MAKNA TUTURAN “WULLA PODDU” PADA MASYARAKAT SUMBA BARAT KECAMATAN LOLI DESA TANA

Avrill Lede
Karya Avrill Lede Kategori Budaya
dipublikasikan 19 Januari 2018
MAKNA TUTURAN “WULLA PODDU” PADA MASYARAKAT SUMBA BARAT KECAMATAN LOLI DESA TANA

MAKNA TUTURAN “WULLA PODDU” PADA MASYARAKAT SUMBA BARAT KECAMATAN LOLI DESA TANA RARA

 

Dupa bewa
Dupahbewa@gmail.co.id
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesi, Universitas Muhamadiya Kupang
 

Abstrak

Wulla Poddu adalah bulan suci atau bulan pemali bagi masyarakat sumba barat (loli) yang lebih khususnya bagi yang masih memeluk atau menganut kepercayaan marapu. Jadi, wulla poddu artinya “bulan pahit” Wulla itu bulan dan Poddu itu pahit. Disebut pahit karena sepanjang satu bulan penuh yang sudah ditetapkan tanggal mulai dan berakhirnya acara wulla poddu itu semua warga sumba barat terlebih khususnya pemeluk kepercayaan marapu mempersiapkan diri dari segalah hal dari yang kecil sampai yang besar yang berkaitan dengan berbagai macam keperluan individu atau kelompok itu sendiri untuk merayakan Wulla Poddu. Tuturan Wulla Poddu bertujuan untuk memohan berkat dan sarana mengucap syukur kepada merapu, dewa, leluhur, atau para nenek moyang terdahulu. Sehingga hasil panen yang diterima pada wulla poddu yang berlangsung selama satu bulan itu merupakan ungkapan syukur terhadap hasil panen yang diterima dan bahkan tahun yang akan datang.

Kata kunci: makna, dan tuturan wulla poddu

 

Pendahuluan

     Indonesia merupakan negara yang kaya akan kekayaan alam dan kebudayaan yang beraneka ragam. Kekayaan alam dan kebudayaan negara Indonesia sampai dengan saat ini sangat terkenal baik itu di Indonesia sendri maupun di luar negri atau manca negara. Indonesia yang dikenal kaya akan keindahan alamnya dan kebudayaan ini membuat banyak wisatawan asing yangdatang ke negara Indonesia untuk melihatnya secara lebih dekat. Kekayaan alam Indonesia dapatdi lihat dari panorama alam yang begitu indah dan pemandangan bawah laut juga tak kalah indahnya, dan keragaman kebudayaan bangsa Indonesia yang tersebar luas di wilayah Indonesiaantara lain tarian daerah, lagu daerah, dan cerita rakyat dari setiap wilayah atau setiap daerah. Namun di era globalisasi sekarang ini, dengan adanya perkembangan iptek, kebudayaandaerah/tradisi/adat istiadat seakan-akan terabaikan oleh masyarakat Indonesia apa lagi bagimasyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Padahal jika di lihat secara saksama,kebudayaan/tradisi/adat-istiadat juga penting bagi masyarakat.

   Menurut Herokovits bahwa kebudayaan adalah segalah sesuatu yang diteruskan secara terun temurun dari satu generasi lain atau disebut superorganik, kebudayaan berisikan seluruh nilai, norma, pengertian, ilmu pengetahuan, struktur sosial dan nilai lainya sebagai wujud intelektual dan rasa seni yang menjadi identitas atau ciri khas suatu masyarakat.

   Melville dan Bronislaw mengungkapkan bahwa segalah hal yang terdapat dalam masyarakat di tentukan oleh “culture” (kebudayaan) masyarakat itu sendiri.sehingga dapat dikatakan bahwa pengertian kebudayaan adalah segala hal yang kompleks, yang didalamnya berisikan kesenian, kepercayaan, pengetahuan, hukum, moral, adat istiadat serta keahlian ataupun ciri khas lainnya yang diperoleh individu sebagai anggota dalam suatu masyarakat.

   Wulla poddu berasal dari kata wulla berarti bulan dan poddu berarti pahit. jadi secara harafiah wulla poddu berarti bulan pahit, disebut pahit karena sepanjang bulan itu ada sejumlah larangan yang harus dipatuhi dan serangkaian ritual yang harus dijalankan. Inti wulla poddu adalah bulan suci bagi kepercayaan marapu. Bayak ritual yang digelarkan selama wulla poddu itu berlangsung antara bulan oktober- november setiap tahun sekali. Wulla poddu bertujuan memohon berkat, mengucap syukur, ada yang bercerita tentang asal usul nenek moyang dan ada pula yang menggambarkan bagaimana proses manusia menurut kepercayaan marapu. Kampung utama yang merayakan wulla poddu tersebut yaitu kampung Tambera, Gelakoko, Tana rara, Tarung, Bondo maroto, nama kampung ini kampung sentral ritual. Disepanjang bulan itu banyak yang orang berburu babi hutan. Hasil buruan diserahkan kepada rato sambil bertanya jawab dalambentuk pantun adat (kajalla). Babi hutan pertama kali ditangkap biasanya menjadi indikator hasil panen. Babi jantan berarti hasil panen memuaskan, jika babi betina yang sedang bunting maka menandakan hasil panen kurang baik, sementar kalau babinya mengigit orang berarti bakalan ada hama tikus. Di bulan ini juga para pemuda pandai menjalani proses sunatan, dan selama beberapa hari diasingkan ke alam liar untuk hidup mandiri sebagai tanda kedewasaan.

Bagian Inti

  1. Makna wulla Poddu

     Wulla Poddu diawali dengan semedhi para rato marapu untuk menentukan masa bulan suci. Wulla poddu berasal dari kata wulla berarti bulan dan poddu berarti pahit. jadi secara harafiah wulla poddu berarti bulan pahit, disebut pahit karena sepanjang bulan itu ada sejumlah larangan yang harus dipatuhi dan serangkaian ritual yang harus dijalankan. Inti wulla poddu adalah bulan suci bagi kepercayaan marapu. Dan seperti umumnya terjadi pada masyarakat tradisional mana pun penentuan masa ini tidak berdasarkan kalender masehi, tapi berdasarkan perhitungan yang mengacu pada gejala alam dan benda langit, terutama bulan. Jenis dan waktu penyelenggaraan ritual pun tidak selalu sama antara kampung yang satu dengan kampung lainnya. Berikut ini adalah tahapan ritual Wulla Poddu yang dilaksanakan di Kampung Tana Rara, sebuah kampung tua di sebelah Utara Waikabubak.

  1. Tahap-tahap Ritual wulla Poddu
    Deke Ana Kaleku
    Merupakan ritual pertama bulan suci yang ditandai dengan kedatangan rato dari kampung Geila Koko yang bertugas sebagai pembaca bulan. Rato ini datang untuk menyerahkan kaleku, semacam clutch bag tradisional Sumba berisi sirih dan pinang (dua jenis buah yang selalu digunakan dalam ritual pemujaan) dan dengan itu Wulla Poddu pun dimaklumkan.
    2. Tubba Ruta (cabut rumput)
    Ritual ini berlangsung di sebuah gua kecil tak jauh dari kampung. Gua tersebut sangat disakralkan karena di dalamnya tersimpan sebuah guci keramat bernama Dinga Leba yang merupakan objek utama pemujaan untuk mandapatkan berkat marapu. Seperti namanya, ritual tubba ruta merupakan kegiatan bersih-bersih. Area sekitar gua dipagari dan dibersihkan, begitu juga dengan Dinga Leba. selesai dibersihkan guci tersebut diisi air yang bersumber dari mata air suci. Nanti, pada ritual selanjutnya yang berlangsung beberapa minggu kemudian, air ini akan diperiksa lagi dan dijadikan media meramal hasil panen. Tubba rutta berlangsung pada malam hari dibawah pimpinan Rato Uma Lede. Setelah kegiatan selesai sang rato pulang ke rumah dan melanjutkan pemujaan hingga dini hari (pakaleku baga).
    3. Kaleisuna
    Ritual ini dilaksanakan sore hari setelah tubba ruta, berupa penyampaian undangan oleh rato yang berperan sebagai Ina-Ama kepada rato-rato lain yang bermukim di kampung Tambera untuk mengikuti acara Tauna Marapu.
    4. Tauna Marapu
    Merupakan forum musyawarah para rato untuk membicarakan persiapan pelaksanaan Wulla Poddu. Pada kesempatan ini dilakukan upacara pemujaan (noba) dengan menyembelih sejumlah ayam milik kabisu-kabisu yang terlibat. Usus masing-masing ayam diperiksa, jika bentuknya bagus maka kabisu yang bersangkutan akan mendapat panen yang bagus pula, tapi jika sebaliknya berarti panennya bermasalah sehingga kabisu tersebut perlu mempersiapkan diri dengan bekerja lebih giat. Tauna Marapu biasanya selalu diikuti dengan ritual Padedalana atau
    pengumuman pelaksanaan Wulla Poddu yang diteriakkan secara berantai dari rumah ke rumah, agar para warga segera mempersiapkan diri menyambut bulan suci.
    5. Pogo mawo
    Ritual pemotongan pohon pelindung dari jenis tertentu yang harus memiliki delapan tumpuk ranting. Pohon ini agak susah dicari, biasanya di hutan-hutan yang ada di sekitar kampung. Setelah ditemukan, harus dipotong saat itu juga lalu digotong ke kampung untuk ditanam di dekat Natara Poddu. Pohon ini dipercaya akan memberi perlindungan dan kemakmuran bagi warga selama satu tahun penuh (hingga wulla poddu berikutnya). Karena ditanam tanpa akar pohon ini tentu akan mengering dan daun-daunnya bakal berguguran. Proses alamiah yang biasa saja tapi bagi warga kampung dipandang sebagai suatu indikasi. Bagi mereka, daun yang gugur sebelum waktunya adalah pertanda kemakmuran yang berumur pendek. Di kampung Tambera, ritual Pogo Mawo selalu dibarengi
    pertandingan gasing antara kabisu Anawara melawan kabisu Wee Lowo yang hasil akhirnya dipandang sebagai indikasi juga. Jika pemenangnya kabisu Anawara maka daerah sekitar Loli dipercaya bakal menikmati panen melimpah, jika sebaliknya maka kelimpahan panen akan menjangkau area yang lebih luas.
    6. Mu Luwa
    Mu luwa yang artinya makan ubi, merupakan forum musyawarah kedua untuk memutuskan apakah ritual-ritual Wulla Poddu berikutnya akan dilaksanakan di dalam rumah (kabu kuta) ataukah di halaman. Disebut mu luwa karena pada kesempatan inisemua peserta membawa ubi dari rumah masing-masing lalu dimakan bersama di rumanya Rato, tempat musyawarah dilangsungkan. Mereka juga memberikan persembahan kepada roh-roh leluhur agar Wulla Poddu tahun itu berjalan dengan lancar.
    7. Toba Wanno
    Toba Wanno berarti bersih kampung, ritual ini bertujuan membersihkan kampung dan warganya dari penguasaan roh-roh jahat. Toba wanno diawali dengan pendirian lada talla, kerangka bambu tempat menggantung seperangkat gong sakral, lalu dilanjutkan dengan pemukulan Ubbu, sebuah tambur (bedu) keramat yang hanya dibunyikan setahun sekali. Menurut rato bagian atas tambur aslinya terbuat dari kulit manusia, namun karena telah rusak dimakan usia maka sekarang ini diganti dengan kulit kerbau persembahan. Tidak seperti tambur-tambur lain, seluruh sisi Ubbu diselubungi dengan kain. Pemukulan Ubbu merupakan tanda mulai berlakunya laranganlarangan di bulan suci. Toba Wanno adalah sebuah ritual yang mengesankan. Semua rangkaian upacara dilakukan pada malam hari dalam suasana gelap gulita. Pada malam itu tidak boleh ada cahaya sedikit pun. Dalam gelap yang pekat semua warga keluar dari rumah masing-masing dengan membawa sebuah wadah terbuat dari tempurung kelapa. Wadah -wadah ini, yang berisi abu dapur simbol roh-roh jahat, diletakkan di suatu tempat di luar gerbang kampung lalu semua warga bergiliran melemparinya dengan tongkat kayu yang telah diberi tanda. Keesokan harinya, para warga kembali ke tempat itu untuk memeriksa hasil lemparan masing-masing. Jika ada yang tepat sasaran maka si pelempar dipercaya bakal berhasil memburu babi hutan.
    8. Woleka Lakawa (Nyanyian Bocah)
    Ritual yang satu ini juga dilaksanakan di malam hari tanpa penerangan, dimana sejumlah anak-anak berkumpul di natara podu lalu bernyanyi bersama diiringi alunan gong. Woleka Lakawa berlangsung setiap malam hingga tiba ritual selanjutnya.
    9. Rega Kulla (Sambut Tamu)
    Sesui namanya Rega Kulla merupakan ritual penyambutan tamu adat yang terdiri dari serombongan rato dari kampung Tambera. Para kulla datang ke kampung Tana Rara yang berjarak sekitar 6 km dengan menunggang kuda, dan konon katanya disertai anjing- anjing Marapu yang tak kasat mata. Mereka akan tinggal selama tiga hari dan selama waktu itu melakukan perkunjungan ke kampung-kampung sekitar, lalu mengikuti perayaan di gua suci. Tujuan inti dari kedatangan mereka memang untuk mengambil simbol berkat di gua tersebut. Di masa silam, rato-rato Tarung turut menjadi kulla di Tambera. Namun akibat perselisihan yang terjadi pada tahun 1970an mereka tidak lagi ikut serta dan mengambil berkat ditempat tersendiri.
    10. Dudiki Ina Roma
    Merupakan ritual perkunjungan yang dilakukan oleh rato-rato Tambera selama berdiam di Tana Rara. Pada hari pertama mereka berkunjung ke kampung Geilakoko. Dihari kedua mereka berkunjung ke kampung Ketoka.
    11. Sangga kulla
    Inti ritual ini (dan sebetulnya merupakan inti perayaan Wulla Poddu) adalah pengambilan berkat di gua suci. Sekitar jam tiga sore, rato-rato Tambera, kulla Bondo Maroto dan seluruh warga kampung berangkat menuju gua suci. Tapi hanya para rato yang diijinkan masuk ke dalam gua, dan hanya dua diantara mereka yaitu Rato Rumata dan Rato Wee Lowo yang boleh mendekati Dinga Leba (guci keramat). Mereka melakukan pemujaan, memberikan persembahan dan memeriksa air dalam guci keramat. Jika air suci yang telah isi beberapa waktu sebelumnya tetap penuh, berarti hasil panen bakalan melimpah, jika tinggal sedikit berarti hasil panen tidak begitu bagus. Setelah pemujaan selesai, Rato Rumata menyerahkan kawuku (simbol berkat dalam wujud simpul tali) kepada ratorato Bondo Maroto. Dan begitu berkat diterima, para Kulla itu segera mengambil kuda-kuda mereka dan bergegas pulang, tidak boleh menoleh ke belakang sampai tiba di kampung. Kepulangan mereka disambut meriah dengan perayaan dan tari-tarian yang berlangsung sepanjang malam. Di Kampung Tambera juga ada perayaan besar yang disebut Wolla Kawuku, dimeriahkan dengan tarian, nyanyian serta wara (pitutur adat tentang asal usul nenek moyang). 
    Perayaan ditutup menjelang dini hari, saat Rato Rumata turun ke natara podu, berkeliling arena sambil menyanyikan lagu Dingu Manu diiringi alat musik tradisional yang disebut katuba. Beberapa orang wanita, masing-masing memegang satu ekor ayam (manu), beriringan dibelakangnya sambil menari.
    12. Wolla Karua (perayaan beras suci)
    Inti perayaan ini adalah menumbuk beras suci (bai wesa karua) yang berlangsung di setiap rumah adat. Padi ditumbuk dalam lesung yang tertutup kain, oleh dua sampai lima orang pria berbusana adat lengkap. Beras yang telah ditumbuk sebagian dibawa ke Uma Rato untuk dimasak beramai-ramai saat penutupan Wollu Poddu kelak. Wolla Karua dirayakan selama tiga malam dan dimeriahkan dengan wara dan tari-tarian.
    13. Wolla Wesa Kapai
    Ada dua kegiatan inti yang dilaksanakan pada kesempatan ini yaitu Pogo Weri: pemotongan daun kelapa muda yang berfungsi sebagai simbol atau tanda larangan (weri), dan Oke Wee Maringi: pengambilan air suci. Baik weri maupun air suci ini untuk sementara waktu disimpan di uma rato, keduanya baru akan digunakan pada puncak perayaan Wulla Poddu yang disebut Kalango Lado. Weri nantinya akan dipasang di bina tama (pintu masuk) dan bina lousu (pintu keluar) sementara air suci akan dipercikkan kepada seluruh peserta upacara sebagai tanda pemberkatan.
    14. Manaa Massusara Male
    Manaa artinya memasak sedangkan Massura Konsep dasar perayaan ini adalah pulang kampung, dimana semua anggota kabisu berbondong-bondong pulang kampung untuk ikut merayakan puncaka acara Wulla Poddu (kalango) yang akan berlangsung esok harinya. Masing-masing membawa satu ekor ayam untuk dipersembahkan kepada Ama Wolu Ama Rawi sebagai ungkapan syukur dan mohon perlindungun. Ada beberapa ritual penting dalam perayaan ini, antara lain: Mamulla: ritual berkumur dengan air suci yang dilakukan semua warga di rumah maing-masing sebagai simbol pembersihan diri dari segala dosa dan kesalahan. Dengi Wini: prosesi pengambilan beras suci dari rumah-rumah yang berperan dalam wulla poddu. Dengi Wini adalah ritual yang sakral dan hening. Hanya segelintir rato yang diperbolehkan hadir sementara seluruh warga harus mengunci diri di rumah masing-masing. Tidak boleh ada suara, bahkan anjingpun diungsikan ke luar kampung agar tidak berisik. prosesi yang berpusat di natara poddu dan Uma Rato ini dimulai dengan pemukulan gong suci, diikuti tarian dua pemuda tanggung yang bertugas sebagai pengumpul beras (boga dima). Selanjutnya, dengan membawa kaweda (simbol marapu) dan wadah beras mereka menuju ke beberapa buah rumah yang akan diambil berasnya. Mereka tetap melangkah dalam gerak tari mengikuti irama gong ditengah kampung yang kosong dan hening. Setelah beras diambil, mereka kembali ke Uma Rato, menyimpan beras di tempat yang telah disediakan, lalu mengulangi prosesi yang sama di rumah berikutnya, satu demi satu hingga selesai. Baru setelah itu warga diijinkan keluar rumah dan acara kumpul-kumpul pun dimulai. Hiruk pikuk perayaan berpusat di Uma Rato. di sini berlangsung ritual Ana Kuku, lomba makan nasi antara dua kelompok anak-anak, kabisu Anawara vs. kabisu Wee Lowo.
    15. Kalango Lado

Kalango Lado merupakan puncak perayaan wulla poddu yang berlansung dari pagi hingga pagi berikutnya. Perayaan dimulai dini hari dengan pementasan tarian di natara podu. Lalu pada jam tujuh pagi sebagian Rato Tambera berangkat ke kampung-kampung
sekitar untuk menghadiri upacara penutupan wulla poddu di kampung-kampung tersebut.
Rato Rumata menuju Geila Koko. Rato Wee Lowo menuju Rate Wana. Rato Anawara dan Rato Tadeila Goro menuju Prai Gege. Sebagian rato yang lain tetap tinggal untuk mempersipakan para penari yang akan memeriahkan acara puncak. Sekitar jam 12 siang, Rato Wee Nogo yang berperan sebagai Koda Laiya Bili (leluhur pertama yang datang dari seberang) memasuki natara podu. Ia memakai kostum kulit kayu, wajahnya berlumur jelaga dan menunggang kuda kepang bernama Dara Wala Gole yang dianggap sebagai simbol kendaraan leluhur mereka saat mengembara mencari hunian. Koda Laiya berkeliling kampung meminta derma pada orang-orang. Tak lama kemudian para Rato kembali ke kampung, disambut musik dan tari-tarian. Sekitar jam tiga sore rombongan rato dari Geila Koko, Rate Wana, Watu Bolo dan Prai Gege tiba di Tambera. Keempat rato ini wajib hadir untuk berpartisipasi dalam ritual paana yang akan digelar tengah malam nanti. Selanjutnya giliran Rato Tadeila Goro yang dijemput memasuki arena upacara. Dengan tongkat keramat tergenggam ditangan, sang rato naik ke atas batu kubur yang pada saat itu difungsikan sebagai podium lalu melantunkan syair-syair berisi penegasan perjanjian antar kabisu sekaligus mengumumkan dimulainya kalango lado. Lalu giliran Rato Rumata membawakan Wara di natara podu.

Sang rato memasuk arena upacara dengan segala atribut kebesarannya diringi para penari pria maupun wanita. Selesai wara, acara berlanjut dengan tari-tarian. Jam 20.00, giliran Rato Sugu Bedu yang dijemput ke halaman suci untuk melaksanakan ritual weri bina, yaitu pemasangan weri dikedua gerbang kampung, Begitu weri terpasang tak seorangpun diperbolehkan keluar kampung hingga kalango berakhir. Selanjutnya Rato Rumata kembali mengambil peran, kali ini untuk memercikkan air suci ke seluruh peserta upacara sebagai tanda keberkatan. Selepas tengah malam digelar ritual Paana yang merupakan inti perayaan Kalango di kampung Tambera. Paana yang secara harafiah berarti melahirkan adalah sebuah ritual suci yang bercerita tentang proses pencipataan dan kelahiran manusia. Ritual ini melibatkan 12 kabisu yang masing-masing diwakili oleh satu orang Rato. 10 orang rato membentuk lingkaran di tengah natara poddu. Satu orang berdiri di dalam lingkaran dan seorang lagi di luar lingkaran. 

Sepanjang prosesi, Rato yang berdiri di luar akan berkeliling lingkaran sambil mengajukan pertanyaan-pertanyan dalam syair adat yang harus dijawab oleh Rato dalam lingkaran. Pertanyaan diajukan secara bertahap. Tiap tahap
ditandai dengan gerakan tubuh yang dilakukan serempak oleh semua rato yang membentuk lingkaran. Gerakan tahap yang satu dan lainnya selalu berbeda-beda dan masingmasing berupa gambaran penyatuan seksual yang berakar dari sebuah legenda tentang Kamuri, seorang perempuan yang kisah hidupnya menjadi cikal bakal pelaksanaan Wulla Poddu. Menurut legenda tersebut manusia pertama diciptakan oleh Mawolo - Marawi (Zat Tertinggi) dari tetesan air dalam botol yang menetes dan menyatu dengan air yang berada di piring ceper (Bu'bu Gusi - Lala Piaga). Sepasang manusia pertama bernama Lamura Winne dan Lamura Mane ini mengembara di bumi dan pada saatnya mulai berpikir bagaimana caranya untuk berkembang biak. Karena tidak tahu bagaimana tepatnya berhubungan seksual mereka mulai bereksperimen. Pertama-tama dengan berpegangan tangan tetapi ternyata yang lahir adalah seekor tekukur dan seekor ayam. 
Beulangkali mereka mencoba pada area tubuh yang berebeda-beda, dan baru pada usaha kedelapan mereka melakukannya dengan benar hingga lahir seorang bayi perempuan yang dinamai Kamuri. Eksperimen-eksperimen inilah yang mendasari tiap tahap gerakan dalam ritual Paana. Ritual Paana biasanya berakhir menjelang fajar diikuti pemukulan tambur suci, yang kali ini sebagai pertanda di mulainya Dappa Deke Oma yaitu larangan berkebun selama tiga hari. Selepas 3 hari, dilakukan pemujaan di gua suci (Wotti Kalowo) sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Marapu selama wulla poddu, juga di sawah dan di ladang. Selanjutnya semua berkumpul di natara podu untuk menggelar ritual terakhir yang disebut Padinaka Nga'a Bisa, memasak beras suci yang pada ritual sebelumnya telah disimpan di uma rato. Esok harinya para rato mengumandangkan "Yemmo !? satu kata yang menandakan berakhirnya Wulla Poddu. Perayaan wulla poddu di kampungkampung lain pada intinya sama dengan kampung Tambera, namun dalam versi yang lebih pendek dan sedikit variasi ritual.

 

Penutup

Kesimpulan/saran

     Berbicara tentang Sumba atau Khususnya masyarakat di Kabupaten Sumba Barat tentu tidak bisa dipisahkan dari kata Budaya. Budaya sudah menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan baik dalam bidang kemasyarakatan, sosial maupun dalam bidang yang lainnya. Masyarakat Sumba Barat adalah masyarakt yang masih memegang tradisi dan kepercayaan yang begitu kuat terhadap tradisi ataupun adat-istiadat nenek moyang. Kehidupan masyarakat Sumba Barat sendiri bisa digambarkjan sebagai masyarakat yang masih bergotong royong, meskipun hal tersebut kini sudah jarang terlihat. Kehidupan  masyarakat Sumba Barat sendiri sebenarnya sudah memeluk beberapa agama besar yang di akui oleh Pemerintah Indonesia tapi berhububung masyarakat Sumba Barat sudah memegang tradisi yang turun temurun maka kepercayaan aslinya yaitu kepercayaan “Marapu” masih tetap ada. Marapu sendiri merupakan suatu aliran kepercayaan. Atau kepercayaan lokal. Dengan adanya kepercayaan lokal tersebut merupakan hal yang menarik karena ditengan masuknya arus globalisasi atau masuknya pengaruh-pengaruh dari luar kepercayaan “Marapu”tetap terjaga dan masih lestari sampai saat ini.  Hal tersebut patut dibanggakan oleh kita terutama masyarakat Sumba Barat karena tradisi kita masih tetap terjaga dan sudah sepatutnya kita membanggakannya. Jadi budaya merupakan juga salah satu nilai pancasila, untuk itu bagi para generasi muda teruslah menjaga dan melestarikan budaya dan daerah kita masing-masing agar tidak punah dimakan waktu yang seiring perkembangan globalisasi. Saran juga buat orang tua agar terus memperkenalkan budaya daerahnya masing-masing dari generasi ke generasi dan bagi pemerintah agar dapat terus memperkenalkan kebudayaan daerah agar masyaraat indonesia tidak melupakan kebudayaan dan bangsanya sendiri dan kebudayaan banggsa indonesia agar dapat terkenal hingga di manca negara.

Daftar Rujuk

________, 2001. Pengantar Penelitian Kebudayaan. Malang: FS UM

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1979. Arti Bahasa, Pikiran dan Kebudayaan, dalam

Hubungan Sumpah Pemuda 1928. Jakarta: PT Dian Rakyat

Kayam, U. 1989. Transformasi Budaya Kita. Horizon, XXIV (08, 09, 10): 256-

269;292-298;328-335.

Kartodirdjo, S. 1987. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah.

Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

  • view 93