JANCUK "Jangan Anggap Neraka Cuma Untuk Kamu"

Ali Bisri El Muniri
Karya Ali Bisri El Muniri Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 01 Agustus 2016
JANCUK

JANCUK “Jangan Anggap Neraka Cuma Untuk Kamu”

Oleh : Ali Bisri El Muniri

Sedikit agak nyeleneh jika menyimak judul yang diangkat kali ini, dalam budaya masyarakat jawa khususnya Jawa Timur, karena kata “Jancuk”  ini pertama terdengar dibagian timur jawa. Kata “Jancuk” ini merupakan suatu hal yang dianggap kurang sopan kedengarannya, memang betul, entah kenapa juga karena kata itu sendiri sampai sekarang masih rancu dalam penafsirannya, dengan berbagai versi yang ada tentang asal-usul munculnya kata “Jancuk”  dengan enam huruf ini. Sehingga Budayawan asal Jawa Timur Sujiwo Tedjo¸tidak bisa berpuasa dalam melihat kerancuan respon sosial tentang kata ini, sehingga harus memberikan penerangan perngertian yang lebih bisa diterima dalam segi aspek peradaban manusia selaku kaum pelaku pelestari peninggalan sebuah budaya nenek moyang terdahulu. Menurut Kamus Daring UGM (Universitas Gajah Mada) istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok”  memiliki makna “sialan, keparat, brengsek (ekspresi tentang kekecewaan atau bisa juga mengungkapkan suatu hal yang mengherankan atas kejadian yang tak masuk akal)”.

Kenapa penulis memilih kepanjangan kata “Jancuk”  ini dengan “Jangan Anggap Neraka Cuma Untuk Kamu”, ketika sepintas melintas di salah satu jalan di daerah Surabaya tertulis di coretan-coretan tembok kota karya seniman jalanan yang menghiasi perjalanan dengan coretan “Jangan Anggap Neraka Cuma Omong Kosong”  yang merupakan singktan dari sebuah kata “Jancok”, dalam hal ini penulis tidak akan bercerita tentang sebuah Neraka, karena justru menimbulkan rasa yang menakutkan bahkan menyeramkan di suatu masa akhir nanti, namun malah ingin menggiring kata yang rancu ini kearah yang sedikit barbau Romatisme dalam fenomena kehidupan abad ketiga ini. Maka dari itu memilih (Jancuk) dengan “Jangan Anggap Neraka Cuma Untuk Kamu”  yang kelihatannya malah ingin membagi-bagikan sebuah Neraka untuk tidak dinikmati secara sendirian, boleh berpasangan, atau bahkan dengan berjemaah sehingga sedikit lebih menghibur dan tidak menakutkan. Hahaha...

Mari kita mulai. Disetiap sela-sela tulisan ini dikerjakan ingatan selalu bergairah mengangkat secangkir kopi untuk diseduh sambil hanyut dalam tulisan apa yang akan dituangkan, “Jancuk”  terucap, kenapa harus kopi yang diseduh, bukan yang lebih menyehatkan tubuh seperti susu atau madu untuk diseduh, bukankah itu suatu bentuk Romantisme kehidupan perpaduan antara kopi dan suatu pikiran untuk dituliskan sehingga kata “Jancuk” itu sendiri terucap. Itu secangkir kopi sudah menimbilkan kata “Jancuk”  belum lagi halnya tentang batang candu yang biasa disebut dengan batang rokok, barang yang sudah jelas dilarang dalam dunia kesehatan tetapi tetap saja rokok dihisap dan asapnya dikeluarkan disetiap berbagai karya diciptakan. Sesuatu yang sudah dimengerti tetapi tetap saja dikerjakan, “Jancuk”   kembali terucap, karena merupakan suatu hal yang mengherankan. Apalagi berbicara tentang keadaan nasional seperti sekarang, dimana kejadian-kejadian publik Indonesia yang selalu menyapa siaran televisi, surat kabar harian, serta media-media lainnya diwaktu senggang melepas letih rakyat, mulai dari permainan online yang menghebohkan “Pokemon Go” karena kala hidup menjadi sebuah permainan, “Penangkapan Santoso” teroris paling dicari beserta kelompoknya, serta dampak dari “Sudeta Gagal”  Edrogan di Turki yang berdampak terhadap Sekolah Turki yang ada di Indonesia, dan “Eksekusi Mati” para tahanan bandar Narkoba, sampai pada perbincangan hangat soal ketatanegaraan “Reshuffle Kabinet Jokowi”  lantaran ada tim besar bergabung dengan Program Nawacita yang diusung pemimpin negara. Manusia-manusia yang kontra akan semua fenomena tersbut, apakah tidak bernafsu untuk mengucapkan kata “Jancuk”  bahkan berdzikir menggunakan kata tersebut lantaran sudah muak dengan semuanya. “Jangan Anggap Neraka Cuma Untuk Kamu !”  sebuah aroma romantisme untuk keseimbangan dalam kehidupan untuk selalu menoleh kebelakang jangan terpaku kedepan, untuk selalu menunduk kebawah jangan menantang keatas, jangan selalu tertawa coba menangislah. Apakah ada hal yang lebih romantis dari hal itu, jika melalui tafsiran perempuan suatu hal yang romantis, dikala ia mendapat bunga dan secuil jajanan cokelat dari pangerannya kala malam minggu melewati 15 purnama. Mungkin perempuan juga “Jancuk”  selalu ingin hal yang mengherankan dan membingungkan, tiada titik untuk menghentikan perbincangan ketika berbicara tentang perempuan kecuali dengan, “Jancuk” . Teringat sepenggal sajak yang diucapkan oleh Dalang Edan. Sujiwo Tedjo-“Kalau dengan kata jancuk pun, aku tak bisa menjumpai hatimu dengan airmata mana lagi, aku harus mengetuk pintu hatimu” jelas sebuah ungkapan romantis kepada perempuan, meskipun menggunakan kata “Jancuk”.

“Jangan Anggap Neraka Cuma Untuk Kamu”  karena semua elemen kehidupan sudah memberikan “apa yang seharusnya”, tetapi mengapa masih menggunakan “apa yang bisa mengubahnya”. Jangan heran ketika kata anak-anak jancuk juga mulai bermuculan, sebagai bentuk luapan ekspresi emosi makhluk hidup dimasa ini. Hidup ini memang penuh dengan ke-jancuk-an, dimana budaya Konsumerisme manusia semakin tidak terbendung dengan berbagai macam bentuk penawaran yang dikembangkan, sehingga berdampak terhadap kepekaan sosial yang semakin semu untuk sekitarnya, sudah terlalu lama dunia ini bergelut dengan kefanaan. Sudahlah... sudahlah... jangan terlalu dipersoalkan, “cukup dengan berdiam diri saja, sudah bisa dikatakan baik” apalagi bergerak kearah mana-mana, kalau dengan berdiam saja sudah baik. Pemikiran seperti ini, menggiring kita keposisi yang seakan-akan memaksa kita untuk enggan mengerti terhadap apa terjadi, dan menciptakan untuk tidak melakukan apapun yang dipunyai, apa harus disertai dengan “Jancuk”  juga untuk melakukan apa yang semestinya, baru bergerak gegas terlunta-lunta menuju kearah yang seharusnya. Hampir meluap emosi melihat jaman sekarang, dan saya juga tidak bisa berpuasa untuk ini. Jancukkk......

 


  • Alenia 
    Alenia 
    10 bulan yang lalu.
    saya suka dengan kata2 kutukan mas, mereka selalu luar biasa. jujur dan punya kekuatan

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    dibagian => di bagian

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    saya baru tau kalo ada kepanjangannya gini

    • Lihat 17 Respon