PKKMB Menyenangkan tapi Membutakan

Ali Bisri El Muniri
Karya Ali Bisri El Muniri Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 31 Agustus 2016
PKKMB Menyenangkan tapi Membutakan

*Oleh: Ali Bisri El Muniri

Malang, 20 Agustus 2016 - hampir seminggu kegiatan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) berjalan dan usai sudah, kegiatan pertama para mantan adik-adik SMA-Sederajat melewati kegiatan minggu pertamanya menjadi seorang mahasiswa.

Ada hal yang menarik di setiap tahunnya untuk penyambutan kepada para mahasiswa baru, dari hal tentang tema yang di usung setiap tahunnya di berbagai perguruan tinggi, di tahun kemarin tema yang usung oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur yakni Universitas Negeri Malang (UM) dengan tema PKPT (Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi) bedanya untuk tahun sekarang kayaknya dengan serentak mengusung tema PKKMB di berbagai perguruan tinggi, seperti halnya PKKMB-UM, PKKMB-Unesa, dan PKKMB-lainya di berbagai kampus.

Namun, menurut saya pribadi dari kegiatan yang setiap tahunnya selalu berganti tema itu, ada sedikit kejanggalan atau ketidakberesan yang terjadi di pengenalan setiap tahunnya. Yakni, meskipun setiap tahunnya berganti-ganti nama tema yang diusung, dari jaman saya menjadi seorang mahasiswa baru (maba) hingga tahun sekarang 2016, menurut hemat saya apa yang di rencanakan setiap tahunnya itu oleh panitia program tersebut, adalah sebuah proses yang Stagnansi, sebuah proses perhentian dalam ber-inovasi untuk menyuguhkan kegiatan yang berbeda di setiap tahunnya, karena meskipun dengan pergantian berbagai tema, tetapi inti dari acara tersebut adalah pengulangan kegiatan yang sudah dilakukan setiap tahunnya, namun dibungkus dengan tema yang berbeda yang juga tidak begitu menyeramkan bagi kalangan mahsiswa baru. Sehingga kalau dilihat dari segi tema tampak begitu berbeda, padahal sama isinya hanya ceramah petinggi kampus, pertunjukan UKM kampus (Expo UKM), bernyanyi, dan ditutup dengan sebuah perenungan, atau bisa dikatakan sebuah proses pencucian otak (doktrin) yang berisi tentang agar cepat-cepat lulus dengan nilai IP (Indeks Prestasi) yang cukup atau bahkan memuaskan. Sehingga pandangan mahsiswa baru setelah kegiatan tersebut adalah bagaimana cara cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk hari tuanya nanti. Padahal, pandangan semacam itu berdampak semakin butanya mahasiswa terhadap berbagai fenomena sosialnya, terhadap isu-isu hangat publik, serta semakin tekikisnya tingkat kepekaan seorang Akademisi terhadap kejadian-kejadian sosial.

Program-program seperti itulah yang juga menjadi alasan kenapa peranan mahasiswa pasca era 98 semakin tidak nampak atau bahkan hilang disetiap tahunnya. Sehingga kenapa saya bilang bahwa proses tersebut adalah sebuah proses yang stagnansi, karena memang tidak ada perubahan (inovasi) dan semakin membutakan saja kepada beribu-ribu setiap generasi bangsa, harus ada hal yang baru disetiap tahunnya dengan program yang tidak membutakan kepekaan sosial seperti hal tersebut itu. Semoga kedepannya ada perubahan dan semakin melek.

  • view 185