Apa Kabar Republik ?

Ali Bisri El Muniri
Karya Ali Bisri El Muniri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Apa Kabar Republik ?

*Oleh: Ali Bisri El Muniri

”Sekarang dengan wajarnya setelah harapan saya dapat melangsungkan hidup yang ¾ hukuman penjara ini, “tiga perempat hidup di penjara”, demi kesehatan saya, di negeri dimana saya mempunyai hak hidup sepenuhnya, telah ditolak oleh pemerintah, saya kira buat sementara waktu harapan untuk ketanah air harus saya kesampingkan. Akan tetapi saya tak mau menganggur. Saya kira dapat mengabdi pada partai negara dan rakyat Indonesia, jika saya dari sini dapat menghubungkan golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat”- Tan Malaka, di Kanton, Cina.


Hampir satu abad sudah lamanya, pesan ini dituliskan oleh pendahulu kita. Apa yang terlintas dibenak kalian, ketika setelah membaca dan mengerti tentang hal seperti ini. Jika kalian balik tanya penulis, maka jawabannya ialah “Pemerintah (negara) bahkan pernah membuang pahlawannya, apalagi rakyatnya”. Mungkin begitu kira-kira jawaban penulis.


Indonesia sekarang sudah berumur setengah abad lebih, sudah siapkah, negara ini menjadi negara maju, atau bahkan ingin memperpanjang masa menjadi negara ber-kembang. Pemberian nama Indonesia memang bukan dari para pendahulu negara ini sendiri, melainkan muncul dari seorang sarjana Inggris George Samuel Windor Earl yang menuliskan sebuah nama untuk nusantara ini, kemudian dikenalkan oleh sarjana Jerman, Adolf Bastian dengan menerbitkan buku dengan judul Indonesien oder die laseln des Malayischen Archipol, pada tahun 1884. Bagi seseorang ahli Metafisika yang menyakini bahwa sebuah nama mengandung arti dan sebuah nasibnya. Sehingga Arkand Bondhana Zeshaprajna seorang ahli metafisika mengusulkan untuk mengganti nama Indonesia dengan “Viranegari Nusantara”, karena nama Indonesia sendiri diyakini tidak berpihak pada rakyat. Terserah mau diubah apa gimana, karena bagi rakyat tidak begitu antusias akan hal semacam itu, atau bahkan dengan penghapusan negara, karena bagi rakyat negara hanya menjadi tatanan yang membingungkan. Namun ada hal yang menarik akhir-akhir ini, yakni tentang tingkat kepuasan rakyat terhadap pemerintah setelah terjadinya reshuffle kabinet kerja presiden yang dilakukan lembaga survei Indikator Politik Indonesia, meliris jika diakumulasi dari semua bidang (politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dll) mengalami peningkatan hampir sampai 74 persen dari pada sebelumnya.


Rasanya perlu terus menayakan kabar republik ini, karena memang serasa ditagih terus oleh para pendahulu untuk selalu memerdekakan kaumnya. Namun cobalah lihat lagi, rasakan dan resapi bagaimana republik sekarang, sudahkah semuanya merdeka (Jasmani dan Rohani), apa masih tetap hanya berjalan ditempat saja dan mengulang terhadap apa yang terjadi di republik ini. Indonesia kini terus berjalan dengan penduduk yang di produksi oleh sebuah sistem dan di ikat dengan yang namanya kebijakan atau peraturan, semakin menyempitkan ruang dan gerak untuk segala apa yang menjadi dambaan rakyat. Tujuh puluh satu kali bangsa ini merayakan hari menetasnya dengan semangat kerja nyata yang diusung diberbagai media informasi, ditahun ini saya tidak akan merayakan dengan upacara atau dengan berbagai lomba disebuah gang-gang permukiman warga, yang selalu semarak setiap tahunnya. Dimana arti kemerdekaan hanya semarak pada Agustus setiap tahunnya. Indonesia selalu ber-revolusi, dari revolusi hijau sampai revolusi mental yang sampai sekarang masih tertempel di berbagai baliho dan spanduk-spanduk besar diberbagai instansi/kantor birokrasi pemerintahan dari tingkat kecamatan sampai pada tingkat pusat sekalipun, kalau hanya begitu, sekedar tempel menempel sebuah jargon, jika tidak didasari dari diri sendiri untuk berubah, jangan harap ada perubahan atau sebuah revolusi besar, tidak cukup sekedar dengan itu.


Kini Indonesia punya gawe gedhe (hajat besar) selain hari kemerdekaan, sebuah rencana jangka panjang, yakni pembangunan distrik anyar untuk menjaga stabilitas keuangan “Tax Haven”  yang akan dibangun di pulau Batam, wacana ini muncul ketika ada sebuah amnesti pajak, sehingga pemerintah ingin segera merealisasikannya. Tapi ingat, jangan terburu-buru dalam hal pembangunan seperti ini, karena pembanguna yang terburu-buru akan menjadi kurang maksimal seperti halnya apa yang terjadi di Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta yang dinilai tergesa-gesa dalam pengoperasiannya, sehingga di awal pembukaan berbagai problem dihadapi, seperti kosleting aliran listrik, adanya genangan air saat hujan, serta lainnya itu, sehingga terjadi penumpukan penumpang. Kejadian hal seperti ini, jangan dianggap kejadian biasa, harus ada evaluasi lebih lanjut secara mendalam di setiap elemennya, apakah ini masalah besarnya atau kecilnya, itu wajib menjadi sebuah pertayaan menteri perhubungan. Sama untuk program pembangunan Tax Haven di Batam ini, jangan terburu-buru dan kajilah dulu baik dan buruknya keuntungan dan kerugiaannya. Sekarang Indonesia terus membangun dari bangunan besar sampai kecil, kini nusantara dijajah media lewat kekayaan alamnya, dari desa-desa kecil hingga pelosok pendalaman negeri, semua di ekspose seakan-akan ingin mengundang untuk semuanya datang, dan akhirnya apa yang terjadi, kerusakan ekosistem dan penyebaran limbah sampah yang semakin memburuk. Indonesia selalu berputar-putar dengan masalah lamanya, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, pelayanan, dan sebagainya. Kini bangsa terserah mau kemana, terus melangkah atau mandeg di perjalanan. Hanya sebuah sajak untuk republik kupersembahkan:


                              Republik
Melihat republik saat fajar pertama
Mata masih sedikit enggan terbuka
Republik begitu manja
Menawarkan segala kebutuhan bangsa
Kini republik semakin tua
Hasratmu begitu mempesona
Tapi sayang rakyatmu masih terluka
Republik terus bersuka ria
Menari, bernyanyi, dan berdansa
Petikan irama mengalir dari istana
Disaksikan para tetangga muda
Rakyat bingung mau menari kemana
Kini republik mau ikut Finlandia
Semua orang hanya bisa tertawa
                                                                 Malang, 16 August 2016.


  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Terlalu banyak kalimat pada paragraf 3-5.

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    dibenak => di benak
    di akumulasi => diakumulasi
    di bangun => dibangun

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    nice post.

    Madilog udah khatam ya? keren.

    kritikan memang selalu perlu, tapi..
    (mau ngetik apa tadi, lupa )

    soal pembangunan, padahal sebelum fix diputuskan udah ada studi kelayakan.
    tapi realisasinya...
    entah emang 'takdir'nya begitu, atau cuma siasat politik, atau menghamburkan anggaran....
    aaargh, saya gak mau suudhon


    *maaf ngasal komen panjang

    • Lihat 2 Respon