Sepasang Kekasih Yang (Tak) Waras

Nasrullah Alif
Karya Nasrullah Alif Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Desember 2017
Sepasang Kekasih Yang (Tak) Waras

Suara berisik di luar jendela masih saja terdengar hingga ke dalam ruangan itu. Padahal, ruangan itu berada di lantai 7 di apartemen tua di ujung kota. Kota yang menyebalkan. Kota ini bukanlah tempat yang cocok untuk kalian untuk berteman dengan sepi, atau kesunyian. Orang yang stress mungkin akan lebih stres karena tempat ini (maksudku kota) selalu berisik selama 1x24 jam, dan itu tanpa henti. Hampir terlewat, di dalam ruangan di lantai 7 itu terdapat seorang lelaki muda dengan pistol di atas meja yang sudah ia tatap sedari tadi. Sekitar setengah jam, atau mungkin saja lebih. Lelaki itu menatap kosong ke pistol, tanpa sekalipun melakukan apa-apa.

Sebenarnya yang ia lakukan tak hanya menatap kosong. Dia bolak-balik mengambil pistol, lalu melihatnya barang sebentar, dan akhirnya ditaruhnya kembali ke atas meja. Entah, ia mau bunuh diri atau tidak. Kalau orang lain, mungkin akan berpikir ia akan bunuh diri. Bunuh diri mungkin adalah tindakan seorang pengecut, tapi orang yang sudah kepalang ingin mengakhiri hidupnya lalu tak jadi mungkin lebih dari seorang pengecut. Labil. O tidak, mungkin tolol adalah kata yang tepat.

Lelaki itu bangkit lagi. Berjalan perlahan ia mendekati meja tempat pistol berada, sesaatnya sampai ke hadapan meja ia ambil pistol itu, lalu ia mengenggam erat pistol yang kini sudah ada di tangannya. Ia perhatikan pistol itu, lalu tampaknya kejadiannya akan berujung sama. Pistol itu ia taruh kembali di atas meja. Tetapi, saat tangannya itu hampir menaruh si pistol kembali ke atas meja, sang pistol langsung membentaknya dengan satu kata padat penuh emosi.

“Tolol!”

Lelaki muda itu langsung kaget dan membanting pistol ke tanah, dan pistol langsung mengumpat kesal (lagi).

“Brengsek, kau berani membanting aku? Hah!” Pistol tak hanya mengumpat, ia juga (seakan) mengajak bicara. Lelaki muda itu tampak bingung.

“Kampret, jawab pertanyaanku tadi. Eh, tepatnya umpatanku” Pistol membentak lagi.

“Berisik kau, bikin aku hampir mati karena kaget” Lelaki itu akhirnya bicara. Syukurlah, aku hampir bosan melihatnya diam seperti mulutnya tidak bisa dipergunakan bicara lagi.

“Baguslah jika kau mati. Bukannya kau ingin mati, hah?”

“Aku tidak bisa menjawabnya” Lelaki itu menjawab dengan dingin. Si pistol tambah kesel sendiri.

“Kalau kau tak mau mati, untuk apa membawa aku kemari? Kau pikir aku ini bodoh, ya? Sudah jelas, kau pergi ke apartemen tua di ujung kota, mencari lantai paling atas, dan kamar paling ujung yang sangat sepi. Ruangan ini juga kosong. Kalau bukan untuk cari mati, lalu untuk apa!” Pistol langsung membacot setelah ia diberikan jawaban dingin. Aku pun turut kesal sebenarnya. Lelaki pengecut, sudah begitu ia sangat menyebalkan.

Lelaki muda itu langsung tersulut amarah dengan ucapan pistol. Ia langsung mengambil pistol yang terbaring di atas tanah, menatapnya dengan penuh emosi, dan menarik pelatuknya.

“Kau ingin aku mati, kan? Itu yang kau mau, hah!” Lelaki balik menantang si pistol. Pistol hanya tersenyum menyeringai. Ia puas, akhirnya pancingannya berhasil.

“Ayo lakukan. Lakukan! Buat isi kepalamu pecah, berhamburan, berceceran dan mayatmu tergeletak disini ditemani otak hancurmu hingga busuk. Hahaha” Pistol makin memanasi.

Lelaki itu lekas menarik pemicu pistol. Pelan-pelan. Seiring dengan keringat dingin yang menetes, ia Tarik pemicu pistol hingga lelaki itu berteriak mengumpat.

“Sialan!” Lalu terdengar suara ‘dor’ panjang.

Darah merembes kemana-mana. Dan, sepertinya pistol akan (sedikit) puas.

---

Perempuan itu bilang, ia akan mencintai lelaki muda dengan setulus hatinya. Janji sehidup semati, menikah, punya anak, punya cucu, pergi haji, lalu hingga meninggal tenang dalam keadaan dikasihi satu sama lain. O bayangkan, siapa yang tak mau menjalani hidup begitu dengan kekasih hidupnya. Seorang lelaki setegar apapun dirinya, dengan kerasnya hidup yang pernah ia jalani, pasti akan meleleh dengan janji seperti itu. Yang kutahu, lelaki memang makhluk yang amat cengeng perihal perasaan. Sebaik apapun ia menyembunyikan.

Dan, lelaki muda itu adalah termasuk. Ia menjalani kisah asmaranya dengan biasa-biasa saja sebenarnya. Ia mencintai sang perempuan, dan perempuan mencintai lelaki. Cinta itu sebenarnya tumbuh sejak lama. Mereka teman sedari kecil, menjalani hidup bersama-sama dengan satu sekolah dan hidup bertetangga, dan akhirnya saat di penghujung akhir pendidikan kampus mereka saling menyatakan perasaan masing-masing. Ya, dan lalu mereka saling membuat janji yang amat persis dengan paragraf sebelumnya. Sederhana sekali, kan? Kisah mereka memang tak sehebat, atau seheroik Romeo-Juliet.

Tapi, dengan jahatnya seperti yang seringkali terjadi pada kisan roman picisan. Kalian justru kadang degan tega mengamini kisah-kisah cengeng utopis itu, lalu berharap menjalani kisah seperti itu. Sang perempuan dengan lancang pergi meninggalkan lelaki muda itu saat pernikahan sudah H-1. Menjijikan. Aku pun sampai muntah mendengar alasan dari perempuan itu.

“Aku bertemu dengan lelaki itu, dan aku jatuh cinta padanya. Kau tidak bisa paksakan aku dengan perasaan sepihakmu itu. Aku tak bisa menikah denganmu” Perempuan itu dengan tanpa tedeng aling-aling menyebutkan kalimat itu dengan sadar. Tololnya, perempuan itu berlagak sedih menangis seakan dialah orang yang paling menderita.

Tahukah kalian dengan film India berjudul Kuch Kuch Ho Ta Hai? Semacam itulah gaya perempuan itu. Mengaungkan alasan cinta untuk dapat berpaling kepada cinta yang lebih baru, dan tentunya segar. Sedara sekalian akan berkata seperti ini mungkin ; Ya sudahlah! Itu hak sang perempuan, perasaan tak boleh dipaksakan. Hahaha, aku hanya bisa tertawa melihat alasan klise seperti itu. Satu kata mungkin cocok untuk membalas itu ; Brengsek! Kalau kau tahu memang hatimu labil, lalu kau tidak bisa berkomitmen jangan berani jatuh hati! Jangan berani kau berikan harapan semu itu, mengumbarnya lalu dengan lantang bahwa kau akan menjadi nenek bersamanya. Kau pikir dengan alasan seperti itu, seseorang pantas untuk disakiti? Bah, enak sekali cakap kalian itu. Cinta itu masalah pendewasaan, Bung. Kau tak berani dewasa, maka jangan berani menyatakan itu.

Lalu, kau pikir hati lelaki itu tak tercerai-berai?

---

Darah itu muncrat kemana-mana, mengalir penuh di lantai itu hingga semuanya menjadi warna merah darah. Suara bising pistol itu tentu memang sangatlah kencang, tapi saat itu hanya lelaki muda itu yang mendengarnya kini. Apartemen itu sedang kosong. Sudah kuberitahu di paragraf paling atas, bukan? Pistol hanya bisa tercengang saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki muda frustasi tersebut itu ternyata tak membunuh dirinya sendiri. Sang pistol langsung sadar.

Kini yang terbaring dihadapan mereka adalah mayat seorang perempuan muda. Ya, perempuan muda itu adalah (mantan) kekasih sang lelaki muda. Ia dari tadi bersembunyi dibalik pintu, menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya kembali? Haha, jangan bodoh. Ini bukan kisah cerita Tere Liye. Perempuan itu menunggu waktu hingga lelaki itu tewas, atau ia yang akan membunuhnya. Lelaki itu sadar akan kehadiran perempuan jalang itu setelah pistol memancing amarahnya. Ia sadar dibalik pintu kamarnya berdiri (mantan) kekasihnya itu. Selepas ia berpura-pura untuk menembak kepalanya sendiri, dalam seperkian detik akhir pemicu ditekan, tangannya langsung bergerak cepat menembak ke arah pintu. Menembus pintu, dan tentu menembus perut perempuan itu.

Dalam helaan napas terakhir sang perempuan yang sekarat, pistol dan lelaki tertawa terbahak-bahak. Mereka puas. Akhinya mati juga sang antagonis sesungguhnya.

---

Aku lalu pergi meninggalkan mereka yang sedang puasnya tertawa terbahak-bahak. Aku sebenarnya agak menikmati, tapi tak semestinya terhanyut dalam kemenangan mereka. Itu bukan milikku. Setelah berjalan cukup lama menuruni tangga apartemen kosong itu, aku segera keluar melalui gerbang utama.

Sesaat sebelum benar-benar pergi aku melihat gerbang itu dengan jelas dahulu. Aku lupa, bangunan ini memang apartemen tapi sudah puluhan tahun lalu. Kini yang terpaampang di atas gerbang adalah tulisan :

RUMAH SAKIT JIWA INSAN WARAS.

Saat itu, giliranku yang tertawa terbahak-bahak.  

  • view 62