(Bukan) Tempat yang Tepat

Alida
Karya Alida  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2016
(Bukan) Tempat yang Tepat

Hai, namaku Jagat. Umurku 10 tahun dan aku sudah kelas 5 SD. Kata ibu, aku masuk sekolah dasar 1 tahun lebih cepat dari teman-temanku. Aku seperti anak-anak pada umumnya,sangat gemar bermain games, tidak ada yang spesial. Nilai mata pelajaranku di sekolah biasa-biasa saja. Aku suka bikin ribut di kelas dan aku pun suka berkelahi. Tapi ingat, aku tidak suka melawan anak-anak yang lebih lemah!

 

Hari ini aku mau bercerita tentang salah satu hobiku. Ya...tentu aku memiliki hobi yang lain selain bermain games dan bikin ribut. Mungkin orang-orang tidak akan mengira kalau aku menyukai hal yang satu ini. Karena hal ini identik dengan kelembutan, ketelatenan yang biasanya didominasi oleh perempuan.

 

Aku mempunyai Kakek yang tinggal di sebuah kaki gunung. Rumah kakek dikelilingi ratusan atau mungkin ribuan jenis tumbuh-tumbuhan. Setiap kali aku mengunjungi kakek, aku selalu pergi berpetualang mencari jenis-jenis tumbuhan yang baru. Maklum, untuk anak yang lahir dan tumbuh di perkotaan seperti aku, melihat tumbuh-tumbuhan hijau adalah hal yang langka.

 

Satu bulan yang lalu, saat umurku genap 10 tahun, aku meminta sesuatu kepada kakek. Aku ingin membawa salah satu tumbuhan yang ada di halaman rumah kakek dan bermaksud untuk merawatnya di rumah. Namun kakek menolak dengan alasan "Kamu belum mampu merawatnya". Huh, aku kan sudah 10 tahun, aku sudah besar! Pikirku saat itu. Seorang Jagat tidak mudah menyerah, aku tetap memaksa kakek untuk mengizinkanku membawa tanaman itu. Aku memasang muka memelas dan bahkan berjanji untuk tidak bermain games selama satu bulan, besar sekali perjuanganku untuk mendapatkan tanaman itu.

 

Aku tahu, dengan tampang memelasku, kakek tidak akan tega. Dan rencanaku berhasil.  Tanaman itu berhasil aku dapatkan. Aku senang sekali. Aku memperlakukan secara khusus kepada tanaman itu. Kubelikan pot yang bagus, kuletakkan di tempat yang bagus, bahkan ku beri nama, Messi.

 

Messi sudah seperti temanku sendiri. Aku suka sekali mengajaknya berbicara. Aku menyiraminya setiap pagi dan sore sesuai petunjuk dari kakek. Aku beri pupuk dan vitamin untuk tanaman. Sampai suatu hari, ada yang berubah dengan Messi. Daun2nya mulai menguning, aku pikir ini adalah siklus alami untuk tumbuhan, mungkin yang kuning nanti akan diganti dengan tunas-tunas baru, pikirku. Hari berganti hari, kondisi Messi semakin buruk. Tak hanya daun yang menjadi kering kecoklatan, ranting-rantingnya pun mulai rapuh. Aku ketakutan. Sampai suatu pagi aku benar-benar menemukan Messi sudah tidak tertolong lagi.

 

Aku mulai berteriak dan menangis. Aku pikir tidak ada yang salah dengan cara perawatanku. Aku menyayanginya, aku memperlakukannya spesial, aku tidak lupa memberinya air dan vitamin tumbuhan sesuai petunjuk. Aku tidak salah, tapi kenapa Messi mati!

Kuceritakan hal ini pada kakek. Aku bersumpah pada kakek bahwa aku sudah mengikuti petunjuk perawatan dengan benar. Kakek hanya takzim mendengarkan tangisanku. Lalu kakek berkata "Sayang, kamu memang tidak salah. Kamu sudah sangat baik merawat dan menyayangi Messi. Tapi, di dunia ini ada hal-hal yang memang di luar kendali kita" aku tidak sepenuhnya paham apa yang kakek maksud. Kemudian kakek melanjutkan

"Ada hal-hal yang memang sudah mempunyai tempatnya masing-masing, Nak. Messi adalah tumbuhan dengan habitat pegunungan. Jadi, mau seberapa keras kamu berusaha merawatnya di kota, Messi tetap tidak akan terselamatkan. Menyayangi tidak selalu berarti dekat secara fisik, menyayangi juga berarti menempatkan posisinya di tempat yang seharusnya, meski tempat itu, harus jauh dari kita. Kamu akan belajar dari ini, Nak"

Tangisku mereda setelah kalimat kakek terhenti. Walaupun aku belum sepenuhnya mengerti, tapi aku tahu, apa yang dikatakan kakek adalah sebuah kebenaran.

  • view 81