Untuk Adikku yang Kucintai

alifia rima (klarkoin)
Karya alifia rima (klarkoin) Kategori Puisi
dipublikasikan 11 Mei 2016
Untuk Adikku yang Kucintai

Teruntuk adikku yang kucintai

Entah apa yang akan ada dipikiran jutaan kakak di dunia ini

Yang terpenting adalah kakak akan selalu berusaha jadi yang terbaik

Kakak juga tak akan mencoba melacak apa yang ada di pikiran jutaan adik di dunia ini

Beberapa tahun silam Tuhan menakdirkanku lahir sebagai anak pertama bagi orang tua kita

Masa demi masa aku tumbuh di rumah kita yang hangat

Aku selalu bahagia saat orang tua kita memelukku penuh kasih

Ketika memasuki sekolah pertamaku, aku merasakan hal yang berbeda

Ah, ternyata satu persatu temanku telah mempunyai adik

Adik? Aku mulai berpikir tentang hal menyenangkan yang mungkin akan kita lakukan bersama di rumah

Bukan sekedar teman di sekolah

Suatu hari yang tak pernah kusangka-sangka, kudapati ibu telah melahirkanmu

Mungkin banyak orang termasuk diriku yang pastinya tidak dapat mengingat wajah mereka ketika bayi

Namun saat aku melihatmu, aku melihat diriku sendiri

Begitu senangnya aku kala itu, aku membelikanmu mainan-mainan bekas yang entah kamu dapat memainkannya atau tidak

Ah, lucu sekali memang

Karna kamu masih bayi!

Hari demi hari aku mulai mengajakmu bermain

Saat aku berselisih denganmu, aku selalu mengingat pesan ibu“ Kakak itu harus mengalah untuk adiknya”

Sejak itulah aku berusaha untuk selalu rela mengalah untukmu. Karna aku sadar aku adalah seorang kakak

Aku masih ingat saat-saat kau menjambaki rambutku dengan kuatnya. Kau kira itu adalah permainan paling menyenangkan bagimu,

dan aku hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit, mencoba tetap tersenyum dalam hati karena telah berhasil membuatmu senang

Biarlah, biar seperti itu masa kecil kita yang indah

 

Di suatu masa saat kau beranjak dewasa, aku melihatmu sibuk dengan hiruk pikuk duniamu sendiri

Kau kira proses belajar itu benar-benar menyulitkan

Namun itu benar, karena kesuksesan takkan diraih dengan rasa malas

Saat kau melihat bagaimana usahaku demikian hasilnya, itu belum sempurna dik

Kamulah penyempurnanya

Sebagaimana rumah tempat kita mendekap orang tua kita,

Tempat kita berbagi berbagai hal, tawa, senyum, sedih, cinta dan harapan

 aku dan kamu adalah tiangnya

Kita bukanlah dua bangunan yang dibanding-bandingkan

Namun kita adalah dua tiang dalam satu bangunan yang sama

bagaimanapun kau menilaiku dengan rasamu, aku takkan berdiri sendiri

Saat aku berhasil mencapai sesuatu, maka aku inginkan kau mencapainya pula dengan lebih baik

Menumbuhkan kembali semangatmu seperti menyirami lagi berbagai tanaman di halaman rumah kita, betapa senangnya

Seperti kau tahu sebelumnya, saat aku melihatmu maka aku melihat diriku sendiri

Entah apakah jutaan kakak yang ada di dunia ini merasakan hal yang sama?

Berlaga layaknya superhero bagiku adalah suatu keharusan

Tapi tidak dik, ini adalah suatu kesungguhan

Karena aku sadar, suatu saat nanti dimana kefanaan dunia menghabisi kebahagiaan kita, saat rumah kita yang hangat kehilangan empunya,

maka pundakkulah tempat pertama kali kau bersandar di tengah  tangis

Beginilah aku dik,

Aku tak pernah berpikir untuk berjalan sesuai keinginanku sendiri

Aku selalu ingat bahwa dibalik bayanganku ada bayanganmu

Hanya orang tua kita dan kaulah yang menuntun hidupku

Seperti segala hal yang pertama, aku adalah patokan, tolak ukur, jalan, arah

Aku tak pernah memikirkan kesenanganku sendiri kecuali sedikit saja

Karena kutahu tugasku amat berat

Bebas namun terikat hanyalah resiko, tapi ini amanat

Tepatnya amanat dari Tuhan yang Maha adil

 

Dan aku akan selalu bersyukur

Atas kehidupan yang telah Dia limpahkan kepadaku

Yaitu menjadi bagian dari keluarga kita, dimana kutemui ibu,ayah, dan adik-adik yang luar biasa seperti dirimu

 

  • view 287