Kasus HRS Dalam Pandangan @Alfian Akbar Balyanan

Alfian Akbar Balyanan
Karya Alfian Akbar Balyanan Kategori Politik
dipublikasikan 13 Juni 2017
Kasus HRS Dalam Pandangan @Alfian Akbar Balyanan

Berangkat dari perdebatan kasus HRS soal chatnya bersama Firza kini membuat masyarakat terjebak dalam alur fikir yang sedang berkembang baik dari analisis hukum, politik, etis dan bahkan agama. Oleh karenanya pada kesempatan ini saya ingin memberikan sedikit pandangan terkait kasus tersebut.
 
Cara melihat kasus HRS harus dilihat dari prespektif yang imbang. Kita tidak bisa menggantungkan keyakinan kita pada HRS juga kepada Polri. Sebab, kedua pihak ini merupakan pihak yang bersengketa. Lalu, dengan siapa kita bergantung? Untuk menyimpulkan penilaian kita terhadap kasus ini.
Kabar baiknya hari ini adalah HRS telah membantu kita berpijak pada "Muhabalah" yang beliau ikrarkan. Apakah kita bisa berpegang pada ikrar tersebut? Jawabannya iya!, Karna, hanya dengan "Mubahalah" kita dapat dapat bersandar.
 
Qs. Ali Imran (3), "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta kepada Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta"
Sebagaimana yang diriwayatkan kepada Bukhari dan tafsir Ibnu Katsir, bahwa dalam kisah itu Kristen Najran berjumlah 2 orang yang mendatangi Nabi S.A.W untuk melakukan Mubahalah.
"Mubahalah" adalah ikrar manusia dengan Allah. Sehingga bagi kita yang memiliki iman adanya kekuasaan sang Maha Pencipta maka, sudah selayaknya kita mempercayai Muballah sebagai bagian dari kepercayaan kita pada Sang pencipta.
 
Jika kita menempatkan kerangka Hegel sebagai pisau analisis terhadap kasus ini. Maka, Mubahalah adalah sintesis dari dialektika pro-kontra pandangan yang ada. Pertanyaan kemudian muncul, Mengapa tidak menggunakan hukum sebagai instrumen utama dalam menyimpulkan kasus ini?
 
Dalam kasus ini, tinjauan hukum baik materil maupun formil tidak lagi dapat dijadikan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Mengapa? Sebab, kasus ini sangat sarat akan Trading in Influence.
Trading in Influence tidak dalam definisi Tindak Pidana Korupsi, namun dalam definisi "Penyalagunaan pengaruh yang nyata atau diperkirakan (Real or supposed influence)".
 
Walaupun secara pribadi saya tidak berpihak kepada HRS tetapi saya memandang ada upaya sistematis untuk melakukan pembunuhan karakter (Character assassination) kepada HRS melalui kasus tersebut dengan beragam motif dan kepentingan. Character assasination (pembunuhan karakter) adalah metode menjatuhkan reputasi seseorang. Sama seperti "smear campaigns". Tak-tik ini di gunakan oleh orang-orang yang bersebrangan dengan HRS. Agar HRS tampak buruk dan unworthy, metode "4D" ini dipake: descredit, defamation, demonize, dehumanize.
 
Dalam politik, character assasination dan smear campaigns bukan barang baru.Thomas Jefferson menyewa jurnalis melancarkan fitnah terhadap John Adams. Keduanya, sama-sama The Founding Fathers of USA. Abraham Lincoln juga abis-abisan diserang para pesaingnya.
 
Ini juga lagu lama. Taktik character assasination terdiri dari ad-hominem attacks. Selain manipulasi rumor, distorted news, half-truths dan kebohongan vulgar. Cara-cara khas propaganda majalah gossip. Taktik-taktik keji ini cukup efektif merusak reputasi HRS. Citra keburu ternoda sebelum kebenaran terungkap. Karena, memang itu motifnya. Penulis Joseph Burgo (2016), dalam buku "The Narcissist You Know" mengidentifikasi para pelaku smear campaigns dan character assasination sebagai psychopaths dan narsistik.
 
Saya tidak tahu apakah mereka bisa masuk kategori psikopat dan narsis. Tapi, memelintir fakta dan rekam jejak HRS adalah perbuatan keji. Dan mereka melakukan itu. Sepertinya perlu mengkonfrontir pihak-pihaknya baik HRS maupun mereka yang terkait dalam kasus ini sehingga kebenaran akan terbukti. Jika kebenaran itu disembunyikan serapi mungkin, niscaya Allah kan membalasnya.
 
Jakarta, 13 Juni 2017
 
(Alfian Akbar Balyanan)

  • view 60

  • agus geisha
    agus geisha
    4 bulan yang lalu.
    1. Ada rekaman, terutama video mengenai tantangann HRS untuk "Muhabalah". ?

    2. Kalimat "Cara melihat kasus HRS harus dilihat dari prespektif yang imbang" dengan "Walaupun secara pribadi saya tidak berpihak kepada HRS tetapi saya memandang ada upaya sistematis untuk melakukan pembunuhan karakter (Character assassination) kepada HRS melalui kasus tersebut dengan beragam motif dan kepentingan. " bertolak belakang !