Wanita di Seberang Jalan

Alif Mauludi
Karya Alif Mauludi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Januari 2018
Wanita di Seberang Jalan

            Aku terbangun di sebuah ruangan bercat putih, di atas sebuah ranjang. Sepi, hening, tak ada siapapun disini. Sebuah jarum infus nampaknya telah tertancap di tanganku dalam waktu yang cukup lama. Aku sudah lupa alasan mengapa aku bisa ada di sini. Tubuhku terasa berat walaupun hanya untuk sekedar duduk.

Aku menolehkan pandanganku ke arah kiri, menuju jendela yang menghubungkanku dengan dunia luar. Jalanan cukup ramai kala kupandangi, namun ada satu titik yang mengharuskanku untuk terfokus padanya. Seorang wanita yang tengah duduk di seberang jalan. Aku tak tahu siapa dia, tapi entah mengapa wanita itu bisa tersenyum tepat ke arahku. Kubalas senyumnya, dan kucoba mengingat lagi memori yang berhubungan dengan wanita itu. Namun hasilnya percuma, tetap saja nihil.

            Bagaimanapun juga aku merasa kalau raut wajahnya cukup familiar. Kulitnya putih, bibirnya merah merona, dan matanya sangat indah. Rambutnya terurai hingga pundak, dengan balutan kemeja putih beserta celana jeans. Menjadikan tas kulit berwarna coklat yang sedang dipangkunya terasa cocok untuk dipadukan.

            Di tengah kesibukanku memandangi sosoknya, seseorang dengan jas putih masuk bersama dua orang lainnya. “Kau sudah sadar, Nak ?” tanya yang wanita. Entah siapa sosok ini, aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Membuatku bertanya, “Apa yang terjadi padaku ?” Orang berjas putih yang seingatku bernama dokter dengan sigap menjawab, “Anda baru saja mengalami kecelakaan. Sepertinya ini juga berpengaruh pada ingatan Anda.”

“Aku ibumu, Nak,” ujar orang yang menyapaku pertama kali. Kini tak usah disebutkan pun aku sudah bisa menduga pria yang berada di sampingnya adalah ayahku. Aku menolehkan kembali kepalaku menuju kiri jendela, menatap wanita itu kembali. “Ibu, siapa wanita yang duduk di kursi seberang itu ? Mengapa dia menatapku terus ?” ucapku memberikan tanya yang terjawab dengan, “Kami tak melihat apa-apa, Nak. Tak ada siapa pun yang duduk di seberang jalan.” Aneh, apa maksud ibu dan ayahku. Tak ada siapapun di antara mereka yang melihat wanita itu. Mungkinkah mereka berbohong. Apakah memang benar kalau sosok itu pernah kutemui sebelumnya. Entah mengapa, ada rasa cinta yang timbul di hatiku kala menatapnya. Aku tak tahu dia siapa tapi aku merasakan ada sebuah ikatan yang terjalin antara aku dan dirinya.

            Dokter lain memasuki ruangan beserta sebuah amplop berwarna coklat di tangannya, mengatakan, “Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Nyonya Jelita. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, dan kami rasa kami tidak bisa menolak takdir. Mungkin ini sudah waktunya dia pergi. Sekali lagi kami mohon maaf.”

Raut wajah kedua orang tuaku mendadak berubah, ibu mengeluarkan tetesan air mata, dan ayah yang mencoba melawan kesedihan dengan memeluk ibu. Aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi, “Siapa Jelita ? Mengapa ayah dan ibu bersedih ?” tanyaku. Ibu pun segera mengusap air matanya, menjawab, “Dia istrimu, Nak. Semalam kalian mengalami kecelakaan sepulang dari pesta pernikahan temanmu.”

Istri ? Aku ... aku punya istri ? “Antar aku menuju dirinya ! Aku ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya !” pintaku sembari terus merengek dan mencoba bangkit. Ibu dan ayah terus menahan tubuhku. Namun pada akhirnya mereka tak kuasa melihat kesedihanku.

Aku pun diantar menuju jenazah istriku dengan bantuan kursi roda. Dokter membuka kain yang menutupi tubuhnya, membuatku teringat pada semua hal yang telah aku pertanyakan sedari tadi. Dengan jelas, aku melihat sosok yang sama. Wanita di ujung seberang, dan wajah istriku yang telah kaku. Aku mencoba bangkit namun sulit rasanya. Entah bagaimana caranya kuluapkan perasaan ini. Kini aku tahu alasan mengapa dia tersenyum kepadaku, alasan mengapa aku merasakan hal yang berbeda kala menatapnya, dan alasan mengapa aku merasakan cinta terhadapnya.

            Semua ini berujung pada penyesalanku. Aku menyesali tindakanku semalam. Menghabiskan waktu di pesta dengan minuman haram. Menghardik istriku yang tengah melarangnya, dan berakibat pada hilangnya nyawa orang yang aku sayangi ini. Tak pernah kusangka kalau dia sesetia ini. Menungguku terbangun, tersenyum, dan menantiku walau kita sudah terpisah oleh dunia yang berbeda.

  • view 125