#KurinduiITD Suara Anak Bangsa : Kembalikan Indonesia Ku.

Alfan Thoriq
Karya Alfan Thoriq Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 November 2016
#KurinduiITD Suara Anak Bangsa : Kembalikan Indonesia Ku.

Suara Anak Bangsa : Kembalikan Indonesia Ku.

Alfan Thoriq - SMAN 1 Pemali

                       “Masa depan milik mereka yang percaya kepada keindahan mimpinya.”                    

-Eleanor Roosevelt

            Tepat 71 tahun yang lalu, Bangsa Indonesia telah menorehkan catatan penting dalam sejarah dunia internasional. Catatan penting ini tidak hadir begitu saja, namun ada banyak pikiran, tenaga, dan nyawa  yang harus dipertaruhkan hanya untuk sebuah kata “Merdeka”. Sejarah panjang ini bermula ketika pihak yang kuat akan menguasai pihak yang lemah.  Hal ini telah terjadi pada negara kita. Hal ini dimulai ketika Imperialisme dan Kolonilisme merampas seluruh harapan rakyat Indonesia. Bangsa barat dengan kekuatan yang dimilikinya telah berhasil meluluhlantahkan harapan segenap Bangsa Indonesia. Nyatanya Indonesia memang telah jatuh dalam jurang ketidakberdayaan dibawah kekuasaan para penjajah. Hal ini telah memberikan catatan sejarah yang buruk bagi Bangsa Indonesia.  Setelah hampir 350 tahun dijajah oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang, telah menyadarkan seluruh rakyat Indonesia akan arti penting sebuah kebebasan. Kebebasan ini sepenuhnya merujuk pada sebuah kemerdekaan yang telah lama didambakan oleh segenap rakyat Indonesia. Kemerdekaan menjadi sebuah harapan yang tentunya akan menghantarkan kita menuju tatanan kehidupan yang lebih baik.

            Semangat patriotisme untuk memperjuangkan kemerdekaan telah berkobar ke seluruh penjuru negeri. Perasaan senasib sepenanggungan telah menciptakan semangat persatuan yang akan  menghantarkan Bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Bangsa Indonesia telah menorehkan catatan penting ketika berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Penjajahan ini terjadi bukan tanpa alasan, namun ada banyak alasan mengapa bangsa barat menjajah Indonesia. Alasan utamanya dikarenakan Indonesia mememiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Terlepas dari itu semua Indonesia harus segera bangkit dan harus segera mengambil peran penting dalam dunia Internasional.

               Indonesia adalah sebuah negara yang sangat kaya. Terdiri dari belasan ribu pulau yang membentang luas di bawah garis khatulistiwa laksana sabuk bermata zamrud. Kekayaan sumber daya alam tersebut terbentang luas ke seluruh penjuru Nusantara. Kekayaan tersebut menjadi mutiara yang tersembunyi di tanah Ibu Pertiwi. Indonesia merupakan negara yang berdiri di atas kaki perbedaan. Kondisi masyarakat Indonesia yang heterogen telah menghadirkan suatu paradigma yang berbeda dalam tatanan kehidupan. Perbedaan tersebut sangat terasa dengan adanya perbedaan pandangan, warna kulit, budaya, agama, ras dan/atau suku. Perbedaan itu tidaklah menjadi alasan unutk memecah belah Indonesia. Namun, nyatanya perbedaan tersebut telah hadir sebagai suatu bentuk keberagaman.

               Keberagaman tersebut merupakan bagian penting dari limpahan kekayaan  yang seutuhnya tersimpan di tanah pertiwi. Bangsa Indonesia yang beragam telah berhasil disatukan dalam satu  kesatuan yang tertuang berdasarkan prinsip integrasi nasional  di bawah naungan ideologi pancasila. Keberhasilan bangsa Indonesia menyatukan perbedaan menjadi keberagaman merupakan suatu nilai positif yang harus tetap dijaga dan harus segera diimplementasikan dalam kehidupan. Nilai positif tersebut akan menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Keberagaman tersebut menjadi modal sekaligus tantangan bagi Bangsa Indonesia. Tantangan ini sangat terasa terutama ketika bangsa Indonesia membutuhkan kebersamaan dalam menghadapi dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

                  Indonesia menempati urutan keempat negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia. Jumlah penduduk Indonesia berkisar 250 juta jiwa. Tentunya ini merupakan angka yang sangat besar bagi suatu negara. Populasi penduduk yang banyak ini bukan hanya sekedar perthitungan angka statistik saja. Bayangkan saja Indonesia yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Mianggas sampai Pulau Rote menyimpan banyak cadangan sumber daya alam yang begitu melimpah. Ada begitu banyak perbedaan pendapat dan pendangan. Ada begitu banyak ragam suku bangsa. Ada  begitu banyak kekayaan budaya. Ada begitu banyak keunikan bahasa daerah. Ada keyakinan agama yang berbeda. Bayangkan saja jika anugerah ini tidak bisa disatukan tentunya ini akan menjadi sebuah kegagalan yang nyata bagi Bangsa Indonesia. Tetapi, lihatlah kehebatan para pendiri bangsa kita. Perbedaan yang beragam ini telah berhasil ditaklukan yang kemudian disatukan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

                 Awal abad ke-20 dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai periode Kebangkitan Nasional. Pertumbuhan kesadaran yang menjiwai proses itu menurut bentuk manifestasinya telah melalui langkah-langkah yang wajar, yaitu mulai dari lahirnya ide emansipasi dan liberal dari status serba terbelakang, baik yang berakar pada tradisi maupun yang tercipta oleh situasi. Kemudian segera menyusul ide kemajuan beserta cita-cita unutk meningkatkan taraf kehidupan bangsa Indonesia. Dengan keadaan seperti itu, maka sejak saat itu dari seluruh aspirasi dan cita-cita masyarakat Indonesia untuk bersatu memerdekakan diri dari penjajah. Hal ini dilakukan demi mewujudkan Indonesia yang merdeka diatas tanah sendiri.

                  Ir. Soekarno pernah berkata “Jasmerah, jangan pernah melupakan jasa para pahlawan”. Sebagai generasi penerus bangsa kita dituntut untuk mengisi kemerdekaan. Makna dari kemerdekaan ini bukanlah hanya sekedar kebebasan semata. Namun, kemerdekaan ini dipersembahkan seutuhnya kepada seluruh rakyat Indonesia agar kita bisa menikmati tatanan kehidupan yang layak. Ketika kita bicara tentang perbedaan maka tentunya kita akan mengingat peristiwa “Sumpah Pemuda”. Masih ingatkah kita dengan salah satu catatan sejarah penting yang merupakan tonggak awal dalam mempersatukan seluruh komponen bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda bukanlah suatu peristiwa yang terjadi begitu saja, namun ada proses panjang yang harus ditempuh demi keberlangsungan kemerdekaan Indonesia.

               Peristiwa ini diawali oleh para pemuda yang berpaham kebangsaan nasional ingin mengadakan suatu bentuk konsolidasi nasional dengan melibatkan seluruh pemuda di nusantara. Mereka berpendapat bahwa sudah sepantasnya Indonesia bebas dari penjajahan. Mereka menggelarkan semangat kebangsaan atau nasionalisme Indonesia yang berasaskan persatuan (unitaris) serta memperluas dan menyebarkan ide semangat persatuan Indonesia. Para peserta kongres yang berbeda suku/ras, bahasa, dan agama tersebut datang hanya untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Perbedaan tersebut sempat dikhawatirkan akan menjadi batu sandungan bagi Indonesia. Kekhawatiran ini beralasan karena perbedaan tersebut tentunya bisa dijadikan alat bagi pihak penjajah untuk menggagalkan kongres pemuda tersebut dan kemudian akan memecah belah persatuan nasional.1 Namun, kekhawatiran tersebut bisa dibantahkan. Sejarah mencatat pada saat itu seluruh perwakilan pemuda yang berasal dari daerahnya masing-masing diterima secara baik dan diberikan kesempatan yang sama dalam kegiatan kongres pemuda tersebut. Ini merupakan salah satu cikal bakal bahwa walaupun kita berbeda tapi tidak ada alasan untuk terjadinya diskriminasi. Sejak saat itu para pendahulu bangsa kita telah mengajarkan pembelajaran kepada kita akan arti pentingnya kerukunan dalam perbedaan yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang mengedepankan kepentingan bersama tanpa adanya diskriminasi dan selalu menghargai setiap perbedaan yang ada.

                Masyarakat Indonesia tak lagi dinilai berdasarkan identitas sosialnya, baik agama, paham agama, etnis, dan jenis kelamin, Masyarakat Indonesia tak lagi diperlakukan berbeda karena ikatan primordialnya oleh tetangganya, hukum, dan pemerintah. Akan datang era dimana mereka hanya dinilai dan dihakimi berdasar karakter dan tindakan mereka saja. Mereka mendapatkan perlindungan hukum dan hak sosial, politik, ekonomi yang sama, tak hanya dalam wacana atau hukum tertulis, tapi juga dalam praktik kehidupan sehari- hari. Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi.Itulah era Indonesia masuk dalam kultur peradaban modern yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Harmoni dalam keberagaman ini bukan saja sangat kondusif bagi politik yang stabil. Bukan saja kondisi itu juga positif bagi ekonomi untuk tumbuh. Sekaligus juga harmoni itu membuat Indonesia terasa “homy.” Warganya merasa nyaman seperti teduhnya sebuah rumah yang dimiliki dan dinikmati bersama. Visi ini seharusnya sudah bisa dicapai sebelum 2028, atau 100 tahun setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan.2

_______________

  1. Kongres Pemuda dilaksanakan 2 kali, yaitu Kongres Pemuda I dan II.
  2. Gagasan Mimpi Indonesia Tanpa Diskriminasi. Gagasan yang diprakarsai oleh Denny J.A.

 

               Setiap orang yang lahir di Indonesia pastinya telah memahami karakter para penduduk di seluruh penjuru negeri. Sejak kecil masyarakat Indonsia sudah terlahir ditengah perbedaan. Perbedaan ini tercipta bukan karena kehendak apalagi campur tangan manusia. Namun, perbedaan ini merupakan suatu anugerah yang diberikan langsung oleh Tuhan YME kepada Negara kita. Perbedaan ini tentunya akan menghantarkan kita kepada suatu pemahaman baru. Pemahaman dimana seluruh masyarakat Indonesia diajarkan akan arti penting kebersamaan dan persatuan dalam perbedaan. Ya, seperti semboyan negara kita “Bhineka Tunggal Ika”.

              Pada dasarnya para pemimpin bangsa kita telah mampu merubah paradigma masyarakat untuk mengartikan sebuah perbedaan tersebut kedalam makna yang lebih luas, yaitu keberagaman. Pemahaman ini tentunya akan menjadi modal unutk menciptakan identitas-identitas yang kemudian akan menjadi kebiasaan dan sepenuhnya menjadi cerminan dari pribadi bangsa. Salah satu identitas yang terbentuk adalah saling menghormati dan/atau bertoleransi. Indonesia terkenal sebagai Negara yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Toleransi adalah sikap yang menenggangkan atau menghargai pendirian (pendapat) orang lain yang berbeda dengan pendirian sendiri.3 Perbedaan yang ada di Indonesia tidaklah dijadikan sebagai suatu alasan untuk tidak saling bertoleransi/menghormati  apalagi untuk memecah belah bangsa. Tapi lihatlah Indonesia, sebuah kekuatan besar yang baru terbangun dari tidur panjangnya setelah melewati siklus panjang yang pernah merenggut seluruh harapan rakyat Indonesia.  Sebagai negara yang berdaulat kita telah sepantasnya mensyukuri anugerah yang telah Tuhan berikan. Kita ketahui bahwa negara kita diberikan anugerah berupa kondisi negara yang unik: keragaman masyarakat. Bangsanya majemuk, dengan lebih dari 500 etnik. Beragam pula agama, kepercayaan, dan keyakinan. Inilah yang menjadi alasan mengapa Indonesia perlu dijadikan sebagai suatu contoh pembelajaran dalam urusan kerukunan masyarakat serta bertoleransi.

_______________

  1. Pengertian toleransi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011:564).

            Setelah 71 tahun merdeka, tentunya ada banyak hal yang harus dihadapi oleh Indonesia. Hal tersebut bisa meliputi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang tentunya menjadi sebuah prioritas yang harus dihadapi oleh negara kita. Terlebih pemerintah dituntut untuk mengakomodasi seluruh aspirasi rakyat Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang banyak tentunya menghasilkan pandangan dan pendapat yang berbeda. Hal ini lah yang kadang-kadang menghasilkan gesekan dalam kehidupan masyarakat.  Namun, hal ini tentunya bisa diatasi dengan cara saling menghargai pandangan. Kemudian, Indonesia juga harus menghadapi pesatnya laju perkembangan dunia.

            “Change is the only evidence of life”-Evelyn Waugh. Pernyataan yang diungkapkan Evelyn Waugh tersebut mengandung makna perubahan merupakan bukti nyata kehidupan. Artinya, dalam kehidupan selalu ada perubahan, tidak terkecuali perubahan kehidupan manusia. Perubahan yang dialami manusia dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia hidup dan berkembang. Perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Perubahan akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Manusia melakukan perubahan bukan karena tanpa ada alasan. Tetapi, adanya keinginan untuk melakukan perubahan untuk memperbaiki kehidupannya.

            Menurut W.Moore, perubahan didefinisikan sebagai perubahan dalam pola perilaku dan budaya yang signifikan dari waktu ke waktu. Masyarakat Indonesia terkenal dengan perilaku yang sopan dan santun. Masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahannya. Sikap yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia adalah hasil perjuangan keras para pendahulu bangsa. Dan perubahan positif dalam tingkah laku serta tatanan kehidupan lebih baik tentunya bisa kita rasakan hingga saat ini. Masyarakat Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung pada pancasila. Implementasi dari nilai pancasila telah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, tanpa kita sadari Indonesia yang terkenal sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam serta keberagaman tentunya juga mengalami permasalahan. Permasalahan tersebut harus segera disikapi oleh Pemerintah Indonesia. Apalagi pada saat ini setiap Negara gencar-gencarnya bersaing didalam laju pesatnya era globalisasi.

            Globalisasi merupakan proses ketika individu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.4 Dalam era globalisasi ini, kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dunia yang terus berkembang. Globalisasi dipandang sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh setiap negara. Tantangan ini meliputi banyak bidang, seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, lingkungan, dan bidang lainnya. Globalisasi telah menanamkan pengaruh yang besar bagi setiap negara. Apalagi era globaliasi telah mengglobal ke seluruh dunia. Dan pengaruh globalisasi telah sampai ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Globalisasi akan mengarahkan manusia kepada tahap perubahan sosial. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan yang positif ataupun perubahan yang positif.  Globalisasi erat kaitannya dengan perubahan sosial. Dengan adanya globalisasi menjadikan setiap urusan antar negara lebih cepat terselesaikan, kemudian membuat interaksi antar individu, kelompok, dan negara menjadi lebih mudah. Ini merupakan bentuk kecil dari pengaruh adanya globalisasi.

            Globalisasi tidak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi. Melalui teknologi, kehidupan manusia menjadi lebih baik. Manusia dapat beraktivitas dengan mudah melalui pemanfaatan teknologi. Seseorang dapat dengan mudah melakukan perkerjaannya. Perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat sederhana menjadi masyarakat kompleks merupakan cara sederhana untuk menggambarkan fenomena modernisasi. Modernisasi ditandai dengan adanya perkembangan pola piker masyarakat dan kondisi fisik kehidupan social masyarakat. Sebagian masyarakat Indonesia yang telah memutuskan diri untuk menuju proses modernisasi ini memiliki kepercayaan dan kesadaran tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Pola piker masyarakat modern mampu menciptakan teknologi dan mengembangkan sumber daya disekitarnya. Pola pikir masyarakat juga ditandai dengan adanya sikap yang mengedepankan rasionalitas.

            Globalisasi tidak hanya berbicara aspek besar seperti liberalisasi, ekonomi, dan politik. Globalisasi juga berbicara tentang fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, menguatnya ruang ekspresi pribadi dengan semakin intensifnya hubungan antarbudaya, norma social, kepentingan, dan ideology antar bangsa. Artinya, globalisasi menimbulkan berbagai konsekuensi modernitas yang membawa masyarakat bertransformasi dari kehidupan tradisional menuju kehidupan modern. Transformasi kehidupan inilah yang menyebabkan mulai lunturnya kepribadian masyarakat Indonesia. Nilai-nilai yang sejatinya telah tertanam sebagai identitas bangsa mulai tergerus dengan pesatnya perkembangan zaman. Perkembangan yang terus terjadi telah menciptakan masyarakat modern yang individualis. Tentunya ini dipandang sebagai awal dari berubahnya tatanan kehidupan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Inilah yang dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya diskriminasi. Dan hal ini memang telah terjadi pada tanah Ibu Pertiwi.

            Setiap manusia memang memiliki kebutuhan akan adanya kebersamaan , bersatu padu , bercampur baur dengan sesamanya , saling mengerti , saling mengisi kekosongan hati , mengisi kelemahan menjadi sebuah kelebihan yang menghantarkan anda menjadi seorang yang mempunyai moralitas yang tinggi , mengisi saat kegalauan bermunculan dalam hati . manusia sebagai makhluk sosial harus selalu berpikir dan berupaya untuk berguna bagi orang banyak bukan hanya mementingkan diri diatas segalanya. Manusia adalah makhluk sosial yang bermoralitas yang tinggi oleh karena itu seorang harus konsisten untuk mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman dan pembimbing  untuk menjauhi sikap yang amat tercela yaitunya diskriminasi.

Berpegang pada konsep awal, pendiri Indonesia meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang beragam dari segi etnis, bahasa, kebudayaan, agama dan keyakinan. Namun, di mata hukum nasional, semua warga negara, apapun identitas sosialnya, mendapat perlakuan, pengakuan, dan perlindungan yang sama. Semua ditempatkan secara sejajar. Tak ada warga negara kelas satu atau warga negara divisi dua berdasarkan identitas sosialnya. Pendiri Indoensia melukiskannya dengan ungkapan yang bagus: Bhineka Tunggal Ika.

            Namun, yang terjadi pada saat ini tidaklah sesuai dengan harapan para pendiri bangsa. Diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia masih merupakan masalah aktual. Hal ini seharusnya tidak terjadi lagi, karena dalam masa reformasi ini telah diadakan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, serta oleh pemerintah-pemerintah sejak masa Presiden Habibie, Gus Dur, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono telah dikeluarkan beberapa Inpres yang menghapuskan peraturan-peraturan pemerintah sebelumnya khususnya orde baru yang bersifat diskriminatif terhadap kebudayaan minoritas, dalam arti adat istiadat, agama dari beberapa suku bangsa minoritas di tanah air.Mengapa hal demikian dapat terjadi terus, seakan-akan rakyat kita sudah tak patuh lagidengan hukum yang berlaku di negara kita. Untuk menjawab ini, tidak mudah karena penyebabnya cukup rumit, sehingga harus ditinjau dari beberapa unsur kebudayaan, seperti politik dan ekonomi.

             Di Indonesia diskriminasi setidaknya masih terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, meliputi; diskriminasi antara penganut agama yang berbeda, antara sesama penganut agama, diskriminasi antar etnis, diskriminasi perempuan,  Menurut Denny JA, diskriminasi berdasar agama adalah yang paling sulit untuk dihapuskan karena tindakan diskriminasi tersebut kerap kali dilabeli dengan alasan moral dan keyakinan. 

            Diskriminasi adalah prasangka atau prilaku yang membedakan seseorang hanya karena ia berasal dari sebuah identitas sosial (agama, etnis, ras, gender, orientasi seksual). Hanya karena identitas sosialnya berbeda, ia dipandang atau diperlakukan lebih buruk. Misalnya, ia dilarang atau tidak diberikan perlindungan hokum atau hak hukum yang sama dibandingkan warga negara lain yang berasal dari identitas sosial yang berbeda.

Pasal 281 Ayat 2 UUD NKRI 1945 Telah menegaskan bahwa “ Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif  atas dasar apapun dan berhak mendapatkan   perlindungan   terhadap   perlakuan   yang   bersifat  diskriminatif   itu   “. Sementara itu Pasal 3 UU No 30 Tahun 1999 tentang HAM Telah menegaskan bahwa “Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat. Komunitas Internasional telah mengakui bahwa diskriminasi masih terjadi diberbagai belahan dunia, dan prinsip non diskriminasi harus mengawali kesepakatan antar bangsa untuk dapat hidup dalam kebebasan, keadilan, dan perdamaian.

Pada dasarnya diskriminasi tidak terjadi begitu saja, akan tetapi karena adanya beberapa faktor penyebab antara lain :

  1. Persaingan yang semakin ketat dalam berbagai bidang kehidupan, terutama ekonomi.
  2. Adanya tekanan dan intimidasi yang biasanya dilakukan oleh kelompok yang dominan terhadap kelompok atau golongan yang lebih lemah.
  3. Ketidak berdayaan golongan miskin akan intimidasi yang mereka dapatkan membuat mereka terus terpuruk dan menjadi korban diskriminasi.

Dari kajian yang dilakukan terhadap berbagai kasus disintekrasi bangsa dan hancurnya sebuah negara, dapat disimpulkan adanya enam faktor utama yang sedikit demi sedikit bisa menjadi penyebab utama peruses itu, yaitu

  1. Kegagalan kepemimpinan
  2. Krisis ekonomi yang akut dan berlangsung lama
  3. Krisis politik
  4. Krisis sosial
  5. Demoralisasi tentara dan polisi
  6. Interfensi asing

Terciptanya “ Tungal Ika “ dalam masyarakat “ Bhineka “ dapat diwujudkan melalui “ Integrasi Kebudayaan “ atau “ Integrasi Nasional “.

             Istilah diskriminasi, berasal dari bahasa Inggris: discriminate, dan pertama kali digunakan pada Abad ke-17. Akar istilah itu berasal dari bahasa Latin: discriminat. Sejak perang sipil Amerika pada Abad 18, istilah diskriminasi berkembang sebagai kosakata bahasa Inggris untuk menjelaskan sikap prasangka negatif. Saat itu prasangka yang dimaksud dikaitkan hanya dengan prasangka atas kulit hitam saja yang menjadi budak. Namun penggunaan istilah itu kemudian berkembang, juga digunakan untuk semua jenis prasangka dan tindakan negatif kepada semua jenis identitas sosial.

            Diskriminasi berkembang pesat layaknya globalisasi. Diskriminasi telah terjadi dimana-mana. Diskriminasi telah menjadi isu nasional yang dikhawatirkan akan memecah persatuan Indonesia. Indonesia telah gencar-gencarnya melakukan kampanye anti diskriminasi. Titik perkembangan paling penting dalam perlindungan antidiskriminasi dan pengakuan hak-hak asasi adalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human). Semangat dari revolusi Inggris, Amerika, dan Prancis adalah sama. Yakni, melindungi hak kebebasan dan persamaan.

            Dalam arti tersebut, diskriminasi adalah bersifat. Aktif atau aspek yang dapat terlihat (overt) dari prasangka yang bersifat negatif [negative prejudice] terhadap seorang individu atau suatu kelompok. Dalam rangka ini dapat juga kita kemukakan definisi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berbunyi demikian: “Diskrimasi mencakup perilaku apa saja, yang berdasarkan perbedaan yang dibuat berdasarkan alamiah atau pengkategorian masyarakat, yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan individu atau jasanya [merit].

             Perlu kiranya dicatat di sini, bahwa dalam arti tertentu diskriminasi mengandungarti perlakuan tidak seimbang terhadap sekelompok orang, yang pada hakekatnya adalah sama dengan kelompok pelaku diskriminasi. Obyek diskriminasi tersebut sebenarnya pada prinsip diskriminasi. memiliki beberapa kapasitas dan jasa yang sama, adalah bersifat universal. Apakah diskriminasi dianggap illegal, tergantung dari nilai-nilai yang dianut masyarakat bersangkutan, atau kepangkatan dalam masyarakat dan pelapisan masyarakat yang berlandaskan pada prinsip diskriminasi.

               Perubahan-perubahan dalam struktur masyarakat, telah menyebabkan terjadinya perlawanan terhadap segala macam diskriminasi yang bersifat agama, ras, bahkan kelas-kelas masyarakat. Kriteria masyarakat, untuk apa yang dianggap perlakuan diskriminasi terhadap seorang maupun kelompok, selalu bergeser, sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.

                 Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 258-259), kelompok minoritas [minority groups] adalah kelompok-kelompok yang diakui berdasarkan perbedaan ras, agama, atau sukubangsa, yang mengalami kerugian sebagai akibat prasangka [prejudice] atau diskriminasi istilah ini pada umumnya dipergunakan bukanlah sebuah istilah teknis, dan malahan, ia sering dipergunakan untuk menunjukan pada kategori perorangan, dari pada kelompok-kelompok. Dan seringkali juga kepada kelompak mayoritas daripada kelompok minoritas. sebaliknya, sekelompok orang, yang termasuk telah memperoleh hak-hak istimewa [privileged] atau tidak didiskriminasikan, tetapi tergolong minoritas secara kuantitatif, tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok minoritas. Oleh karenannya istilah minoritas tidak termasuk semua kelompok, yang berjumlah kecil, namun dominan dalam politik.

                Akibatnya istilah kelompok minoritas hanya ditujukankepada mereka, yang oleh sebagian besar penduduk masyarakat dapat di jadikan obyek prasangka atau diskriminasi.Akhimya perlu juga dijelaskan tentang hubungan antara kelompok [lntergroup relation] . Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 212) pada dasarnya istilah ini berarti penelitian mengenai hubungan antar kelompok, seperti pada kelompok minoritas dan kelompok mayoritas. Selain itu juga konsisten, atau konflik di antara suku-suku bangsa, atau kelompok-kelompok ras, sehinga dapat dianggap sebagai masalah sosial [social problem].

                Seperti yang kita ketahui bahwa prasangka sosial bisa membentuk tindakan-tindakan diskriminatif terhadap golongan yang diprasangkai. Dalam psikologi sosial terbentuknya prasangka sosial pada manusia itu merupakan kelangsungan yang tidak berbeda dengan perkembangan attitude-attitude lainnya pada diri manusia itu, kalau dan apabila seseorang itu kebetulan bergaul erat dengan orang-orang yang sudah berprasangka. Pembentukan prasangka semacam ini dapat berlangsung terus sebagaimana digambarkan hingga orang itu menjadi dewasa dan dengan demikian ikut memiliki juga sikap-sikap perasaan dan stereotip- stereotip terhadap golongan-golongan tertentu yang dapat digunakan oleh orang-orang yang berkepentingan. Terjadinya prasangka sosial semacam ini dapat juga disebut pertumbuhan prasangka sosial dengan tidak sadar dan yang berdasarkan kekurangan pengetahuan dan pengertian akan fakta-fakta kehidupan yang sebenarnya dari golongan-golongan orang yang dikenai stereotip- stereotip itu.

               Suatu faktor lainnya yang lebih sadar dan yang dapat mempertahankan serta memupuk prasangka sosial dengan gigih adalah faktor kepentingan perseorangan atau golongan tertentu yang akan memperoleh keuntungan atau rezekinya apabila mereka memupuk prasangka sosial. Prasangka sosial dengan demikian digunakan untuk mengeksploitasi golongan-golongan lainnya demi kemajuan perseorangan atau golongan sendiri. Hal ini tampak pada zaman penjajahan ketika kaum penjajah menggunakan dan memupuk prasangka-prasangka sosial antara golongan-golongan yang dijajah demi keselamatan kelompoknya sendiri.

             Selain itu, ada pula satu faktor yang dapat mempertahankan adanya prasangka sosial seperti yang dapat berkembang secara tidak sadar itu, yaitu faktor ketidaksadaran (ketidakinsyafan) akan kerugian-kerugian masyarakat apabila prasangka itu dipupuk terus menerus, yang mudah terjelma ke dalam tindakan-tindakan diskriminatif. Beberapa kerugian yang ditemukan antara lain sebagai berikut.

              Masyarakat secara keseluruhan dapat dirugikan olehnya karena dengan demikian tidak semua potensinya dapat dikembangkan demi meningkatkan perekonomiannya dengan sepenuh-penuhnya. Tindakan diskriminatif terhadap golongan dapat menguntungkan golongan lain, tetapi merugikan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, tindakan diskriminatif menimbulkan konflik-konflik sosial yang memerlukan usaha-usaha dan waktu tambahan bagi pemerintah untuk meredakannya. Usaha-usaha dan waktu tersebut dapat dihemat dan dikerahkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih produktif.

              Prasangka sosial terhadap golongan yang lain membuatnya mudah menimbulkan halangan-halangan dalam pergaulan antargolongan dan kemudian dapat memecah kerja sama yang wajar di antara golongan-golongan tersebut. Pada akhirnya, prasangka sosial itu dapat menjadi outlet, pelepasan dari frustasi-frustasi yang dialami orang, lalu menjelma ke dalam tindakan-tindakan agresif terhadap suatu golongan yang menjadi kambing hitamnya sehingga masyarakat mengalami pengacauan yang nyata.

             Diskriminasi adalah masalah sosial yang timbul dari kebudayaan. Masalah sosial yang bersumber dari faktor kebudayaan biasanya yang paling menonjol bagi kehidupan manusia dalam masyarakat, yaitu jika manusia tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan (cultural lag)

            Menurut Weissbrodt, pembentukan PBB dan deklarasi hak asasi manusia memperlihatkan bahwa teori hukum kodrati tidak pernah mati. Landasan pokok dari deklarasi tersebut adalah kepercayaan bahwa manusia diciptakan Tuhan dengan derajat yang sama, dengan martabat yang melekat pada diri manusia. Pengalaman buruk selama Perang Dunia II (seperti pembantaian Nazi), membuat banyak orang berpaling kembali kepada gagasan hukum kodrati.19 Deklarasi tersebut mempunyai arti penting karena menjadi semacam pengakuan negara atas jaminan hak asasi. Deklarasi itu juga menjadi suatu tolak ukur pencapaian bersama bagi semua rakyat dan semua bangsa. Deklarasi tersebut mempunyai sejumlah ciri yang menonjol.

            Pertama, hak asasi bersifat universal. Hak-hak tersebut dimiliki oleh setiap manusia karena semata-mata ia manusia. Pandangan ini menunjukkan bahwa setiap orang melekat pada dirinya hak-hak dasar tanpa melihat etnis, jenis kelamin, agama, status sosial, atau kewarganegaraan. Ini juga menyiratkan bahwa hak-hak tersebut dapat diterapkan di seluruh dunia.

            Kedua, hak asasi dipandang ada dengan sendirinya, dan tidak bergantung kepada pengakuan dan penerapannya di dalam system adat atau sistem hukum di negara-negara tertentu. Hak ini boleh jadi memang belum merupakan hak yang efektif sampai dijalankan menurut hukum, namun hak tersebut eksis sebagai standar argument dan kritik yang tidak bergantung pada penerapan hukumnya.

            Ketiga, hak asasi manusia dipandang sebagai norma yang penting. Meski tidak seluruhnya bersifat mutlak dan tanpa perkecualian, hak asasi manusia cukup kuat kedudukannya sebagai pertimbangan normatif untuk diberlakukan dan untuk membenarkan aksi internasional demi hak asasi manusia.

            Keempat, hak-hak ini mengimplikasikan kewajiban bagi individu dan pemerintah. Pemerintah dan orang-orang yang berada di manapun diwajibkan untuk tidak melanggar hak seseorang. Deklarasi tersebut kemudian diturunkan ke dalam kovenan hak-hak sipil dan politik (Covenant on Civil and Political Rights) dan kovenan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (Covenant on Economic, Social and Cultural Rights). Di antara hak-hak sipil dan politik yang terpenting adalah hak bebas dari diskriminasi, memiliki kehidupan, kebebasan, keamanan, bebas beragama, berpendapat dan berekspresi, berkumpul dan berserikat, bebas dari hukuman kejam dan penganiayaan, bebas dari penangkapan sewenang-wenang, peradilan yang adil, serta perlindungan terhadap harta dan kehidupan pribadi. Sementara hak-hak sosial ekonomi yang terpenting adalah hak menikah dan membentuk keluarga, bebas dari perkawinan paksa, memperoleh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, menikmati standar kehidupan yang layak, serta jaminan selama sakit, catat, dan tua.

            Survei WVS memperlihatkan sebanyak 35,2% publik Indonesia tidak bersedia bertetangga dengan orang yang berbeda agama. Angka ini bisa dikategorikan sebagai sedang mengarah ke tinggi. Dari survei WVS di 62 negara, rata-rata sentimen negatif terhadap orang yang berbeda agama adalah sebesar 17,5%. Negara dengan tingkat diskriminasi terendah adalah Swedia sebesar 1,3%. Sementara Negara dengan tingkat diskriminasi tertinggi adalah Yordania sebesar 43%. Negara dengan tingkat diskriminasi agama rendah adalah negara-negara di Eropa, sementara negara dengan tingkat sentimen negatif tertinggi adalah negara-negara di Timur Tengah. Angka untuk Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan India (39,1%), Yordania (43%), dan Arab Saudi (40,4%). Tetapi angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara seperti Amerika (1,8%), Inggris (1,9%) atau Spanyol (5,7%). Diskriminasi etnis hingga saat ini belum bisa benar-benar hilang di dunia maupun Indonesia

            Diskriminasi agama adalah salah satu bentuk diskriminasi yang paling tua umurnya. Tidak jarang diskriminasi itu melahirkan perang atau konflik atas nama agama. World Value Survey membuat survei mengenai sentimen penduduk di dunia atas agama yang berbeda. Ini dilakukan oleh WVS dengan menanyakan kepada responden apakah bersedia atau tidak mempunyai tetangga orang yang berbeda agama. Hasil survey WVS memperlihatkan, di sejumlah negara masyarakatnya tidak menginginkan mempunyai tetangga orang yang berbeda agama. Di Bangladesh, sebanyak 39,1% penduduknya tidak ingin mempunyai tetangga dengan orang yang berbeda agama. Hal yang sama terjadi di India dan Arab Saudi. Di India, sebanyak 42,3% penduduknya tidak ingin bertetangga dengan orang dari agama berbeda. Sementara di Arab Saudi, sebanyak 40,4% penduduk tidak ingin memiliki tetangga orang dengan agama berbeda.

Diskriminasi juga memberikan dampak yang merugikan/negatif. Berikut ini  contoh dari dampak negatif Diskriminasi :

  1. Memicu munculnya sektarianisme, agama islam melarang umatnya hanya mementingkan kesukuan atau kelompoknya.
  2. Memunculkan permusuhan antar kelompok, perasaan melebihkan kelompok sendiri, dan merendahkan kelompok yang lain menjadi pemicu perseturuan antar kelompok.
  3. Mengundang masalah social yang baru, karena secara social seseorang tidak disikapi secara wajar, maka sikap diskriminasi dapat memancing munculnya masalah social yang bertentangan dengan ajaran islam.
  4. Menciptakan penindasan dan otoritarianisme dalam kehidupan, karena adanya perasaan lebih dan sentimen terhadap kelompok, sehingga hak-hak kelompok lain diabaikan.
  5. Menghambat kesejahteraan kehidupan, sikap diskriminasi lebih menonjolkan sikap egoisme pribadi ataupun kelompok.
  6. Menghalangi tegaknya keadilan, jika sikap diskriminasi dominan, maka keadilan sulit ditegakkan, karena dalam mengambil keputusan suatu masalah, selalu didasarkan pada pertimbangan subyektif diri atau kelompok yang dibelanya.
  7. Menjadi pintu kehancuran masyarakat, jika dibiarkan sikap diskriminasi akan dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan social.
  8. Mempersulit penyelesaian masalah, persoalan yang dihadapi mestinya segera diselesaikan secara baik, namun karena adanya sikap diskriminasi menjadi berlarut-larut.
  9. Mengakibatkan munculnya sifat yang buruk yaitu kecongkakan atau kesombongan.
  10. Membanggakan diri sendiri dan meremehkan orang lain
  11. Memunculkan sikap apatis (sifat masa bodoh) yang menumbuhkan kehancuran tatanan masyarakat.

                Ini merupakan gambaran bagaimana diskriminasi menjadi topik pembahasan dunia. Masyarakat Indonesia yang masih berpegang pada prinsip pancasila harus segera membentengi diri dari segala bentuk diskriminasi. Indonesia harus menjadi contoh dan panutan dalam upaya menolak terjadinya diskriminasi. Saya adalah anak bangsa yang terlahir di tanah yang berdiri diatas kaki keberagaman. Saya anak bangsa bersuara bahwa saya sangat mengharapkan Indonesia segera bebas dari segala bentuk diskriminasi. Tidak ada lagi kejadian perang antar suku, pelarangan kegiatan keagamaan maupun bentuk diskrimnasi lainnya. Sudah saatnya Indonesia kembali seperti sedia kala dengan selalu berpegang teguh kepada pancasila.

               Anti-diskriminasi dan anti-tekanan berupaya menginkorperasikan sebuah pemikiran melawan diskriminasi terhadap semua kelompok dalam pekerjaan sosial. Analisa Thompson (1993) tentang praktek anti-diskriminatori merupakan hal penting sebagai perhitungan pertama untuk memberikan sebuah rasionalisasi teoritis bagi praktek pada ragam perilaku diskriminatori. Ia membahas gender, kesukuan, pertambahan usia, keterbatasan, dan orientasi seksual, agama, bahasa, kebangsaan, wilayah, hinggan keterbelakangan mental dan kecacatan fisik. Hal ini mencegah perpisahan bentuk-bentuk berbeda diskriminasi dalam sebuah hierarki di mana satu lebih penting dari yang lain. semua bentuk diskriminasi dipandang sebagai sesuatu yang penting. Mereka memiliki pengaruh potensial pada satu sama lain sehingga kerugian yang dihasilkan dari salah satu atau lebih bentuk diskriminasi menjadi lebih dipengaruhi. Menjadi wanita, lebih tua dan berasal dari sebuah minoritas etnis, contohnya, telah digambarkan sebagai bahaya ganda (Norman, 1985).

               Ide-ide pluralisme kebudayaan mengaksentuasikan elemen budaya perbedaan etnis, contohnya perbedaan pakaian, kebiasaan sosial, kontribusi seni dan musik, serta makanan dan kebiasaan makan. Pendidikan anak-anak dalam kebiasaan dan agama merupakan sebuah strategi penting dan multikulturalisme mempengaruhi pendidikan pada era 80an. Sebuah pendekatan serupa juga diterapkan pada pekerjaan sosial dan profesi serupa untuk memperkuat kepekaan pada kebutuhan dan pilihan antara kelompok etnis yang berbeda. Berkembang dari sini adalah pemikiran tentang pekerja yang memiliki ‘kompetensi budaya’ (Lum, 1999; O’Hagan, 2001) untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan respek pada pemeliharaan perbedaan dan pemahaman kebudayaan-kebudayaan inti yang akan berkontak dengan mereka. Forte (1999) menyatakan bahwa pekerja sosial mengembangkan ‘alat-alat’ informasi tentang nilai-nilai berkaitan dengan budaya yang berbeda-beda.

               Menempatkan sebuah penekanan pada kebudayaan akan menimbulkan kesulitan. Kebudayaan dapat secara relatif tidak berubah, tetap menjadi sekelempok nilai sosial yang mendominasi, dan berasumsi bahwa anggota-anggota kelompok yang diidentifikasi akan selalu menerima nilai-nilai tersebut. Melawan asumsi ini, sumber pengaruh pada individu atau masyarakat akan bervariatif. Multikulturaslisme dalam pendidikan dikritik karena mendorong orang untuk cepat menilai kebudayaan lain, tanpa penghargaan yang dalam dan alasan di balik perbedaan yang ada. Berlaku pada pekerjaan sosial, ahli teori anti diskriminasi berpendapat bahwa ia dapat mendorong orang menghargai perbedaan yang hanya muncul di permukaan, tanpa menghadapi diskriminasi dan ketidaksetaraan yang substansial. Hal ini menimbulkan resiko pengabaian dalam perbedaan di antara kategori, mensubordinasikan kebudayaan-kebudayaan alternatif dan penafsiran Barat tentangnya, atau menyederhanakan mereka dan menyangkal perbedaan filosofi dan praktek dalam pandangan-pandangan kebudayaan (Gross, 1995). Dengan cara ini, multikulturalisme tidak menemukan ketidaksetaraan,  diskriminasi dan kedalaman perbedaan kebudayaan. Pengalaman pribadi saya menyatakan bahwa akan lebih baik menanyakan kebutuhan klien berkaitan dengan kebudayaanya, daripada membuat asumsi dari generalisasi luas dari berbagai literatur. Fellin (2004) berpendapat bahwa multikulturalisme juga gagal menemukan perbedaan dalam komunitas kulit putih, hanya berfokus pada perbedaan kelompok-kelompok etnis minoritas dan kulit putih.

            Gagasan anti diskriminasi ini salah satunya merujuk pada teori John Rawls tentang keadilan (fairness) dan kesamaan. Rawl memperkenalkan konsep bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama, dan kebebasan yang seluas-luasnya yang dapat diselaraskan dengan sistem yang sama bagi setiap orang. Ketimpangan sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi mereka yang paling kurang beruntung dan menyediakan suatu sistem akses yang sama dan peluang yang sama. Rawls yang dikutip dalam buku ini menyatakan bahwa dalam masyarakat, setiap individu mempunyai hak dan kebebasan yang sama Tetapi hak dan kebebasan tersebut kerap tidak bisa dinikmati secara sama misalnya karena kemiskinan, informasi atau pengetahuan.

            Lebih lanjut, Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis memuat sejumlah sangsi pidana bagi orang atau korporasi yang melakukan pembedaan perlakuan berdasarkan etnis dan ras. Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, Murdaya Poo memberikan contohnya: “Misalnya sekolah yang didiskriminasi, rektornya atau universitasnya bisa dipidanakan secara personal dan badan. Hak-hak sipil, misalnya orang Jawa ke Aceh, dia mau wayangan, lalu dilarang oleh pejabat sana, itu bisa dipidanakan pejabatnya. Contoh lain, misalnya masyarakat Tiongkhoa mau membuat Barongsay di Surabya itu dilarang, itu hak sipil kebudayaan itu bisa dipidanakan, Sebelumnya belum ada undang-undang semacam ini, jadi ini membuat orang itu jera.”

          Gagasan atas undang-undang ini, mencuat setelah peristiwa kerusuhan Mei 1998 dan bentrokan etnis di sejumlah daerah. Tetapi parlemen baru mulai membahasnya secara resmi tiga tahun lalu. Rancangan awalnya bernama Undang-undang Anti Diskriminasi dan ditujukan untuk mencegah segala jenis diskriminasi. Belakangan, parlemen mengubah namanya sekaligus membatasi cakupannya, hanya pada penghapusan diskriminasi etnis dan ras semata.

         Masalahnya, bagi sejumlah pegiat HAM, pembatasan itu membuat undang-undang ini gagal melindungi kelompok tertentu seperti penganut kepercayaan dan kelompok transeksual dari praktek diskriminasi di masyarakat. Trisno Sutanto dari Komite Anti Diskriminasi Indonesia KADI menuturkan: “Jadi sesungguhnya undang-undang ini sangat terbatas pada persoalan diskriminasi ras, padahal sekarang yang kita hadapi sudah banyak bentuk-bentuk diskriminasi lainnya. sebagai contoh, diskriminasi terhadap mereka yang orientasi seksualnya berbeda, kaum gay, lesbian, transgender itu tidak pernah diatur. Kepercayaan kelompok kelompok adat kepercayaan, pernikahan mereka, hal-hal seperti itu yang sebetulnya sekarang mencolok dan itu tidak mendapat porsi yang jelas.”

             Bagaimanapun, Komisi Nasional Hak Asasi manusia Komnas HAM memandang, undang-undang ini sebagai sebuah terobosan penting bagi upaya melindungi kelompok minoritas dari praktek diskriminasi yang selama ini terjadi. Wakil ketua Komnas HAM Ridha Saleh: “Kita harus memberikan apresiasi karena ini adalah langkah yang cukup baik, sebagai upaya kita untuk, pertama mengakui kelompok kelompok minoritas tersebut, kedua ini adalah upaya untuk memberikan perlindungan dan yang ketiga ini adalah upaya memenuhi hak-hak kelompok minoritas sebagai kewajiban yang harus dipenuhi negara dalam komitmennya untuk penghormatan bagi kelompok kelompok khusus. Selain itu kita juga tetap akan melakukan evaluasi memonitoring undang-undang tersebut.”

            Dalam undang-undang ini, seseorang yang melakukan tindak diskriminasi ras dan etnis tanpa tindak kekerasan terancam hukuman penjara antara 1-5 tahun dengan denda maksimal Rp500 juta. Jika tindakan diskriminasi itu berujung pada tindak kekerasan bahkan hingga menghilangkan nyawa, hukumannya jauh lebih berat. Sedangkan, untuk diskriminasi oleh korporasi atau perusahaan, ancaman hukuman berupa denda dan juga pencabutan izin usaha. Dan ini merupakan bentuk usaha untuk melawan terjadinya diskriminasi.

         Inilah seutuhnya kerinduan kami anak bangsa yang menginginkan Indonesia tanpa diskriminasi. Diskriminasi itu terjadi karena ada pihak yang memanfaatkan keadaan Indonesia yang beragam. Jika kita mengutip kata-kata dari Denny JA “Tapi kamu tidak akan berhasil menghapus warna-warni Indonesia” artinya ada suatu bentuk pengharapan dari seluruh masyarakat Indonesia. Bahwa diskriminasi tidak akan menjadi pemecah belah bangsa. Karena Indonesia merupakan Negara yang kuat dan solid dalam semangat persatuan. Kepada mereka yang berjuang, kepada mereka yang menjadi korban, dan kepada mereka yang terus bermimpi bagi Indonesia Tanpa Diskriminasi : Kembalikan Indonesiaku!.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata.

Nama : Alfan Thoriq

TTL : Pangkal Pinang, 07 Desember 1998

Agama : Islam

Status : Pelajar

Sekolah : SMAN 1 Pemali

Kelas : XII MIA 1

Alamat : Asrama Pusdiklat Kelas Unggulan PT.Timah, Kec.Pemali, Kab.Bangka, Prov.Bangka Belitung

No. HP : 081995200164

 

  • view 542