Kesalahpahaman Affin Nur Fariha tentang Poligami

Ali Munir S.
Karya Ali Munir S. Kategori Agama
dipublikasikan 05 Desember 2017
Kesalahpahaman Affin Nur Fariha tentang Poligami

Membaca tulisan Affin pada laman Qureta.com membuat saya berpikir ulang, tentang pernyataannya bahwa poligami dalam teks islam masa silam hanyalah legitimasi untuk dominitas kaum laki-laki yang tidak lagi konteks dengan zaman sekarang.

Poligami dalam islam ada dasarnya sendiri, yang dimaksudkan untuk membela dan melindungi para kaum perempuan. Pasalnya, perempuan adalah mahluk yang lemah lembut, yang rentan dengan ketidakmampuan bekerja keras sebagaimana yang dilakukan kaum laki-laki. Pada masa Rosulullah, Rosul sendiri poligami yang bahkan lebih dari 4 orang. Khadijah, istri pertamanya, adalah seorang janda yang kaya raya. Pernikahan itu beliau maksudkan untuk jaringan dagang dalam mengembangkan dakwah islam. Selain itu, Rosul memiliki empati terhadap nasib janda siti Khadijah. Kemudian, Siti Aisyah, istri Rosul yang ke sekian. Dia adalah sosok perempuan umur 7 tahun yang yatim. Dengan demikian jelas, bahwa tujuan Rosul menikahinya adalah untuk membela dan melindungi hidupnya.

Rosul poligami bukan untuk kepuasan fisik atau seksual. Tapi lebih pada empati kemanusiaan. Di zaman sekarang, kita dapat melihat di kampus misalnya, lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Maka dari itu, bila satu laki-laki hanya mengawini satu perempuan, berapa perempuan yang terlantar? Dan bahkan janda?

Justru yang salah adalah seorang lelaki yang kawin dengan satu perempuan, tapi gonta ganti. Semacam dalam dunia pacaran yang dilegitimasi kaprah hari ini. Bukankah lebih baik kawin dengan banyak perempuan, tapi tak ada yang ditinggalkan? Saya takut nanti orang-orang perempuan pada ramai nyanyi lagu "Ditinggal Rabi" semua bila lelaki tidak poligami. 

Membaca tulisan Affin, saya kira dia berangkat dari ego diri. Dia belum mampu keluar menjadi di luar dirinya dan belum menjadi orang lain. Bahkan alam. Bila seseorang berangkat dari ego, tanpa melihat world view (pandangan dunia), maka dia akan kontras dengan apa yang ada di luar dirinya. Termasuk kontras dengan laki-laki. Sekalipun tujuan si lelaki baik dalam pandangan agama. 

Cinta adalah ego. Perasaan adalah ego. Tapi logika adalah realitas. Bahwa bila lelaki tidak poligami, akan banyak sekali perempuan yang terlantar.

Soal pernyataan "Perempuan dinomorduakan", saya kira ini persoalan takdir biologis. Bahwa lelaki ditakdirkan menjadi sosok pemimpin yang tegas. Beberapa perempuan menjadi pemimpin, iya. Tapi mayoritas lelaki jelas menjadi pemimpin di bumi ini. Di berbagai ruang, termasuk keluarga. Kesetaraan secara konstruksi sosial budaya, tidak masalah. Tapi konstruksi biologis tidak memungkinkan. Karena itu adalah kodrat Tuhan. Apakah Tuhan tidak adil? Bukan. Justru Tuhan begitu adil dengan dibolehkannya poligami. Karena dengan demikian, semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bersuami yang jumlahnya limited edition. 

Saya kira tidak masalah soal poligami, asalkan bertanggungjawab. Tidak perlu kita mengusik pligami orang lain, apalagi kita sendiri belum merasakan poligami ataupun dipoligami. Termasuk si Affin, dia berangkat dari empati ego. Bukan pengalaman.

Dari tulisan ini, saya harap Affin belajar lagi soal agama dan kemanusiaan. Jangan sembarang hal ditelan tanpa lerai. Semoga lebih baik. 

  • view 252