Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 19 Januari 2018   09:13 WIB
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA SISWA KELA

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA

MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL

PADA SISWA KELAS II

 

EMILIA JENGA

[email protected]

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammdiyah Kupang

 

 

ABSTRAK

Keterampilan berbicara siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri inpres mokdale dinilai masih sangat rendah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keterampilan berbicara siswa, diantaranya adalah kurangnya kreativitas dan kemampuan dari guru untuk menggunakan metode dan media yang bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media audiovisual pada siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri inpres mokdale. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah guru dan 25 siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri inpres modale. Penelitian ini dilakukan sebanyak 3 siklus. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan keterampilan berbicara, baik dari aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Hal ini terlihat dari hasil keterampilan berbicara siswa pada siklus III, yaitu aspek kebahasaan mencapai 88% dan nonkebahasaan 80%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audiovisual dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas II Sekolah Dasar Negeriinpres mokdale.

 

Kata Kunci : Peningkatan, Keterampilan Berbicara, Media Audiovisual

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan penyempurnaan dari kurikulum berbasis kompetensi. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dijelaskan bahwa ruang lingkup mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia mencakup empat aspek kemampuan berbahasa, yaitu : mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Berdasarkan empat aspek di atas, peneliti mengambil aspek berbicara dalam penelitian ini, untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan guru adalah menerapkan media pembelajaran yang mampu memotivasi siswa untuk berbicara yang lebih baik, agar setiap siswa bisa terlibat langsung dalam proses belajar mengajar.

Menurut Djago Tarigan (1991:143), kemampuan berbicara adalah menyatakan maksud dan perasaan secara lisan, sudan dipelajari dan mungkin sekali sudah dimiliki siswa sebelum mereka memasuki sekolah. Taraf kemampuan berbicara siswa ini bervariasi dari tarap baik atau lancar, sedang, gagap atau kurang. Ada siswa yang lancar menyatakan keinginan, rasa senang, sedih, atau letih, bahkan mungkin dapat menyatakan pendapatnya mengenai sesuatu walau dalam taraf sederhana. Beberapa siswa belum dapat menyatakan dirinya secara efisien. Beberapa siswa masih takut-takut berdiri dihadapan teman sekelasnya. Bahkan tidak jarang kita melihat siswa berkeringat dingin, berdiri kaku, lupa segalanya bila ia berhadapan dengan sejumlah siswa lainnya. Salah satu alternative untuk mengatasi masalah pemeblajaran berbicara adalah menggunakan media audiovisual.

 

BAGIAN INTI

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas II Sekolah Dasar Negeri 14 Pontianak Utara. Pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia disajikan dalam 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dalam satu hari yakni hari Selasa pada pukul 07.00 – 08.45 WIB. Guru yang mengajar, sekaligus sebagai peneliti, yang menjadi guru kolaborator dalam penelitian ini adalah Ibu irina tuka, S.Pd. Jumlah siswa di kelas ini adalah sebanyak 25 Orang yakni 13 orang perempuan dan 12 orang laki-laki. Tindakan dilaksanakan sebanyak tiga siklus dengan materi pembelajaran masing-masing: menceritakan yang didengarkan, Kisah Alqomah, Kisah Si Tanggang dan bercerita tentang dongeng Cerita Malin Kundang.

Sebelumnya peneliti akan memaparkan analisis data tentang keterampilan berbicara sebelum menggunakan media Audiovisual adalah Guru telah mengajar dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab (menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan) yakni guru menyuruh seorang siswa membaca materi di depan kelas, siswa yang lain menyimak dan setelah itu, guru menjelaskan materi dengan metode ceramah, guru menyuruh siswa untuk bertanya tentang materi yang belum jelas, guru menyuruh siswa mengerjakan soal-soal.

Berdasarkan paparan di atas dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, keterampilan berbicara aspek kebahasaan siswa dinilai rendah hanya 7 orang saja yang cukup baik atau 28% dan dari aspek nonkebahasaan 5 orang atau 20% dan yang sebagian asyik ngobrol, kelas menjadi ribut dan ada pula yang diam, karena pembelajaran lebih banyak didominasi oleh guru. Hal ini berarti, keterampilan berbicara siswa sebelum mengunakan media audiovisual rendah dan belum mengaktifkan semua siswa. Dalam upaya pembenahan terhadap keterampilan berbicara siswa, sangat dibutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran agar dapat menciptakan suasana kelas yang penuh dengan keaktipan siswa dan guru tidak mendominasi. Oleh sebab itu peneliti optimis dengan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu melalui media audiovisual dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tahun Pelajaran 2016/2017 di Sekolah Dasar Negeri inpres mokdale. Untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa tersebut dilakukanlah tiga kali tindakan (3 siklus).

Pada siklus I dapat dijelaskan bahwa keterampilan berbicara, semua siswa mendapat kesempatan untuk berbicara. Namun masih ada sebagian siswa yang kurang aktif, dapat disimpulkan bahwa dari aspek kebahasaan 12 orang yang muncul dari 25 orang siswa atau 1225 ???? 100% = 48% dinilai cukup baik dan aktif dalam berbicara. Dan dari aspek non kebahasaan 10 orang yang muncul dari 25 orang siswa atau 1025 ???? 100% = 40% dinilai cukup baik dalam berbicara. Secara keseluruhan dapat dilihat dari siklus pertama ini, keterampilan berbicara siswa sudah ada peningkatan yang cukup baik, dibandingkan sebelum menggunakan media audiovisual, atau sebelum penelitian ini dilakukan.

Pada siklus II dapat dijelaskan bahwa keterampilan berbicara, semua siswa mendapat kesempatan untuk berbicara. Namun, masih ada sebagian kecil siswa

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Keterampilan berbicara siswa sebelum menggunakan media audiovisual, tergolong rendah. Hal ini terbukti hanya 7 orang siswa yang cukup baik atau 28% dari aspek kebahasaan dan 5 orang siswa yang cukup baik atau 20% dari aspek nonkebahasaan. Keterampilan berbicara siswa setelah menggunakan media audiovisual dalam tiga siklus meningkat yaitu menjadi 22 siswa atau 88% tergolong baik dari aspek kebahasaan dan 20 siswa atau 80% tergolong baik dari aspek nonkebahasaan.

Dapat disimpulkan melalui media audiovisual dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II Tahun Ajaran 2016-2017 di Sekolah Dasar Negeri inpres mokdale. Hal ini dapat dilihat dari analisis hasil observasi dan catatan lapangan bahwa adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas II dari siklus pertama hingga siklus terakhir seperti aktivitas membaca, bercerita, bertanya, menjawab, dan aktivitas emosional siswa. Setelah dianalisis dapat dilihat sebelum menggunakan media audiovisual keterampilan berbicara siswa dinilai rendah sekali yaitu hanya 28% dari aspek kebahasan dan 20% dari aspek nonkebahasaan. Setelah menggunakan media audiovisual ada peningkatan yang baik dari keterampilan berbicara siswa, yaitu pada siklus pertama yakni mencapai 48% dari aspek kebahasan dan 40% dari aspek nonkebahasan. Setelah mengikuti siklus II ditemui peningkatan yang baik dari keterampilan berbicara siswa, yakni menjadi 68% yang dinilai baik aspek kebahasan dan 60% yang dinilai baik dari aspek nonkebahasaan. Setelah mengikuti siklus terakhir dengan trik-trik dan memodifikasi langkah-langkah pembelajaran, ditemui peningkatan yang signifikan dari keterampilan berbicara siswa, yakni menjadi 88% yang dinilai baik aspek kebahasan dan 80% yang dinilai baik dari aspek nonkebahasaan.

 

 

 

 

 

Saran

 

Berdasarkan simpulan di atas, ada beberapa saran hasil pembelajaran yang telah dilakukan terhadap penggunaan media audiovisual ternyata dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Oleh karena itu, hendaknya guru-guru bahasa Indonesia melakukan pembelajaran menggunakan media audiovisual, untuk memilih media pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan karakteristik siswa agar mudah dalam menerima pembelajaran dan dalam pelaksanaan pembelajaran ini juga dibutuhkan seorang guru yang kreatif dalam menentukan media pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar yang akhirnya berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Rozak, Maifalinda Fatra. (2011) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Fakultas Ilmu Arief S. Sadiman (dkk), (2009) Media Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Arief S. Sadiman. (1996) Media Pembelajaran. Jakarta: PT Rajawali.

Arsyad danMukti, (1988) Penbinaan Kemampuan Berbicara, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Djago Tarigan. (1991) Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Susilo. (2009). Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Sleman:PUSTAKA Book

 

 

Karya : Avrill Lede