Tentang Pohon Dan Daun Yang Mulai Berguguran

Tentang Pohon Dan Daun Yang Mulai Berguguran

Nasrullah Alif
Karya Nasrullah Alif Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2017
Tentang Pohon Dan Daun Yang Mulai Berguguran

Tersebutlah sekelompok kurcaci yang hidup di pinggiran hutan. Mereka hidup dengan damai, dan lagi tentram. Awalnya, mereka tak mengenal satu sama lain. Mereka hidup atas kehendaknya sendiri, mencari makan atas perutnya sendiri, terlunta di tengah jantung hutan. Tapi, kali ini aku bukan mengisahkan para kurcaci itu. Aku akan menceritakan sebuah kisah yang katakanlah amat unik. Kebersamaan, cinta, lalu keikhlasan akan ada dalam cerita ini.

 

Seperti lagu, kisah ini adalah sisa keikhlasan yang (mungkin) tak diikhlaskan.

 

---

 

Pohon tua itu hidup sendirian di pinggiran hutan. Ia memang sendirian, tapi ia tidak kesepian. Air hujan, wangi tanah yang basah, lalu hewan-hewan hutan yang bersandar sesekali padanya terkadang bisa menguapkan rasa sendirinya. Ia memang terkenal sebagai Pohon yang bijak di antero hutan. Karenanya, banyak hewan yang menyayangi dirinya. Meski begitu, Sayangnya, sang pohon tetap tak bisa menafikkan keadaannya. Ia butuh seseorang, seekor, atau bahkan seongok sesuatu yang bisa menemaninya sepanjang hayat.

 

Saat ia sedang melamunkan itu semua, terdengar langkah kecil yang menuju dirinya. Pohon bingung. Ia paham semua langkah, bunyi, hingga suara seluruh penduduk hutan. Ia khawatir, itu telapak kaki makhluk bernama manusia. Lebih baik mati baginya, daripada bertemu manusia. Manusia adalah iblis sesungguhnya bagi dunia ini, pikir sang Pohon. Sosok itu kemudian muncul, lalu dengan hati-hati ia muncul dari balik daun talas yang berada tepat di depan Pohon. Pohon mengerutkan dahi. Ia bingung. Makhluk apa yang di depanku ini? Pohon bertanya-tanya dalam hatinya.

 

“Hai, siapa kamu?” Pohon bertanya dahulu. Ia ingin menuntaskan rasa penasaran dalam dirinya. Bertanya lebih baik untuk saat ini.

“Aku pun tak tahu siapa diriku. Siapakah kau?” Makhluk itu bertanya balik.

“Aku bertanya, kau balik bertanya. Aneh sekali kau” Pohon hanya bisa mengerutkan dahi. “Mungkin, kau punya nama?” Pohon melanjutkan lagi percakapan itu.

“Tak punya. Aku hanya ingat, aku sudah ada di tengah hutan ini. Lalu, sampai kepadamu” Makhluk kecil itu menjawab.

 

Lalu muncul makhluk kecil lain yang sepertinya merambah dari dedaunan, berjalan perlahan dan malu mengikuti temannya yang terlebih dahulu berbicara kepada sang Pohon. Pohon terperanjat. Ia tak menyangka akan ada lagi makhluk-makhluk kecil itu. Jika dijumlahkan, ada sekitar 19 makhluk-makhluk kecil yang kini berdiri dihadapan dirinya. Pohon menanyakan perihal yang sama, tapi makhluk-makhluk itu juga menjawab sama seperti makhluk yang sudah bercakap dengannya.

 

Entah bagaimana kisah selanjutnya, aku pun tak paham. Tetapi semenjak saat itu para makhluk-makhluk kecil yang dinamakan Kurcaci oleh sang Pohon yang bijak, kini hidup bersama di pinggiran hutan itu. Mungkin, makhluk-makhluk kecil itu adalah jawaban atas kesendirian sang Pohon yang bijak.

 

Pohon bersyukur. Setidaknya, kesepian dirinya kian tergerus dengan kehadiran mereka.

 

---

 

Seperti pada hari sebelum sang Pohon bertemu dengan para kurcaci, mereka menjalankan hidup seperti apa adanya, tentu kini dengan ditambahi para kurcaci yang kini bersama sang Pohon. Sang Pohon mengenalkan para kurcaci kepada penduduk hutan, dan para penduduk hutan pun kini mengenal mereka. Penduduk hutan yang mengenal Pohon bijak, kini pun ikut menyayangi para kurcaci itu. Kurcaci pun bersyukur. Kesendirian mereka kini tuntas dengan kehadiran sang Pohon yang bijak. Mereka akan menyayangi sang Pohon dengan sepenuh raga, dan hatinya.

 

Seperti dendam, rasa cinta mereka akan mereka tuntaskan kepada sang Pohon yang bijak.

 

---

 

Jumlah kurcaci itu ada sekitar 19. Mereka berjenis kelamin berbeda. Ada yang lelaki, dan ada pula yang perempuan. Tetapi, dengan perbedaan itu mereka tak saling menyakiti satu sama lain. Walaupun ada beberapa perdebatan kecil, pertengkaran kecil, hingga sampai perbedaan pendapat tak membuat saling menghinakan satu sama lain. Perbedaan itu saling melengkapi.

 

Pohon yang bijak menjadi penengah jika perdebatan terlalu berlarut lama. Tetap saja, akhirnya akan tuntas dengan tawa mereka yang mencairkan suasana, karena akhirnya mereka pun tak bisa berkelahi satu sama lain. Mereka adalah saudara. Mereka sedarah, tak boleh sampai ada darah tumpah juga. Kasarnya begitu.

 

Tak seperti manusia, yang rela menghajar saudaranya sendiri. Mereka tak sehina itu.

 

Seperti dahulu, kurcaci paling kecil kehilangan arah dan tersesat di tengah jantung hutan. Awalnya ia hanya mencari bahan makanan untuk para kurcaci. Ia kedapatan giliran untuk mencari bahan pangan. Kurcaci kecil itu berpikir, jika makanan di jantung hutan pasti lebih banyak lagi nikmat. Akhirnya ia pergi ke jantung hutan. Bodohnya, ia lupa memastikan arah jalan pulang. Tersesatlah ia. Para kurcaci yang keburu lapar, ternyata hilang rasa laparnya. Mereka keburu khawatir. Kenapa kurcaci terkecil tak kunjung datang? Mereka akhirnya berpencar untuk menemukan kembali si kurcaci terkecil. Hingga bulan purnama muncul, akhirnya kurcaci kecil ditemukan. Mereka tak memarahi saat pertama menemukan, sudah kadung lelah dan lesu. Tapi, esoknya habis dimaki itu kurcaci paling kecil. Tanpa ampun.

 

Ya, pada akhirnya pohon yang bijak menengahkan. Dan, mereka justru saling berpelukan minta maaf. Ujungnya mereka tertawa. Mereka sudah terlanjur saling jatuh dalam rasa sayang.

 

Daun sang Pohon yang bijak mulai berguguran tanpa ia sadari.

 

---

 

Pohon yang bijak walau sudah menemukan kebahagiaan, dalam pertemuan dengan para kurcaci itu tentunya, tetap saja rasa sepinya itu datang kembali. Pohon tak mengundang. Kesepian itu datang tanpa permisi. Sudah tertutup rapat, ia mendobrak dengan ketidak ramahnya kepada sang Pohon. Pohon yang bijak justru makin menjadi dalam kesepian itu. Bodohnya, ia malah ikut melebur. Aku tak paham lagi apa yang sebenarnya ia pikiran. Logika sang Pohon yang bijak runtuh seketika.

 

Dan seperti sudah ditakdirkan oleh Tuhan, kini muncul kembali sesosok makhluk yang tinggi semampai dihadapanya. Sang Pohon yang bijak terperanjat saat mengetahui makhluk itu adalah manusia…

 

Pohon yang bijak langsung menghantam makhluk itu dengan akar tua yang sudah lama bergantung pada dirinya. Sesaat setelah sekitar 5 cm lagi akar itu menghantam, pohon yang bijak menyadari. Manusia itu menangis. Dengan deras yang terus saja turun tanpa terbendung, tanpa emosi teraut di wajahnya. Sang Pohon yang bijak justru memeluk manusia itu.

 

Dan Pohon yang bijak tetap tak menyadari daunnya mulai berguguran.

 

---

 

Manusia berjenis perempuan itu bernama Satella. Ia dicampakan oleh keluarganya. Ia bilang, karena rambut putihnya dan tinggi badan yang semampai membuat ia terlihat seperti penyihir. Pohon yang bijak hanya mengerenyitkan dahi. Manusia dengan kebrengsekan mereka sungguh amat tidak berperasaan. Tega membuang keluarga hanya dengan tuduhan yang tak beralasan.

 

“Jangan khawatir, kamu aman disini” Pohon yang bijak menenangkan Satella.

“Terima kasih” Satella hanya menjawab seadanya. Masih tersisa raut takut di mukanya. Mungkin setelah Pohon yang bijak hampir menghantam dirinya.

“Aku tak jahat, hanya saja aku yang lebih takut dari tingkah laku kalian. Kalian kejam, dan kau sendiri adalah korban itu” Pohon yang bijak melanjutkan kata-katanya.  “Tapi tenang saja, kita sama-sama hidup dalam ketakutan yang sama. Walaupun, kau dan aku sama-sama terhalangi oleh sesuatu yang tak bisa kita lihat dengan sekilas mata. Tapi, yakinlah kau aman bersamaku” Pohon yang bijak menyadari kalau ia tetaplah pohon tua yang tahu diri.

 

Dan sepertinya takdir Tuhan mengamini itu.

 

---

 

Seperti yang kukatakan sebelumnya, takdir Tuhan mengamini apa yang telah diucapkan oleh sang Pohon yang bijak. Bagaimana kisah, dan alurnya. Hanya kurcaci, Satella, dan Pohon yang bijak yang tahu perihal tersebut. Tetapi, yang pasti akhirnya Satella menjadi sadar akan satu hal. Entah itu ia sadari, atau tidaknya. Terkadang perempuan memang suka mempermainkan perasaan dirinya sendiri. Kukatakan saja ; Satella tanpa sadar sudah mempercayai Pohon yang bijak. Ia mungkin sudah sangat menghormati dirinya, dan sayang kepadanya. Sekadar itu.

 

Para kurcaci juga menyayangi Satella sepenuh hatinya. Pada hakikatnya, mereka sama-sama tak disayangi oleh lingkungan awalnya. Dibenci, dan di najisi dengan jahatnya. Padahal, mereka hanya ingin hidup dengan semestinya.

 

Dan, Pohon yang bijak dengan kebimbangan dalam hatinya yang terus menggebu. Kacaunya jiwanya, merutuki dirinya. Ia jatuh hati kepada Satella.

 

Dan Pohon yang bijak tetap tak menyadari daunnya itu mulai berguguran hingga kering.

 

---

 

Maaf, aku sengaja tak melanjutkan kisah ini. Aku tahu, ini egois. Satu hal yang mesti kau tahu, aku hanya menulis ini dengan hatiku yang semakin sempurna meremuk di tengahnya tangis. Kau bisa bayangkan, bagaimana mungkin sebatang pohon yang tua, jatuh hati, lalu menempatkan pada seseorang yang salah. Manusia!

 

Jika sekian kalinya aku jatuh hati pada tempat yang salah. Pohon lebih bodohnya, dan teramat parah. Tapi aku tak bisa menyalahkan itu, kami berbicara satu sama lain. Dari satu tinta ke tinta yang sudah terarah. Yang sudah lama terasah. Kalian yang dengan mudahnya mengatakan bahwa perasaan tak mungkin seberat itu, lalu dengan seenaknya berganti pasangan. Maaf, kalian bajingan.  Perasaan tak sebercanda itu. Ia memang sederhana. Tapi, ia tak sesederhana apa yang disabdakan oleh para penutur kata.

Mungkin pada akhirnya, hanya kata-kata rancu yang malah menjadi santapan pada cerita kali ini. Mungkin juga, aku hanya menafsirkan aku dengan penjelmaan pohon. Lalu Satella dengan perempuan tegar yang sederhana itu. Entah, aku hanya makin tenggelam. Entah ingin kemana.


Jadi, aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku tahu diri. Tak seperti Pohon kepada Satella. Walau sebenarnya aku hanya menafikan aku. Walau aku sebenarnya tetap saja ingin mencumbui bayangmu itu. 

  • view 877

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cukup jarang Inspirasi.co menerima tulisan semacam ini. Ketika kami membacanya pun tak heran karya Nasrullah Alif ini langsung mencuri perhatian dari kami. Pertama-tama, Nasrullah memunculkan ide tulisan seperti mendongeng. Menulis seperti butuh fantasi tingkat tinggi sebab sudah pasti mengerahkan segala daya untuk memunculkan makhluk lain, dalam hal ini kurcaci, yang kesemuanya metafora. Untuk memahaminya pun kita seperti mesti menyibak tabir demi tabir untuk tahu maksud tulisan ini apa.


    Apa yang dialami oleh sang pohon, yang oleh si penulis, menjadi tokoh utama dalam tulisan ini bisa mewakilkan banyak tema dalam kehidupan kita sehari-hari. Sang pohon menyimbolkan fitrah manusia yang ingin hidup sosial, punya teman dan keluarga. Sementara ia dan kurcaci mempunyai hubungan yang bersifat seperti keluarga, mengasihi dan mengayomi, lain halnya saat Satella dimana rasa itu memang menjadi kasih cinta. Sayangnya, rasa itu memang berbeda alam dan si pohon pun kian menua. Poin paling mengesankan dari tulisan ini adalah siapa pun dapat menafsirkan banyak hal tentang kisah si pohon.

  • Andraella Nisrina Hakim
    Andraella Nisrina Hakim
    10 bulan yang lalu.
    Menyentuh kak ????

  • Andraella Nisrina Hakim
    Andraella Nisrina Hakim
    10 bulan yang lalu.
    Sungguh pohon yang tak tahu diri ???? bodohnya ia..