Saridin sang muhlis

Saridin sang muhlis

Ali Ahmadi
Karya Ali Ahmadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 September 2016
Saridin sang muhlis

Tidur diatas dua kelapa adalah hal yang sulit dilakukan oleh orang biasa, apalagi diatas samudera yang maha luas dan penuh bahaya. Tapi dengan ketulusan dan keyakinan hal itu mudah dilakukan.

Saridin menghela nafas panjang kemudian dengan pelan menutup matanya, hatinya mulai merasakan ketenangan, "nyaman" katanya. Gelombang air yang bergoyang mengayunkan dirinya seperti bayi diatas ayunan, mengirinig gema dzikir, tasbih dan tahmid dalam hatinya.

"Terimalah tobatku, bersihkanlah jiwaku dari kesombongan yang sengaja maupun tidak sengaja aku lakukan Gustii", tanpa disadari tangisnyapun pecah, air mata mengalir deras dari sela matanya, kesedihan mendalam dari seorang hamba yang ingin bersih dari keduniawian menjadi tekatnya. 


Saridin adalah pribadi yang bersahaja, keyakinan dan ketulusannya menjadi pegangan yang kuat dalam hidupnya, meskipun terkadang keyakinan dan ketulusan itu menjadi salah bagi sebagian orang, "Mohon ampun Gusti", lirihnya lagi penuh penyesalan, dadanya sesak, tubuhnya berguncang hebat, seakan ada gempa yang datang dari dalam dirinya, dia berfikir hanya taubatan nasuha yang pantas baginya. 


Masih teringat dalam benaknya betapa murka sang guru terhadapnya, meskipun dia tahu bahwa marahnya guru adalah rasa sayang terhadap muridnya, teringat pula rangkain peristiwa dalam hidupnya sampai mengantarkan pada penyesalan yang mendalam.


Desa miyono adalah awalnya, dia dibesarkan oleh Kiai dan nyai Gede Keringan, dia tumbuh menjadi dewasa, penuh kasih terhadap sesama, jujur, ihlas dan apa adanya, hari-hari dilaluinya dengan penuh suka cita, meskipun saridin bukan anak kandung Kiai dan Nyai Gede Keringan tapi kasih sayang mereka tidak bisa dibedakan, saridin dan anak Kiai dan Nyai Gede Keringan yaitu Ni Branjung dibesarkan bersama seperti kakak dan adik.


Hingga pada saatnya saridin harus memulai ujian kehidupan, orang tua yang dia sayangi meninggalkan dia untuk selama-lamanya, "istirahatlah dengan tenang Pak, Bu', semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian, dan ditempakan di jannatun na'iim, aamiin", do'a saridin mengiringi kepergian orang tuanya.

#Bersambung.

  • view 279