Setumpuk Novel Yang Tak Laku

Alfi  syahri
Karya Alfi  syahri Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Mei 2016
Setumpuk Novel Yang Tak Laku

“Rul, tugas kamu jualan buku ya, pokoknya harus terjual semuanya”

“Siap, gampang”

Tugas pertamaku, julan buku. Terlalu mudah memang, mengambil buku dari penerbit, dijual ke pengunjung di sepanjang malioboro pasti laku. Esok saat matahari tepat diatas kepala aku harus bertemu dengan Pak Chandra manager salah satu penerbit di jogja.

Lima menit berlau, mobil sedan yang kutumpangi melesat jauh pergi hilang ditelan kelokan tajam diujung jalan. Aku kini berdiri tepat didepan bangunan kecil bercatkan putih yang mulai kusam. Aku melangkah memasuki area parkir yang yang tidak terlalu luas, hanya berjajar beberapa mobil pribadi dan satu sepeda motor.

“Siang Mas Arul, Silahkan masuk” Pak Chandra mengajakku keruangan kecil tapi cukup untuk kami berdua.

“Sudah lama menunggu” Tanyanya. Pertanyaan sederhana untuk memulai memulai topik pembicaraan.

Aku menggeleng.

“Belum lama kok Pak” Jawabku sekenanya.

Pak Chandra memperbaharui duduknya. Memulai diskusi kesepakatan kerjasama sponsor. Mengeluarkan selembar kertas dan tanda tangan diatasnya.

“Clear ya,” Pak Chandra menjabat tanganku, memberikan kertas tersebut dan lekas pergi mengantarku keluar gedung. Aku menatapnya lamat-lamat. Mengangguk takzim. punggungnya hilang bersamaan dengan tertutupnya pintu gedung yang berdecit.

Kerjasama sponsor, Aku dapat seratus eksemplar novel karya penulis terkenal. Tugasku menjualnya, hasil dibagi sama rata. Sesampainya dirumah semua keperluan kusiapkan. Besok aku siap berjualan.

***                                                                                    

Saat matahari mulai naik sepenggalan, aku sudah siap dengan ransel dipundak dan kardus kecil berisi tumpukan buku. Kulangkahkan kaki menyusuri setiap sudut ruas jalanan malioboro, tampak disana pengunjung ramai sekali, ada yang sedang bercanda dengan pacarnya atau mungkin teman kecil yang sudah lama tak berjumpa, akrab sekali.

Satu-dua orang kutawari dan dua-duanya menolak dengan alsan yang sama. Sudah punya. Aku melanjutkan perjalanan, pengunjung mulai berdatangan terlihat diseberang sana gerombolan anak kecil tertawa riang ditemani beberapa orang tua yang sesekali memarahi mereka karena buang sampah sembarangan.

Aku berlari menawari kembali novel-novel ku, tetap sama tak ada yang membeli.  Kulihat jam tanganku. Sudah jam sebelas ternyata. Semangatku masih ada tapi tidak dengan fisikku. Wajahku banjir keringat, kakiku pun mulai letih, lecet pula. Aku meringis saat ku guyur goresan kecil di kaki dengan air.

Kuayunkan lagi kakiku yang lemah, memulai berjualan kembali. Baru sepuluh langkah kepalaku mendadak pusing, tak kuat lagi berjalan. Kupaksakan kaki ini berjalan tapi yang terjadi aku terhuyung jatuh. Seorang Bapak datang membantu, mengangkat tubuhku yang tergolek lemah. Aku berusaha bangkit ingin berjualan lagi tapi Bapak itu menahanku.

“Istitahatlah dulu, Nak” Aku menurut. Bapak itu memesan dua gelas es teh yang biasa dijual di pinggiran jalan. Lalu memberikannya satu padaku.

“kenapa kamu terlihat lelah sekali,Nak?. Sedang apa kamu disini?.” Kuceritakan semuanya dari awal. Dari bertemu Pak Chandra sampai aku terduduk lemas disini.

“Kenapa hidup ini berat sekali, Pak. Hanya untuk mendapat seribu rupiah saja terlihat mustahil” Aku tertunduk lesu.

“Apa kamu masih mendapatkan kiriman dari orang tuamu?” Aku menatap wajahnya. Mengangguk.

“berapa kali kamu menelponnya dalam seminggu?”

Aku berpikir sejenak. “Dalam seminggu pun aku belum pasti menelponnya”.

“Perlu kamu ketahui, Nak. Orang tuamu bisa jadi lebih lelah dari keadaanmu saat ini. Bekerja hingga larut malam mencari rupiah demi rupiah agar kamu bisa terus sekolah dan yang jelas mereka tidak ingin kamu susah seperti mereka. Hidup ini sederhana, Nak. Kamu patuhi aturan orang tuamu selama tidak melanggar aturan agama. Cintai mereka, sempatkanlah waktu untuk menelponnya ditengah kesibukanmu, karena mendengar suara anaknya adalah sumber kebahagiaan mereka.

Untuk masalahmu, Allah sudah berjanji dalam Al-Qur’an “Bersama Kesulitan ada kemudahan”.  Maka berusahalah, Allah tidak pernah ingkar janji,Nak.”. Bapak itu tersenyum, menganggkuk takzim. lantas berdiri dan melangkah pergi. Aku menangis dipinggiran jalan dengan setumpuk novel yang tak satupun laku.

Jalanan maliobro lengang hanya terdengar suara adzan yang saling bersahutan.

  • view 413