Welcome back to the jungle

alif
Karya alif  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Mei 2018
Welcome back to the jungle

Setelah sekian lama vakum dari travelling, akhirnya Dia melakukan perjalannya lagi. 

Tanggal 1 bulan Mei diawali dengan perjalanan mencari ketenangan di curug (air terjun). 

Dia memang menyukai curug  dari pada pantai. alasannya sederhana, karena air pegunungan lebih menyegarkan daripada air laut. simponi air yang jatuh dari ketinggian pun tidak kalah menarik dari dentuman ombak yang menabrak karang. memang tidak semua curug menawarkan sebuah ketentraman, ataupun kejernihan air yang menyegarkan. 

Dia sudah banyak pergi ke berbagai curug yang berada di Sukabumi, dan tak jarang harus kecewa dengan kenyataan yang tak sesuai dengan ekspektasi. 

kali ini berawal dari foto profil temannya, akhirnya dia membuat sebuah rencana (plan). kemudian mencari teman untuk traveling, karena sendiri tak pernah menyenangkan (patner), jika patner sudah setuju dengan rencana yang kita buat dan mungkin bisa ditambahkan beberapa masukan, step terakhir adalah eksekusi. Eksekusi tidak terpaku pada rencana. rencana adalah gambaran kasar dan bukan sebuah acuan mutlak. jadi jika ada hal yang dluar dugaan kita harus lebih fleksibel. 

kamu pasti akan merasa kesal saat traveling dengan rundown dari pemandu wisata, maka dari itu, menjadi seorang backpaker lebih menyenangkan dan lebih banyak hal terduga yang bisa kita temukan. 

Tempat yang dia kunjungi memang belum seterkenal puncak darma. saat kamu melewati jalan alternatif loji yang baru dan melewati jembatan besar maka akan ada spanduk bertuliskan curug larangan di sebelah kiri. memang jalannya masih jelek untuk sampai ke curug, kamu akan berfikir bahwa apakah kita sudah berada di jalan yang benar atau tidak. tapi saat memasuki perkampungan warga , itulah tanda bahwa tempat yang dituju telah dekat.

yang menarik dari perjalanan menuju curug adalah, kita harus menyusuri hutan, berjalan terus sampai kita menemukan curug yang kita cari. itulah yang dia suka dari pencarian curug. tanpa sadar pula terkadang kita sudah mendonorkan banyak darah untuk nyamuk bahkan lintah. 

sesampainya ditempat tujuan, bukan main senangnya. kini dia bisa berteriak sekencangnya karena di tempat tersebut hanya dia, temannya dan seorang bapak yang ditemuinya di jalan saat mengambil kayu bakar di hutan. suasananya sangat sejuk, hatinya sumbringah, burung-burung bernyayi merdu, temannya segera merekam keadaan sekitar, mengabadikannya di handphone sementara dia mengambil sabun muka dan mulai membersihkan wajahnya yang bernyinyak. 

“wwooohhhh !!” dingin sekali. dia berteriak puas. merasakan betapa nikmat saat kulitnya bisa merasakan kesegaran yang sudah lama dia cari. 

ini trip yang asik, mereka melompat, mereka bergaya mereka mengamati sekeliling dan melepaskan pakaiannya untuk melompat ke air sambil berteriak yippi atau meniru patrick dengan berteriak “bola meriam!!” rasanya lebih menyenangkan bila banyak teman lagi yang ikut. itulah yang ada dalam fikirannya saat itu. 

“kenapa dinamakan curug larangan ?” kata temannya yang bertanya pada bapak yang berniat mencari kayu bakar 

“duka atuh” jawab bapak itu dengan bahasa sunda yang artinya “nggak tau” 

bisa jadi mengapa di beri nama curug larangan karena ada banyak larangan yang ada di tempat tersebut hanya saja tidak tertulis seperti “dilarang  buang sampah sembarang, dilarang pacaran apalagi zina, dilarang tenggelam, dilarang merusak tanaman, dilarang bawa kulkas, dilarang makan batu, dilarang berkata kasar atau menyebut-nyebut nama mantan, dan dilarang-dilarang lainnya yang rasanya tidak perlu disebutkan karena ini hanya gurauan. 

sekitar pukul10, wisatawan yang lain mulai datang, tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama setelah merasa puas, jangan menungu kulit sampai keriput dan tak perlu juga rasanya menunggu jodoh sampai datang. ini bukan FTV dengan judul “jodohku jatuh dari air terjun” atau “air terjun perjodohan” tidak – tidak – tidak mungkin. maka pulang adalah hal yang lebih baik dilakukan bagi mereka ketimbang harus menghabiskan waktu dengan memikirkan kita ngpain lagi ya ?. 

dia sudah belajar banyak hal dari perjalanan yang dilakukanya ditahun 2017. setiap trip yang dilakukannya selalu mengejar target banyak tempat. namun tidak ada kepuasan dari perjalanan itu, hanya lelah yang di dapat dan foto yang memenuhi galeri, kemudian tak jarang juga dengan trip yang seperti itu kita membohongi diri sendiri, memberi kesan palsu yang di tulis pada caption instagram.  bukan like orang lain yang ingin dicari seorang traveler, tapi like yang muncul dari hatinya sebagai apresiasi atas dirinya sendiri terhadap perjalan yang dilakukannya. tuhkan ? kata-katanya mulai membigungkan dan ngaco ! 

baginya sekarang bukan tentang kuantitas, melainkan kualitas. 1 tempat berkesan cukup untuk memuaskan hatinya, bukan untuk memuaskan hasratnya untuk persediaan upload di instagram. 

sampai jumpa pada cerita perjalanan si lelaki biasa berikutnya atau pada kisah flashbacknya yang insyaallah menginspirasi. 

  • view 45