bahwa mama adalah pangilan untuk ibu. Proses ini terjadi secara terbalik. Meskipun ibulah yang sebenanrnya mempatenkan panggilan mama untuk ibu. Barangkali untuk mendapat status kekasih anda bisa melakukan hal serupa.
 
Jika ditinjauh lebih jauh bunyi letupan atau plosive adalah hal ketiga yang harus dilakukan sebab udara panas dalam mulut, maka bunyi ketiga yang dipilih kemungkinan besar plosive (letupan udara) /b/ atau /p/, /t/ dan /d/ bunyi inilah yang kemudian membentuk /papa/ , /baba/, /dada/, /tata/, yang akhirnya menjadi panggilan untuk bapak. Pada akhirnya mama telah didaulat secara tidak langsung menjadi universalitas manusia secara utuh. Manusia pertama yang beruurusan dengan manusia manapun. Kalau anda berfikir ujaran /mama/ ternyata kebetulan saja, itu kurang tepat, saya kira anda-lah yang kebetulan yang berasal dari nama andika lalu dimodifikasi menjadi /anda/. Bukan kangen band kok!
 
Masih bersoal tentang ibu, jika dirujuk penggunaan katanya “ibu” digunakan secara beragam, saya akan memilih dua bahasa saja sebagai rujukan, pertama “mother”. Pada kasus bahasa inggris data yang dapat dilihat langsung di corpus amerika ditemukan “mother” selalu muncul bersamaan dengan beberapa kata lain seperti son, daughter, her, his. Dianatara frekuensi terbanyak tersebut muncul satu pada kata lain yakni earth atau bumi. Ada satu hubungan yang solid antara ibu dan bumi dalam bahasa inggris. Ada banyak penjelasan akan tetapi pendekatan mitos dan agama selalu menjadi jawaban yang menarik. Suku azatec mengenal istilah Tonantzin yang berarti ibukami untuk menyebut bumi. Suku Inca menggunakan Pachamama yang berarti mother earth, orang Hindustan menyebut bumi dengan Bhuma devi dewi bumi bahkan pada mitologi yunanyi gaia dikatakan sebagai dewi bumi. Dan jika anda mengenal Thor tokoh avenger yang berasal dari mitologi nordik disebutkan beribu Jord yakni dewi Bumi. Yah meskipun pada filmnya diceritkan denagn tokoh yang berbeda.
 
Kedua, ibu dalam bahasa Indonesia secara unik bersatu dengan kata pertiwi. Pada lagu yang diciptakan oleh Joseph Seriven “what a friend we find in Jesus” yang kemudian dicurigai dijiplak menjadi lagu “ibu pertiwi” memulai hubungan antara ibu dan pertiwi. Pertanyaanya siapa pertiwi? Anak gadis dengan nilai 8 kah atau 6? Ada banyak pertiwi di Indonesia tapi saya berharap anda bias berhati-hati setiap dari mereka. Pertiwi sebanranya diambil dari bahasa sansekerta, prthvi/prthivi yang dalam agama hindu disebut dewi Bumi. Agama weda menyebutkan pertiwi berasal dari prthiwi yakni dewi yang menguasai semua. Karena ini bagian penting maka saya ulangi “yang menguasai semua”. Akhirnya setiap lelaki pun tidak harus bersedih atas fakta bahwa perempuan selalu benar sebab pada akhirnya perempuan akan selalu salah dimata ibu mertua. Yah karena ibu mertua adalah ibu, pertiwi.
 
Anda mungkin mengenal kata alma mater, almamater berarti ibu sesusuan atau ibu kandung. Maka kampus secara literal merupakan ibu kandung semua mahasiswa. Bahkan kampus tempat pendidikan pun disebut dengan ibu. Maka wajar saja calon ibu harus berpendidikan karena madrasah terbaik secara literal memang ibu. Jadi siapa yang mengikut siapa? Apakah kampus yang diidentikkan dengan ibu atau ibu yang diidentikkan dengan kampus?. Yang paling penting dari itu adalah diharmaknanya bagi muslim menikahi saudara sepersusuan.
 
Ada kesimpulan lain terakit dengan kata saya dan kamu. Pada beberapa bahasa PIE proto indo European saya dan kamu selalu meggunakan kata pada beberapa bahasa dengan awalan m dan t. prancis misalnya menggunakan moi untuk saya dan toi untuk kamu. Me dan tu dalam bahasa spanyol, orang rusia menggunakan menja dan tebja dan masih banyak lainnya. Hipotesis paling dekat adalah pendekatan yang sama dengan persoalan mama. Huruf m dan t mewakili saya dan kamu. M secara tidak langsung mewakilkan saya dan ibu. Maka secara logis dan beratutan ibu dan saya adalah dua hubungan yang solid.
 
Ngomong-ngomong selamat hari ibu sedunia. Sayangi ibumu karena tidak ada alasan membenci ibu, kecuali kiriman terlambat, atau terlalu banyak ikut campur soal skripsi, tesis dan urusan nikah, atau larangan sana sini karena tanpa ibu anda tidak punya seseorang untuk dibenci dan itu lebih menyakitkan. Dari pada memikirkan ibumu lebih baik memikirkan kekasihmu, cintanya jelas, setia, tidak mengantung, tidak palsu dan yang paling pasti kamu tidak akan berakhir pada klausa “setelah semua ini”
 
moral : kalo kau sayang ibumu, berhenti sudah kau panggil dia mace, mace itu tante,kecuali maksudmu mama cerewet. ah giliran kau ketemu mama-mama tapi bahenol, kau panggil dia tante.

  • view 157

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Mamah minta pulsa

  • Alenia 
    Alenia 
    1 tahun yang lalu.
    akhirnya nemu juga teman seperguruan linguistik

    padahal semua orang bilang tulisan saya jelek ga bisa kebaca, cakar ayam katanya. hahaha

    • Lihat 2 Respon

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Setelah liat profilenya, ooh panteess.... linguistik ternyata... saya berasa kuliah matkul empat sks itu lagi, tapi versi lebih ringan dan oke. Maksud saya, tulisannya bagus!

  • Alenia 
    Alenia 
    1 tahun yang lalu.


    anw mba bukan hayati yg di tenggelamnya kapal vander wijk kan?

  • Nur Hayati
    Nur Hayati
    1 tahun yang lalu.
    Keren..