Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 5 Desember 2017   09:04 WIB
Kekuatan Tuhan II

 
Dan kini hasrat ingin kuliah kembali muncul di pikiran ku saat dua tahun terakhir ini lenyap entah ke mana perginya. Sekarang aku juga sudah menentukan mau kuliah di mana dan jurusan apa. Semoga Allah mengizinkan dan mempermudah segalanya.

Entah kenapa aku begitu berhasrat dalam pendidikan. Aku memang sangat bodoh dan tidak bisa apa-apa akibatnya terlalu banyak kesalahan yang kutorehkan setiap kali aku mencoba melangkah karenanya selalu ada penyesalan di penghujung nya dan aku tidak bisa memutar ulang semua yang telah terjadi, kecewa, marah, bahkan kadang aku merasa begitu putus asa dan tidak mau lagi mengambil tindakan atau bergerak maju, aku ingin diam saja dan tidur sepanjang hari. Rasanya nikmat sekali hidup seperti itu, tidak ada beban yang mesti menguras tenaga, aku hanya makan, nonton tv, dan tidur lagi setiap hari begitu, serasa hidup di surga. Tapi bagaimana bisa seperti itu? Sedang aku hidup sendiri. Sejak aku kelas 4 SD aku sudah ditinggal ayah, ayah dan ibuku berpisah entah apa masalahnya aku tidak tahu. Aku tidak mengerti apa yang orang dewasa pikirkan mengapa mereka begitu mudahnya menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati, apa mereka lupa atau memang sifat orang dewasa seperti itu-ingkar janji. Sampai aku pun harus kehilangan ibu, ibuku meninggal seminggu setelah lebaran kemarin, 2017, ibuku sakit parah sejak tahun 2015.

Januari, 2015, ibuku di rawat di rumah sakit PMI Bogor. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum akhirnya ibuku di bawa ke rumah sakit, di rumah hanya ada ponakan ku yang masih duduk di bangku MTs dan kakak perempuan ku yang ke dua. Awalnya mereka tidak ingin memberitahu ku mengenai ibuku yang terjatuh pingsan dan muntah darah sebelum akhirnya di bawa ke rumah sakit karena saat itu aku sedang melaksanakan Prakerin Di Cibinong. Mungkin mereka tidak ingin mengganggu kegiatan ku takut aku merasa khawatir dan tidak konsentrasi dalam belajar. Tapi rasanya itu tidak adil, bagaimana mungkin aku dapat tenang belajar sedang ibuku terbaring lemas mengeluh kesakitan. Sore nya sekitar jam 4 handphone ku berbunyi, ada pesan masuk-dari kakak ku, aku membacanya. Sontak aku merasa kaget bercampur sedih tidak percaya dengan yang apa yang terjadi. Yang aku tahu sebelum aku pergi Prakerin aku mendapati ibu masih sehat segar dan masih beraktifitas seperti biasanya tidak ada tanda-tanda ia akan sakit bahkan sampai sakit separah itu. Setelah aku tahu ibuku di bawa ke rumah sakit, aku langsung meminta izin kepada kepala bagian produksi di Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor aku menceritakan tentang kondisi ibuku saat itu dan ia mengerti, aku di beri izin tapi cuma hari itu doang.

Aku langsung bergegas pergi menuju rumah sakit naik angkutan umum, satu jam lebih aku di perjalanan perasaan ku masih bercampur sedih dan tidak karuan aku berdoa dalam hati semoga ibu baik-baik saja. sesampainya di rumah sakit aku langsung pergi minta data di mana ibuku di rawat. Pegawai tersebut memberitahu ibuku di rawat di kamar melati (aku lupa kamar nomor berapa) di lantai 3. Entah bagaimana perasaan ku saat itu, melihat ibuku terkulai lemas di ranjang dengan beberapa alat kesehatan menempel di tubuh ibuku, aku langsung memeluk ibuku yang tengah berbaring, aku tidak tahu apa aku harus menangis atau apa melihat ibuku seperti itu. Wajahnya begitu datar tidak ada raut senyum sekecil pun menyambut kedatanganku. Tapi aku bersyukur karena ibu sudah sadar dan keadaannya sudah agk baikan. Karena ibu mendapat kamar dengan kelas menengah ibu di rawat dengan pelayanan yang baik dan hari itu juga ibu sudah boleh pulang walau sebenarnya dokter menyarankan agar ibu dirawat dulu di rumah sakit satu atau dua hari sampai ibu benar-benar pulih. Aku tahu masalahnya apa, biaya yang lumayan besar yang menjadi alasan ibu harus langsung kami bawa pulang. Ada rasa kecewa di hatiku, aku tidak bisa bersama ibu dan mengantarnya pulang sampai rumah aku harus balik lagi ke Cibinong malam itu juga karena besoknya sudah harus masuk lagi ke kantor.

Sesekali aku minta izin untuk pulang menjenguk ibu di rumah. Alhamdulillah keadaannya semakin membaik.
Ibu sekarang sudah bahagia bersama tuhan. Aku tidak akan berhenti berdoa kepada Allah semoga ibu tenang di sana. Allahumaghfirlaha... alfatihah. Maafkan aku ibu gk sempat bahagiain ibu. Aku sekarang sudah besar bu, sudah bisa menjaga dan merawat diriku sendiri, sudah punya penghasilan sendiri, kemarin aku juga kredit motor bu tadinya aku ingin ajak ibu jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah, tapi aku tahu tempat yang ibu kunjungi saat ini jauh lebih indah dan nyaman. Aku janji aku akan jadi lelaki yang kuat, cintaku pada ibu takkan pernah hilang juga pada ayah aku akan menyayangi ayah walau ayah tidak pernah datang ke rumah aku akan tetap pergi ke rumah ayah untuk memastikan ayah baik-baik saja. Aku janji bu. Aku ingin ibu tetap tersenyum selamanya.

Aku sudah punya pilihan apakah aku akan kuliah atau tidak. Semoga Allah mengizinkan apa yang aku pilih dan memberi kemudahan untuk segalanya. Tidak ada yang bisa menahan atau pun menghentikan kehendak yang telah Engkau tetapkan. Sekalipun engkau tidak memberi jalan untukku atas apa yang menjadi keinginanku semoga aku bisa menerimanya dengan lapang dada, bukan tidak mungkin bahwa apa yang Allah pilih kan untukku adalah yang terbaik walau rasanya itu menyakitkan. Kuncinya adalah jangan pernah berhenti melangkah.

Man jadda wa jada.

Karya : muhamad alif