3 Kisah Dan Tuhan Yang Tersenyum

Nasrullah Alif
Karya Nasrullah Alif Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Oktober 2017
3 Kisah Dan Tuhan Yang Tersenyum

Sebenarnya aku bukan seorang yang ahli membicarakan tentang perasaan, atau semacamnya. Tidak sama sekali. Tapi, perihal rahasia Tuhan yang selalu bermain di takdir manusia itu aku percaya. Semisalnya begini, kalian pasti pernah membayangkan bahwa lelaki tampan, akan cocok dengan perempuan cantik pula. Pasti sering membayangkan seperti itu, bukan? Jangan bilang tidak. Itu munafik namanya. Tapi, semuanya kadang tidak sesuai dalam jangkauan ekpektasi. Terkadang manusia memang selalu rumit dengan jalan pemikiran mereka. Logika, kalau tak salah disebut seperti itu.

Sayangnya, logika tak bermain dalam masalah hubungan antar lawan jenis. Kalian yang masih menimbang pikiran, akal sehat, dan logika adalah pecundang payah yang bicara soal cinta. Ya, sebut saja begitu. Perempuan selalu membingungkan lelaki dengan senjata ampuhnya itu. Dan, sehebat lelaki memainkan logika akan luntur di hadapan perempuan. Tapi disatu sisi itu adalah hal yang sangat amat menarik bagiku. Lelaki, dan perempuan akan selalu terjebak dalam ruangan klasik bernama perasaan. Rasa. Dan, Tuhan (seperti yang kukatakan tadi) selalu bermain di dalam kisah-kisah romansa dalam dunia ini.

Anggaplah kita ini sepakat bahwa jodoh adalah bagian dari takdir yang tak terelakkan. Sama seperti kematian. Tak ada yang  bisa menebaknya. Seorang Rasul pun tak bisa mengetahui kapan ia akan dijemput oleh sang ajal, begitupun dengan perihal rasa (dalam kurung cinta) yang Tuhan selalu menempatkan itu dengan istimewa. Ada beberapa kisah yang mungkin asik untuk diperbincangkan dalam beberapa paragraf yang akan tersaji pada kali ini. O iya, jika terkesan mengada-ada itu hak kalian untuk menilai. Aku berpendapat, kalian menikmati, dan aku puas. Itu saja intinya. Jika tak puas, tak mengapa. Tak akan kupaksakan.
 
---
 
Kisah Pertama

Seorang pria bernama Dayat menyukai perempuan bernama Mila, mereka sepakat akan hal itu. Tak mengelak jika ada buaian-buaian yang ucap pujangga adalah kasmaran. Sayangnya mereka tak pernah bisa bersatu. Padahal, semua manusia di sekeliling mereka mendukung. Tak ada satu pun yang tidak mendukung. Entah bagaimana ceritanya, mereka malah sering bergonta-ganti pasangan. Seperti hewan di musim kawin. Aku tak menyudutkan, tapi faktanya mereka seperti itu. Aneh, mengaku cinta tapi berganti pasangan, lalu ujungnya menyalahkan takdir. Dan, akhirnya yang aku ketahui seperti ini ; mereka terperangkap, terseok waktu, lalu menggerutu. Menggerutui keadaan mungkin.

Tuhan hanya bisa tersenyum melihat keadaan mereka.

Kisah Kedua

Seorang lelaki berparas biasa, masih muda dan tak terlalu tampan, tetapi agak pintar baru saja lulus dari sekolahnya. Tak sengaja, ia bertemu dengan seorang perempuan manis. Biar manis, kelakuannya sangat asem. Pecicilan. Kadang cerewet, tapi kadang menggemaskan. Boleh jadi dia seorang alien, bukan seorang manusia.

Tapi, sang perempuan manis itu tertarik dengan lelaki biasa itu. Ditelisik, mereka satu sekolah, satu angkatan, dan satu iman pula (makin mantap). Mereka bertemu, banyak bicara, banyak bergurau, banyak omelan, lalu banyak jatuh cinta. Padahal taka da yang percaya mereka bisa. Mereka tenggelam dalam rupa masing-masing.

Tuhan juga tersenyum kali ini.

Kisah Ketiga

Seorang perempuan yang pendiam. Lelaki yang mendekatinya, mencoba membuatnya tertarik akan dirinya. Tetapi perempuan itu diam saja. Terkesan angkuh, dan lelaki itu masih saja begitu percaya dengan pikiran naifnya. Persis dengan lelaki naif yang membunuh dirinya sendiri. Lelaki hanya pasrah, tapi ia masih realistis.

Seperti ucap Boy Candra yang berlebihan ; sebuah usaha untuk melupakan.

Lalu, perempuan itu datang lagi. Saat sang lelaki sudah terlalu lapang.

Tuhan tersenyum tipis disini.
 
---
 
Perihal tafsir menafsir ketiga kisah diatas silahkan tanyakan pada dirimu masig-masing. Aku masih sibuk dengan catatan-catatan usang yang belum usai. Malas juga alasan, tapi tak begitu besar. Perihal Tuhan yang tersenyum tipis adalah aku yang mengarangnya. Entah memang Tuhan memang sedang tersenyum dengan 3 kisah tersebut, atau hanya menertawakan aku ini.

Yang sejak tadi, pun, hanya ditertawakan oleh dinding usang yang sudang terlampau tua di rumah.
 

  • view 226