Bunga Ini Bukan Untukmu

Alfi  syahri
Karya Alfi  syahri Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 November 2017
Bunga Ini Bukan Untukmu

Apa yang paling dipikirkan manusia tentang hal-hal yang dicintainya? Sekuat raganya ia akan terus menjaga dan merawatnya bahkan sampai tua jika diperkenankan. Maka menjagamu adalah hal yang  saat ini tengah ku perjuangkan. Seperti waktu itu, kala menunggu tanggal kelahiranmu. Di sudut ruang menunggu dengan cemas, menyiapkan kata-kata spesial yang siap meluncur dari ponsel pintar saat waktu itu tiba. Detik cemas kian menumpuk diujung menit hingga berlabuh pada jam tengah malam pukul dua belas, di detik pertama jariku lincah mencari noktah  kumpulan frasa hingga ujung jari menemukannya di sudut paling gelap tengah bermuara di danau buatan yang beberapa tahun lalu kubangun sendiri. Aku mencintaimu, kataku. Tapi tidak, hujan turun menghapus frasa itu, meleburkan. Lalu hanya kukirim pesan seperti lainnya, doa dan ujaran rasa harap.

Maka tiapkali hujan turun rasa cemas dan penyesalan itu selalu datang kembali, dihadapku, menyapaku. Karena selepas itu kau tidak bersamaku lagi. Ratusan kiriman pesan singkat berisi perhatian dan nasihatmu tentang sabar itu adalah bentuk terimakasih atas semua hal baik yang mungkin bagimu punya nilai tersendiri. Bukan cinta tapi hanya sebatas rasa mengagumi saja, itu katamu selepas perdebatan hebat sebelum kita berjarak. Bukan hanya hati yang di pisahkan juga waktu berbaik hati memindahkanmu di tempat terjauh, di pertemukan dengan orang-orang yang jauh berbeda denganku yang dekil dan terhina.

Di tiap malam aku selalu membayangkan, kita tengah berlarian di taman-taman bunga. Saling melempar senyum dan tawa. Itu adalah penghantar tidur paling mujarab yang baru saja kutemui. Sayangnya mimpi itu selalu berakhir buruk tatkala kau memetik satu bunga  indah nan cantik. Merah bunga itu semerbak mewangi yang kau berikan bukan untukku, tapi untuk teman terbaikku sendiri. Maka sejak itu tawaku mulai pintar menyembunyikan luka yang kau sayat tiap harinya pada malam-malam panjang setelah terpejam kedua mata. Maaf bunga ini bukan untukmu, terima kasaih untuk segala kebaikan itu. Aku hanya mengagumimu, aku mencintai temanmu. Katamu selalu di penghujung cerita malam, dua detik sebelum alarm shubuh memaksa bangun dari tempat tidurku.

  • view 20