Ini Surat Dariku, yang Hanya Bisa Memandangmu dari Jauh

Alif Mauludi
Karya Alif Mauludi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Januari 2018
Ini Surat Dariku, yang Hanya Bisa Memandangmu dari Jauh

Mungkin hanya tembok di kamar yang bisa mendengar semua keluh kesahku. Aku nggak berharap banyak pada angin yang biasa mengantar rasa rinduku pada seseorang. Mungkin kali ini hanya Tuhan yang benar-benar bisa menjawab semua kemalanganku.

Aku hanyalah orang biasa yang hanya bisa memandangmu kala kita berpapasan di jalan. Waktu itu rasanya indah banget. Senyuman yang kamu berikan kala itu tak akan pernah akan aku lupakan.

Waktu terus berjalan. Perlahan aku mulai mencari tahu semua hal tentangmu. Sosial media, teman terdekat, semua sudah aku tanya. Aku nggak berharap kamu membalasnya. Tapi satu hal yang pasti, aku berjanji dengan diriku bahwa suatu hari nanti aku akan membuat komitmen denganmu. Menjagamu, melindungimu, semua adalah imajinasi yang selalu aku bayangkan sebelum aku terlelap.

Kita adalah dua insan yang tak pernah saling berujar. Jangankan di nyata, di dunia maya pun kita tak pernah saling menyapa. Yang aku tahu, kamu adalah orang yang bisa memegang teguh ajaran agamamu, dan itu sudah lebih dari cukup untuk melengkapi kekuranganku.

Perlahan sepertinya mimpi itu seakan nyata, kala kamu memberikanku sebuah tanda. Aku tidak menyangka bahwa Tuhan akan menjawab doaku. Semakin hari aku semakin bersemangat berdoa dan berusaha untuk menyempurnakan diri, karena aku tahu bahwa jodoh adalah cerminan diri.

Waktu terus berjalan dengan lama. Tanda itu sekan semakin nyata. Semuanya usaha sudah aku kerahkan bagi kebahagiaan kamu calon bidadariku. Aku tahu bahwa kamu pasti sedang menjaga hati untukku. Hingga ketika saat itu tiba aku mencoba mencari jawaban dari Dia yang maha membolak-balikkan hati.

Detik demi detik terus berjalan dan membuatku semakin bersemangat untuk datang ke rumahmu. Awalnya perasaanku bagaikan mentari, namun sebuah berita yang datang secara tiba-tiba membuatnya menjadi hujan deras disertai petir yang terus menyambar, kala telingaku mendengar kabar bahwa kau bermain hati dengan orang lain.

Rasanya seakan tidak mungkin. Tapi berita itu disampaikan oleh sahabat yang selama ini aku percaya, dan dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Pupus sudah semua harapanku. Penantian ini sia-sia. Entah butuh berapa lama waktu yang harus kuhabiskan untuk mencari penggantimu. Namun yang membuat hatiku bersedih, mengapa wanita yang sempurna sepertimu harus melakukan pengkhianatan ini. Mengapa engkau memberikan harapan kalau ujung-ujungnya akan pergi menjauh dari pandangan.

Dari kejadian ini aku belajar banyak. Bahwa tidak selamanya seseorang yang baik dari depan namun belum tentu di dalamnya. Aku benar-benar menyesali kebodohanku mengabiskan waktu hanya demi orang yang akan menyia-nyiakanku.

Mungkin hanya ini saja surat dariku, seorang pria yang hanya bisa memandangmu dari jauh. Seorang pria yang hanya bisa mengemis mengais cinta darimu. Dan seorang pria yang hanya bisa berharap bahwa jodoh memang pasti bertemu.

  • view 122