Di Balik Alam yang Tidak Lagi Seimbang

Ali Munir S.
Karya Ali Munir S. Kategori Renungan
dipublikasikan 28 November 2017
Di Balik Alam yang Tidak Lagi Seimbang

Beberapa hari ini hujan turun terus menerus di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Akibatnya banjir dan longsor tak terbendung di beberapa daerah, seperti Gunungkidul dan Bantul. Banjir terjadi karena ketidak seimbangan alam, dimana hujan turun tidak secara teratur. Sebagaimana pada musim panas yang sangat menyengat kulit ke dalam. Dan bahkan orang-orang takut untuk pergi ke luar.

Fenomena alam yang sedang terjadi saat ii tidak bisa dipisahkan dari campur tangan manusia. Karena sudah jelas, musim yang tidak teratur bermula pada dicetuskannya Revolusi Industri di negara barat beberapa abad silam. Industri menciptakan kotoran atau polusi udara yang bisa membuat lapisan Ozon semakin tipis. Bila lapisan Ozon menipis, maka sinar matahari semakin panas menuju bumi. Sinar matahari yang semakin panas memudahkan es kutub bumi mencair menuju laut. Dan laut pun semakin naik, sementara daratan semakin tenggelam. Semua itu sudah terbukti bahwa rata-rata daratan Indonesia semakin sempit, sementara laut mendekat ke daratan. Di Arab Saudi, banjir sudah mulai datang dan hujan es sudah turun. 

Dalam perjalanannya, proyek industri melibatkan beberapa solusi untuk meminimalisir dampak buruk terhadap lingkungan. Semisal penghijauan, dan lain sebagainya. Tetapi solusi yang ada tidak berimbang dengan masalah yang dilahirkan. Akibatnya, cuaca di bumi semakin rusak. Tentu hal tersebut menjadi peringatan bagi kita, agar senantiasa sadar akan bahaya industri, di samping manfaatnya yang tidak kalah mengesankan. Tapi industri bukan satu-satunya tujuan kebahagiaan hidup kita.

Saya kira kita semua tahu bahwa berjalan kaki adalah aktivitas yang menyehatkan, di samping hemat energi dan biaya. Maka dari itu alangkah lebih baiknya, jika hanya dalam jarak yang dekat, kita tidak perlu memakai transportasi berbahan bakar atau mesin. Karena jelas mengotori cuaca di bumi, di samping asapnya yang membahayakan pula. Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan sebaiknya ditingkatkan. Semisal bersih-bersih sampah di jalan, kemudian dibakar. Menanam pohon juga bagian dari wujud kepedulian terhadap lingkungan yang berkelanjutan. Karena selain sebagai penghijauan, pohon juga bisa dimanfaatkan buah dan batangnya di masa yang akan datang.

Bagi saya, nalar kebersihan adalah kebutuhan yang esensial. Tetapi banyak sekali dari kita yang mengartikan kebersihan dalam arti sempit. Semisal berpakaian rapi dan bersih di ruang yang ber-AC. Itu nalar yang salah. Kenapa? Karena ruang ber-AC lebih berbahaya dari pada baju dan kamar kita yang (kelihatan) kotor. Tingkat kekotoran ini yang harus kita perhatikan. Kotor biasa itu lebih baik dari pada yang bersih tapi berbahaya. Perlu kita sadar bahwa kita yang suka ruang ber-AC sudah jelas malas untuk membersihkan lingkungan alam di luar ruang ber-AC. Halaman, misal. Atau sungai yang kotoran atau limbahnya berasal dari ruang ber-AC. Marilah kita belajar berpikir panjang, jangan menyempitkan diri. Jangan menyelamatkan diri dengan berpandangan pada ruang yang nyaman saja. Karena bila pikiran kita tidak terbuka, maka kehancuran datang tanpa kelihatan. Semua itu karena ketidakpedulian kita terhadap alam di luar kita.

Mari kita pungut dan sapu sampah, letakkan pada tempatnya. Kemudian bakarlah! Mari sayangi tempat hidup kita, hijaukan dan sejukkanlah! Sungguh Allah tidak akan mencelakakan manusia selain sebagai peringatan. Semoga alam ini menyadarkan kita semua, bahwa alam adalah inti kehidupan.

  • view 125