My Plan

muhamad alif
Karya muhamad alif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 November 2017
My Plan

Seperti kebanyakan manusia yang baru menyadari betapa pentingnya memiliki usaha sendiri setelah usia mereka terbilang cukup tua atau tidak muda lagi sampai umur mereka sekian dan dalam tempo yang sangat panjang. Aku tidak sedikitpun memberi kesan negatif pada jalan hidup mereka, status ku saat ini juga masih sebagai karyawan. Yang aku tidak mengerti adalah apa hidup mereka dihabiskan hanya untuk bekerja sebagai seorang karyawan? Yang sewaktu-waktu bisa saja perusahaan mem-PHK mereka karena kebanyakan perusahaan sekarang menerapkan sistem kontrak dalam mempekerjakan karyawan nya, akibatnya mereka yang sebelumnya bekerja dapat menganggur seketika ketika masa kontraknya habis. Melamar pekerjaan ke perusahaan lain merupakan rutinitas biasa bagi mereka, namun hal itu tidaklah mudah karena proses penerimaan pegawai baru yang begitu ketat dan ribet, ada yang harus melalui yayasan terlebih dahulu, lewat calo, dan parahnya itu tidak gratis. Mungkin kita akan berkata seperti ini, “saya mau kerja dan di bayar, bukan bayar untuk kerja.” Wajar kalau kita berpikiran seperti itu karena kita niat bekerja untuk di bayar. Kira-kira seperti itulah dunia kerja sekarang.

Mungkin aku punya pandangan yang berbeda dengan sebagian orang, sempat ada yang bilang begini padaku, “Wal, kenapa gak nyoba ngelamar ke pabrik atau perusahaan lain, sayang loh ijazah mu, di samping itu juga nanti kamu akan dapat banyak pengalaman juga teman yang banyak pula, atau bisa saja kamu dapat jodoh di sana.” Ya aku tahu itu nasihat tapi aku punya aturan hidup sendiri. Aku akan membahas perkataan orang tadi berdasarkan prinsip hidupku.
Yang aku lihat tentang dirinya, pertama, usia dia sudah tidak muda lagi sudah beristri dan memiliki anak. Dua, dia bekerja sebagai driver go-jek dan karyawan swasta sama denganku saat ini. Tiga, sempat dia berkata padaku bahwa dia ingin pindah dari pekerjaannya. Mengerti maksudnya? Begini, bagaimana mungkin setelah dia mendapatkan begitu banyak pengalaman dia masih ingin mencari pengalaman lagi dengan melamar ke perusahaan lain. Apa dia tidak bosan dengan kata pengalaman yang menurutku sudah bukan waktunya lagi untuknya mencari sebuah pengalaman baru? Seharusnya dia sudah dapat mempraktikkan atau menghasilkan dari pengalaman-pengalaman yang ia dapatkan. Misalnya membangun usaha sendiri. Nyatanya dia masih belum puas dengan pengalaman-pengalaman yang telah ia dapatkan atau karena dia tidak mampu memanfaatkan pengalamannya untuk menciptakan sebuah inovasi? Atau pengalamannya itu tidak memberikan sebuah pelajaran? Tapi aku tidak perlu membicarakannya lebih jauh lagi. Tidaklah sulit menilai orang dari cara dia berbicara.

Mari kita bahas perkataan orang tadi yang ia lontar kan padaku. Pertama, mengapa aku tidak bekerja di pabrik atau perusahaan lainnya? Bukannya aku tidak mau bekerja di perusahaan yang ia bilang besar tadi, tapi dari sekian banyak orang yang bekerja di sana, mereka bilang bekerja di sana itu pengalamannya minim. Maksudnya mereka yang bekerja di pabrik misalnya, hanya mendapatkan satu keahlian saja, seperti di bagian produksi, di bagian ini juga terpecah menjadi beberapa bagian lagi dan masing-masing orang memiliki satu tugas/pekerjaan jadi yang mereka kuasai hanya itu-itu saja mereka tidak mendapatkan pengalaman atau keahlian secara utuh. Menurutku itu membosankan. Kedua,dia berkata soal Ijazah? Hal ini yang membuatku semakin geli aku pikir Ijazah bukanlah alat untuk menjadikan kita budak di suatu perusahaan. Banyak pula yang berkata begini, kau harus sekolah setinggi mungkin agar nanti kau menjadi orang hebat dan mendapatkan jabatan yang tinggi. Biar bagaimanapun ungkapan itu adalah keliru. Kita sekolah bukan untuk mencari gelar Master atau Doktor, tanpa kita harapkan pun gelar itu akan kita dapatkan meskipun dalam penguasaan nya jauh dari gelar seorang doktor. Kalau pikiran kita hanya tertuju pada gelar dan jabatan saja selamanya kita tidak akan mengerti apa arti sesungguhnya dari kata gelar itu. Bukan gelar yang maha dahsyat, jabatan yang tinggi, pujian manusia, dan atau penghormatan yang menjadi tujuan dengan sekolah setinggi mungkin tapi, ilmu yang banyak dan manfaat yang dapat menghantarkan kita pada sifat rendah hati dan diri pada sang maha kuasa betapa ilmu Allah begitu luas yang pada akhirnya cinta dan tunduk kepada Allah semakin besar dan menggebu-gebu. Hal inilah yang seharusnya menjadi tujuan kita dalam mencari ilmu. Ketiga, mengenai teman dan jodoh. Tidaklah manusia hidup melainkan dalam sebuah komunitas yang saling membutuhkan satu sama lain, saling tolong-menolong, gotong-royong, dan bekerjasama. Begitulah konsep hidup, tidak akan tercipta kehidupan jika manusianya tidak bekerja bersama-sama. Aku tidak menyalahkan juga tidak membenarkan ucapan orang tadi karena memang manusia itu makhluk sosial. Tapi sayangnya, dia berkata seperti itu seolah apa yang aku jalani saat ini menjauhkan ku dari mendapatkan seorang teman atau pun jodoh. Aku sadari temanku memang tidak banyak, tapi aku merasa jauh lebih baik dengan keadaan ku yang seperti ini daripada aku punya banyak teman tapi aku selalu merasa sendiri. Memiliki satu teman tapi dia selalu ada jauh lebih berharga daripada banyak tapi tidak satupun yang mengertikan kita, rasanya seperti makan sop kambing tanpa bumbu. Lezat di dengar tapi hambar dirasa. Adapun jodoh, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan nya aku hanya punya satu keyakinan, tuhan sudah mempersiapkannya. Meskipun selalu saja ada perkataan yang keluar dengan nada sedikit menyindir. Kok tidak punya teman cewek? Kok tidak punya pacar? Aku akan seret orang yang berkata seperti itu-Hei kau, lihatlah kuburan itu! itu adalah kuburan seorang perempuan yang selalu menemani ku sampai ia berbaring di sana. Dia adalah ibuku, yang tidak se-detik pun pandangannya beralih dariku.

Untuk menjadi pribadi yang baik memang tidaklah mudah namun jangan kita lupa bahwa tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

(motivasi diri-berwirausaha)  :D

  • view 131