Selingkuh Itu Indah

Ali Munir S.
Karya Ali Munir S. Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Desember 2017
Selingkuh Itu Indah

Namanya Ustad Abdul Basith. Orang-orang di kampungnya biasa memanggil beliau Ustad Basith. Beliau disebut Ustad karena pembawaannya yang alim dalam ilmu agama dan rajin beribadah di masjid milik kepala desa. Beliau selalu sholat berjamaah lima waktu. Pada sepertiga malam sebelum masuk fajar Shubuh, beliau istiqomah melaksanakan sholat Tahajjud. Selain itu, pada pagi harinya beliau sholat Dhuha. Tepatnya ketika matahari kira-kira sudah setinggi kepala.
Beliau memiliki suara yang bagus. Orang-orang sering menyebut beliau seorang Qori’ atau orang yang lihai membaca al-Qur’an dengan suaranya yang aduhai. Setiap hari Jum’at beliau terbiasa menjadi imam sholat Jum’at di masjid milik kepala desa di kampungnya itu. Pada raka’at pertama, beliau tidak jarang membaca surat ar-Rahman sepanjang satu surat penuh dengan suaranya yang membuat jama’ah termenung.
Beliau berkeluarga dengan Susmiyati dan dianugerahi seorang anak perempuan, Fatimah namanya, biasa dipanggil Atus. Istrinya baik dan penurut. Anaknya juga cantik dan cerdas. Mereka hidup dalam keluarga yang sederhana dan serba menerima dengan keadaan. Sekalipun istri Ustad Basit tidak pernah ikut sholat berjamaah di masjid, tapi mereka tetap rukun dan damai dalam keseharian hidup mereka.
***
Atus sudah lulus sekolah dasarnya  dan melanjutkan ke jenjang menengah pertama. Di usia dini itu, Atus dilamar oleh Eko. Tetangga Ustad Basith yang merupakan anak dari Pak Irfan. Dari kabar ke kabar tersebar di masyarakat kampung bahwa Pak Irfan tak lebih dari seorang mantan preman kota yang khilaf dan mulai konsisten dalam ibadah keagamaan. Sehingga banyak anggapan masyarakat yang mengatakan perkawinan anak Pak Irfan dengan anak Ustad Basith hanya untuk menjalin hubungan baik dalam hal agama. Perkawinan Eko, yang baru kelas 1 jenjang menengah atas itu, bukan atas dasar cinta dan kasih dengan Atus. Melainkan dipaksakan oleh orang tuanya. Seperti kucing yang disuguhi ikan goreng, Eko pun tidak menolak.
 Lamaran Pak Irfan diterima dengan senang hati oleh Ustad Basith. Begitu pula istrinya, yang memang berwatak penurut. Eko dan Atus dinikahkan secara adat dan sah menjadi sepasang suami istri.
Eko rajin sholat berjama’ah di masjid semenjak pernikahannya dengan Atus. Tak lupa Atus diboncengnya. Tampak orang melihat mereka sebagai sepasang anak yang sholeh-sholeha. Karakter Eko yang sebelumnya nakal sepertinya mulai menghilang. Dia tidak ingin menodai hubungan dengan mertuanya yang alim, Ustad Basith. Masyarakat sudah mafhum bahwa mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Sampai pada pengungkapan rahasia yang entah.
***
Atus lulus SMP, Eko juga lulus SMA. Pak Irfan bercerai dengan istrinya setelah diketahui dia berjudi pada suatu malam di pusat kecamatan. Eko juga kena imbasnya. Dia cerai dengan Atus, setelah beralasan ingin ikut bapaknya merantau ke Kalimantan. Eko dan bapaknya berangkat, Atus menjadi janda muda.
Atus frustasi. Pasalnya, selain dicerai oleh Eko, Atus tidak lagi diizinkan melanjutkan sekolah ke jenjang menengah atas karena persoalan ekonomi. Ustad basith sudah sibuk dengan ibadahnya di masjid dan tidak memiliki penghasilan.
“Kasihan anak kita, Pak!”
“Biarkan saja, Ma. Sekolah SMP itu sudah cukup untuk bekal hidupnya. Yang penting diamalkan dan beribadah kepada Allah.”
“Tapi, Pak….”
Alam hening seakan ikut terharu. Semenjak peristiwa perceraian anaknya dengan Eko itu, Ustad Basith semakin rajin serta fokus pada ibadah di masjid. Istri dan anaknya tampak sangat kurang perhatian darinya sebagai kepala rumah tangga. Mereka setiap hari bertugas di rumah, mengarit rumput untuk sapi peliharaan mereka. Sementara Ustad Basith hanya sesekali pulang ke rumahnya, itu pun untuk istirahat dan melihat keadaan. Bukan untuk bekerja. Setelah itu kembali lagi ke masjid.
“Pak, hutangku sama Bu Martini sudah lebih dari 3 juta. Kapan kita bisa bayar?”
“Itu sapinya dijual saja, Ma. Tidak masalah.”
“Nanti kita ternak apa, Pak?”
“Besok Bapak cari sapi yang baru lagi.”
Istri Ustad Basith menurut. Sapinya dijual. Namun pikirannya sedikit terusik dengan pernyataan suaminya itu. Karena setahu dia, Ustad Basith tidak bekerja dan tidak memiliki usaha apapun. Sementara sapi yang dijualnya adalah hewan ternaknya yang dia miliki satu-satunya.
“Pak, sapi kita kemaren kan sudah mama jual dan laku 4 juta. Sekarang uangnya sudah habis lagi buat beli makan keluarga kita.”
Kan masih ada ladang kita dua kotak itu, Ma. Mama jual saja satu, tidak apa-apa.”
Istri Ustad Basith semakin khawatir. Sapi dan ladangnya sudah dia jual. Setelah itu dia tidak memiliki apa-apa lagi selain rumah dan sekotak ladang yang menyatu dengan pekarangan rumahnya. Sementara Ustad Basith, bukannya mulai bekerja untuk memberi makan keluarga, malah semakin gila dengan agamanya. Dia semakin rajin beribadah, bahkan terkadang hanya pulang 2 hari sekali untuk melihat keadaan rumahnya yang sebenarnya dalam pandangan orang normal sudah terlihat memprihatinkan itu.
“Pak, ladang kita laku 3 juta. Sekarang kita tidak punya apa-apa lagi selain rumah dan pekarangan.”
“Alhamdulillah. Syukurilah apa adanya.” Balasnya enteng dan tampak bernada biasa saja.
***
Tiga tahun berlalu. Eko dan Pak Irfan sudah kaya raya di pulau seberang. Sementara di keluarga Ustad Basith tersebar kabar bahwa istrinya selingkuh. Hal itu dilihat dengan mata beliau sendiri ketika pada suatu malam, sekitar jam 23:00, beliau pulang ke rumah dan mendapati istri beliau tidur dengan lelaki lain.
Seminggu kemudian, masyarakat dikagetkan dengan peristiwa tak terduga. Ustadz Basith mengajak Tomo, selingkuhan istrinya, untuk bertarung adu bacok menggunakan celurit di halaman rumah kepala dusun.
“Allahu Akbar…. Allahu Akbar.”
Ustad Basit bertakbir dengan tubuh gemetar, sebelum akhirnya membacok dan mengenai tubuh Tomo. Namun beruntung tidak terlalu parah. Kemudian beliau diboyong oleh kepala desa ke kantor polisi dan dihukum penjara.
Konon, beberapa bulan setelah peristiwa itu dan Ustad Basith dibebaskan dari penjara, istri Ustad Basith dicerai dan kawin dengan Tomo, selingkungannya. Sementara itu, Ustad Basith menutupi rasa malunya dengan pergi merantau ke pulau Kalimantan. Sampai bertahun-tahun tanpa kabar.[]
Yogyakarta, Maret 2017

  • view 109