Lelaki Naif Yang Membunuh Dirinya Sendiri

Nasrullah Alif
Karya Nasrullah Alif Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Oktober 2017
Lelaki Naif Yang Membunuh Dirinya Sendiri

Jemarinya tetap bermain di atas keyboard komputer usang itu. Ia bukan seorang penulis yang piawai bak Aan Mansyur, atau pun Sapardi. Tidak sama sekali. Satu-satunya alasan ia menulis kini adalah satu ; ia jatuh hati. Lelaki yang tak bisa Ku sebutkan namanya itu menyukai seorang perempuan berparas eksotik, asli dari Sumatera. Entah Sumatera mana, lelaki itu tak pernah mau memberi tahu aku. Jemarinya masih terus bermain, ia menatap penuh khidmat kepada layar yang terpampang di hadapan dirinya.

 

Ia ingin menumpahkan semuanya dalam tulisan yang kini ia sedang rajut. Dari sukma mengalir kata, ia curahkan hasrat rasanya untuk mencoret, yang walaupun bukan makna sesungguhnya, kertas kosong dalam layar komputer usang itu. Baginya, menuliskan kata-kata dalam tulisan itu adalah harga mati yang tak bisa ditawarkan. Ia harus menuntaskan, seperti dendam yang tak terbalas.

 

Dalam ruangan yang berukuran kecil, sekitar 3 petak saja yang cukup untuk seorang bujangan seperti dirinya, lelaki itu terdiam dan merenungkan sesuatu. Ia mulai berpikir keras. Apakah yang kulakukan ini benar? Apakah dia akan menerima? Apakah, apakah, apakah….  Semuanya bergelayutan di dalam benaknya kini. Ia meracau, dan menggerutu. Baru tadi ia bertekad, tapi kini ingin melacurinya. Sungguh lelaki yang labil. Aku hanya bisa mengelus dada melihatnya, merasa kasihan padanya, walaupun ujungnya aku tak bisa berbuat apa-apa. Ini masalahnya, dan aku tak mau ikut campur. Malas.

 

Komputer usang yang ada di hadapan lelaki itu tiba-tiba berbicara.

 

“Hai bodoh! Jika kau ingin cepat menyelesaikan, cepat selesaikan. Jangan buat aku sekarat berkepanjangan” Komputer usang mengomeli si lelaki itu.

“Tapi, aku hanya bingung” Lelaki itu malah menjawab seadanya. Bodoh sekali.

“Kau itu jangan kelewatan bodoh! Namanya perasaan, ya, begitu! Jangan malah jadi goblok! Ah, untuk apa aku mengurusmu. Usaha sendiri sana” Komputer usang menyesal berbicara kepada lelaki itu.

 

Lelaki itu malah tambah depresi, tambah bodoh (kelewat goblok, seperti ucapan komputer usang), dan aku hanya bisa tambah kasihan kepada lelaki itu. Yang tetap saja aku malas mengurusi urusan perasaan lelaki labil itu.

 

Jam dinding pun hanya tertawa, dan lelaki itu hanya diam.

 

---

 

Lelaki itu malah diam saja saat jam dinding pun tertawa. Ia tak menanggapi, atau hanya sekedar menengok. Sepertinya tenaganya sudah habis hanya untuk memikirkan tulisan itu.

 

“Manusia bodoh, dan ia pikir tulisan itu tak akan diterima oleh sang perempuan. Bung! Perempuan memang makhluk yang misterius. Logikamu akan luntur dihadapan mereka, jadi jangan terlalu berpikir. Itu tidak akan laku. Tulis dengan perasaan, dan resapi. Kalau perempuan itu malah berkata ‘pfft’, dan semacamnya. Itu perempuan patut dipertanyakan. Hahahaha” Sang jam dinding yang terus saja bercakap tiada hentinya. Jahat sekali. Eh, tidak terlalu jahat. Jam dinding hanya mencoba memberi nasihat, tapi caranya mengomel seperti ibu-ibu yang tidak diberi uang belanja oleh suaminya. Aku sedikit tertawa.

 

Lelaki itu lalu merogoh hapenya yang ada di saku celananya. Ia membuka sosial media, lalu mulai melihat lagi (kau bisa katakan stalking) profil perempuan idaman dirinya itu. Ini adegan yang aku suka. Ia hanya menatap layar itu dengan khidmat, dan sekarang ia mulai mengambil batang rokok kretek yang sedari tadi ada di atas meja. Ia mulai membakarnya, menarik rokok itu secara perlahan, lalu menghembuskan asap seperti menghembus masalahnya sendiri. Ia sedikit tersenyum. Lelaki yang aneh. Dan, aku menikmati itu.

 

Ia hanya melihat status sang perempuan. Terus menerus setiap hari. Ia terkadang mencoba menyapa, tapi kadang ragu. Ya, walaupun ujungnya aku bisa menebak ending itu akan sama, si perempuan hanya membalas seadanya. Benar-benar singkat, tanpa ada embel-embel lainnya. Perempuan yang irit kata, menurutku. Awalnya aku pun tertawa, tapi lama kelamaan aku tidak setuju dengan perilaku sang perempuan. Terkesan angkuh.

 

Yang kusuka dari sang lelaki, ia hanya tersenyum, dan berpikir bahwa perempuan itu sedang sibuk tak bisa diganggu. Lelaki yang naif.

 

---

 

Lelaki itu kini sedang di kamar mandi. Ia sepertinya sedang mandi, dan perihal hal lainnya aku tak mau mencari tahu. Mau dia melakukan onani sekalian, aku juga tidak peduli sama sekali. Biar jadi urusannya seperti ucapanku di paragraf sebelum-sebelumnya. Tapi aku tetap bisa mendengar bahwa sabun, gayung, keran, dan kaca di kamar mandi masih mengocehkan hal yang sama.

 

“Kau itu masih saja menjadikan aku teman, lelaki labil” Ucap sabun.

“Kau masih saja bau parfum, dan keringat sendiri lelaki” Gayung melanjutkan.

“Padahal wajahmu tak jelek-jelek amat, lelaki” Kaca tak absen berbicara.

“Dan, kalian masih saja berisik tentang hal yang sama. Berulang-ulang” Lelaki menjawab, dengan tersenyum tipis.

“Tentu saja” Penghuni kamar mandi menjawab kompak.

 

Lagi-lagi, tak hanya manusia, benda pun bisa naif.

 

---

 

Lelaki itu mulai memainkan lagi jemarinya di atas komputer usang itu. Setelah mandi, lalu makan seadanya, kepercayaan dirinya mulai datang lagi. Ia memang tak menelan bulat-bulat perkataan sang komputer usang, jam dinding, dan penghuni kamar mandi. Setidaknya ia memilah, lalu memilih apa yang pantas untuknya. Itu cukup. Kembali dengan modal seadanya, lelaki itu kembali menumpahkan segala rasanya kepada kertas kosong di layar komputer usang itu. Bendahara katanya memang tak berlimpah bak para pujangga, dan tak sepuitis para sastrawan. Satu-satunya hal yang pernah ia tulis adalah puisi saat Sekolah Dasar, itu pun tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Tak apa, setidaknya itu lumayan.

 

Tapi, ia tak menyadari sesuatu.

 

Tapi, sayangnya saat hendak ia mengerjakan lagi tulisan itu ia baru sadar. Segalanya yang telah ia rasakan tadi adalah bohong. Perihal komputer usang yang berbicara dengannya, lalu jam dinding yang tertawa, dan penghuni kamar mandi yang menyenangkan. Mereka semua bohong. Mereka tak pernah ada. Mereka hanya ada di otak lelaki itu. Lelaki itu berdusta. Lelaki itu berpikir tentang perempuan itu lagi. Pikiran naif yang masih ia junjung tinggi, dan memang sudah begitu adanya, tak bisa ia lepaskan. Ia terlalu baik.

 

Dan, saat ia ingin segera menuntaskan tulisan itu. Ia baru sadar, bahwa dia telah mati.

 

Ia sudah mati dari seminggu lalu, ditikam oleh perempuan yang dia cintai setengah mati. Yang pada akhirnya membuatnya sepenuhnya mati. Drama yang bahkan bisa membuatku ketawa puas. Lelaki yang baru sadar itu memandang jasadnya yang mulai membusuk di atas kursi, di depan meja yang berisikan komputer usang. Lalu dia meratapi. Dia terdiam, tak melakukan apapun.  Aku sudah mulai malas. Bosan dengan kisah lelaki naif itu. Sebab, terlalu baik itu juga hal yang tak bagus. Naif tak lebih baik dari dosa. Cukuplah kisah ini.

 

Aku tak bisa menyalahkan siapapun jua di kisah ini. Sebaiknya ku usaikan, ya, lalu kita berpindah ke kisah yang lain. 

  • view 444

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Nasrullah Alif cukup sukses membuai inspirator atau siapa pun yang membacanya melalui permainan pikiran alam bawah sadar, angan, pengandaian benda mati dan permainan pikiran sang tokoh utama itu sendiri. Tulisan ini menohok banyak orang sebab memang mewakilkan perasaan yang pernah mengalaminya. Pada kenyataannya, kisah sang pria hal yang universal, pernah dialami oleh siapa saja di suatu masa dalam kehidupan mereka.

    Naif, terlalu baik memang terkadang tidak baik dalam percintaan. Jujur pada diri sendiri dan mau menelan pil pahit cinta bertepuk sebelah tangan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Si pria mengalami hal yang kurang lebih seperti itu dalam fiksi ini. Menariknya, si kreator menuliskan semuanya dalam dramatisasi metafora yang memang jadi andalannya urusan teknik menulis. Tak pelak, karya ini mencibir, menggigit, menggugah sekaligus membuat siapa pun menaruh kasihan pada si tokoh utama atau siapa pun yang mengalaminya. Buat yang pernah merasakan pengalaman seperti si tokoh utama, tulisan ini bisa menohok dengan cara kocak sekaligus miris.