Islam Dibajak; Mereka Gembira, Kita Sengsara

Alil Fabregas
Karya Alil Fabregas Kategori Politik
dipublikasikan 15 November 2016
Islam Dibajak; Mereka Gembira, Kita Sengsara

Ada kejadian aneh semalam di bentang karya milik kakanda saya, Zuckerberg. Yah facebook buatannya terlihat aneh nan lucu. Sebuah postingan milik lembaga pemuda islam mengutuk keras perbuatan keji tak beradab. Aksi pemboman di Gereja Oikumene Samarinda yang memakan 4 korban anak kecil, dan salah satunya adik kita bernama Intan telah tenang dalam pangkuan Tuhannya. Lagi-lagi atasnama jihad demi Islamlah sang pembunuh melakukannya. Miris...

“Membajak agama sebagai ideologi teror adalah upaya membunuh eksistensi agama itu sendiri yang mengajarkan keselamatan dan kedamaian. Mereka yang berada dibalik aksi ini pantas mendapat hukuman yang berat” imbuh organisasi yang diketuai oleh Dahnil Anzar Simanjuntak tersebut. Seraya bertanya pada diri saya sendiri, sekejam dan seradikal itukah pelaku bom Samarinda dalam merayakan eksistensi ajarannya? Karena berbeda agama apakah harus begini caranya? Surgakah untuk pelakunya? Nerakakah untuk para korbannya? Tuhanlah yang tau, Sang pemilik singgasana.

Tidak sampai disitu saja, aneh nan lucunya ada pada komentar teratas milik seorang akun yang ucapannya kira-kira begini;” Awass..Pengalihan isu kasus AHOK bang, jangan terpengaruh dulu, ulama kita sedang diadu domba oleh mereka”. Saya bertanya kepada jin penjaga saya, ehh bertanya pada sahabat saya. Bagaimana kerangka dan cara berpikir pengomentar tersebut? Dia punya pemikirannya yang begitu luas atau cara berpikirnya sangat sempit? Hanya dia dan bossnya yang mengerti.

Lagi, lagi dan lagi karena politik, kemarin kasus hukum Ahok yang memaksakan kaitan antar agama dan politik, kini wujud terorisme yang dikaitkan dengan Islam, dan sekarang mereka—sosok aktor intelektual--menghubungkan teror ini sebagai pengalihan isu dari kasus sang penista agama. Cerdas sekali mereka itu, dia tengah bergembira, kita-kita yang sengsara. Dan banyak masyarakat termakan racun para aktor itu. Mereka berpikir bahwa nampaknya kasus bom ini benar juga, pengalihan isu saja. Lalu setelah berpikir, mereka mengoceh habis-habisan di media sosial dan mengatakan jangan mau termakan kasus teror-menteror itu, itu hanya pengalihan isu saja, supaya kita lupa dengan problem ahok hari ini yang sedang gelar perkara. Sekejam itukah para aktor melakukan perbuatannya?

Padahal faktanya mereka-mereka yang mengatakan ini pengalihan isu adalah korban dari adudomba para aktor. Bukan malah mengatakan orang lain yang terbuai kasus ini jangan mau diadu domba.

Seharusnya pendapat masyarakat linear dan sepakat atas penolakan pencatutan agama dalam aksi teror keji tak manusiawi tersebut. Mengutuk dan sepakat atas hukuman seberat-beratnya bagi pelaku teror. Bukan malah mengatakan kasus ini adalah pengalihan isu kasus Ahok? Sekali lagi, terletak dimanakah hati nurani mereka? Jangan-jangan di siku. Hehehe tidaklah, mereka menempatkannya di hati, tetapi agak telat dan belum terlambat mengatakan bahwa tragedi ini adalah tragedi kemanusiaan.

Titik beratnya ada pada kita ummat islam Indonesia, terlalu mudah kita dipropaganda dengan tragedi yang beginian. Kita terjebak dan bahkan menikmati kondisi yang sekarang ini. Kita lupa bahwa kita belum sejahtera secara lahir bathin. Kita lupa bahwa kita harus rajin bercermin, intropeksi kepribadian, dan menghormati perbedaan. Seperti ucapan Gus Mus, “Gunakanlah dua cermin. Satu cermin untuk melihat kekuranganmu; satunya lagi untuk melihat kelebihan orang lain”. Akhirnya saya terkenang oleh sosok Dalai Lama, dia berkata seperti ini “Tujuan agama adalah untuk mengoreksi diri sendiri, bukan mengoreksi orang lain”.

Lalu bagaimana dengan ulama Mesir yang datang sebagai saksi ahli dari terlapor, saudara Ahok? Apakah Ahok tak menghargai kredibilitas para ulama asli Indonesia? Hanya Ahok, tim sukses, dan pemilihnyalah yang tau. Saya? No Comment,

  • view 428

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    1 tahun yang lalu.
    Aduh mimin paling benci adu domba.

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    tulisan ini harusnya bikin sedih. tapi ada lucunya!

    • Lihat 5 Respon