Televisi, Antara ‘Menyehatkan’ atau ‘Membunuh’ (Let's Literate Our Self)

Alifta Resyfa R
Karya Alifta Resyfa R Kategori Lainnya
dipublikasikan 12 November 2016
Televisi, Antara ‘Menyehatkan’ atau ‘Membunuh’ (Let's Literate Our Self)

Kehadiran televisi sekarang ini, memang patut diperhitungkan. Pasalnya, televisi telah memberikan banyak sekali dampak terhadap masyarakat terutama dampak negatif, yang nantinya bukan tidak mungkin akan berpengaruh terhadap pemikiran dan perilakunya di kehidupan sehari-hari. Apalagi, televisi adalah media yang paling banyak diakses oleh masyarakat. Sehingga, pengaruh dari televisi sudah pasti akan melekat di dalam diri masyarakat, baik itu orang dewasa, remaja bahkan anak-anak pun pasti akan menerima pengaruh dari televisi. Untuk itulah diperlukan keterampilan dalam media literasi, terutama terhadap televisi, agar masyarakat bisa memilih dan memilah program acara televisi mana yang layak atau tidak layak untuk ditonton.

Berbicara mengenai media literasi, mungkin belum banyak orang yang mengetahui apa itu media literasi. Definisi dari media literasi adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan media. Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa fokus utamanya adalah berkaitan dengan isi pesan media. Jadi, dalam hal ini masyarakat harus memiliki kemampuan dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan dalam media televisi.

Dapat kita ketahui dan lihat sendiri, bahwa tayangan-tayangan yang beredar di televisi sudah tidak sehat lagi dan sangat tidak layak untuk ditonton serta jauh dari kata edukatif. Seperti contohnya adalah tayangan yang kerap kali menampilkan kekerasan fisik dan verbal yang biasa seringkali kita jumpai di dalam sinetron dan acara-acara komedi. Mengejek, mengumpat, memaki-maki, memukul, menampar dan mendorong seseorang adalah kekerasan yang paling sering ditampilkan di dalam acara-acara tersebut. Sehingga, bagi masyarakat yang masih minim pengetahuannya tentang media literasi, pastilah akan dengan mudahnya menerima dan pada akhirnya mereka terapkan di kehidupan mereka. Para pemain, kru, bahkan pihak stasiun televisi yang menayangkan acara-acara tersebut pun seolah-olah tidak peduli dan menganggap hal tersebut adalah biasa dan bahkan perlu untuk ditampilkan, hanya demi mendapatkan perhatian dari penonton, yang dimana jika sudah banyak masyarakat yang tertarik untuk menonton acara-acara tersebut, maka sudah bisa dipastikan acara-acara tersebut akan mendapatkan rating yang lebih tinggi, dan juga nantinya stasiun televisi yang menayangkan acara tersebut akan semakin populer dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka tidak memikirkan jika acara tersebut nantinya tidak hanya ditonton oleh orang dewasa saja, melainkan remaja dan anak-anak. Tentu pengaruhnya akan lebih besar dan kuat, jika mereka tidak didampingi dan diberi arahan oleh orang dewasa saat menonton televisi. Mengingat pada usia tersebut, pikiran mereka masih rentan terhadap pengaruh dari lingkungan luar. Sehingga apa saja informasi yang mereka lihat dan terima, pasti akan langsung melekat di dalam otak mereka tanpa menyaringnya terlebih dahulu, yang kemudian setelah itu mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Selain acara komedi dan sinetron, tayangan televisi lain yang sangat perlu diperhatikan dan diawasi pada pesan-pesan yang disampaikannya adalah acara-acara yang menampilkan hal-hal yang berbau mistis, reality show yang terlalu dilebih-lebihkan dan mengandung banyak konflik, film kartun yang masih menampilkan adegan kekerasan, sehingga anak-anak masih perlu diawasi dalam menonton film kartun, serta infotainment yang dimana selalu mengulik kehidupan pribadi artis sehingga mendorong masyarakat untuk bergunjing mengenai kehidupan si artis tersebut dan bahkan akan menimbulkan rasa iri dan rendah diri bagi masyarakat menengah ke bawah jika apa yang diberitakan oleh infotainment kebanyakan adalah tentang kehidupan mewah dari si artis tersebut.

Oleh sebab itulah, saatnya kita mulai belajar memahami dan memiliki keahlian untuk bermedia literasi yang kemudian nantinya kita terapkan kepada keluarga kita, terutama anak-anak yang masih sangat di bawah umur atau yang sudah beranjak remaja. Karena mereka adalah objek utama dan salah satu yang paling dekat dengan kita, untuk dijadikan sasaran dalam melakukan media literasi.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar media literasi yang dilakukan di rumah dapat memberikan hasil yang positif bagi keluarga, yaitu:
1. Dampingi anak ketika ia sedang menonton televisi dan beri mereka penjelasan dan nasehat ketika mereka melihat sesuatu yang negatif atau belum mereka mengerti yang muncul di layar televisi.
2. Membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan kreatif yang bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari televisi.
3. Membuat jadwal menonton televisi
4. Jangan menaruh televisi di dalam kamar anak, karena membuat si anak jadi lebih sering menonton televisi.
5. Berikan buku bacaan yang menarik agar anak-anak jadi lebih sering membaca dan mengurangi porsi menonton televisi.

 

  • view 211