IKHLAS SEDUHAN KOPI

Alil Fabregas
Karya Alil Fabregas Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Oktober 2017
IKHLAS SEDUHAN KOPI



Ucapan syukur yang sering kita lafalkan, selain kepada Tuhan, juga sering tersampaikan melalui lingkungan sekitar kita. Semakin modernnya kehidupan, rasa syukur itu bergeser pula seiring perkembangannya zaman . Ada media sosial sebagai lahan ekspresi syukur kita.

Ucapan syukur di medsos, sebut saja facebook. Itu ibarat kita sedang membuat secangkir kopi untuk "tamu" kita. Mulai dari menuang kopi di cangkir, hingga menghidangkan kopi tersebut untuk diseduh. Kita telah membuat kopi terenak yang siap disajikan dan dinikmati tamu kita.

Satu hal yang harus kita pahami bahwa, kopi buatan kita harus siap dinikmati dengan cara dan penilaian rasa apapun. Tamu kita bisa saja menilainya dengan senyuman, bisa jadi kopinya manis, atau terpaksa senyum dikarenakan menghargai buatan kopi anda.

Ekspresi rasa manis, pahit, enak atau tidak enak itu harus kita benar-benar tanggung. Karena kitalah yang membuat kopinya, jadi kitalah yang menjadi sasarannya.

Begitu juga mengekspresikan syukur kita di media sosial. Walaupun kita bersyukur telah memiliki sesuatu yang selama ini kita nantikan, kita harus siap menanggung luka yang bisa jadi orang lain sampaikan dalam komentarnya.

Terkadang kita upload barang yang selama ini kita tunggu-tunggu dan impikan, pasti ada saja yang komentar. Kita beli sepatu, kadang ada saja yang merasa terinjak-injak. Kita beli kulkas, ada saja yang menggigil. Beli kipas angin, seolah-olah kepanasan. Bahkan, kita unggah test pack yang notabene darah daging kita, ada saja yang haus darah mirip Sumanto. Iri dan dengki selalu menyelimuti jiwa manusia.

Jadi, biarkan saja ekspresi orang seperti apa. Seperti menyeduh kopi tadi, kita ikhlas menuangkannya, terserah orang -tamu- bagaimana cara menikmatinya.

Selamat malam, ayok ngopi....

  • view 189