Bercermin pada langit senja

Alfa Muse
Karya Alfa Muse Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Februari 2016
Bercermin pada langit senja

?

Dua puluh tahun yang lalu, di sebuah desa kecil, di rumah penuh kasih yang beratapkan anyaman niru aku dilahirkan. Disanalah aku dan bundaku bercinta. Di sana aku hanya sebagai penerima kasih hangatnya.

Bundaku tercinta. Hatinya tak ada seorang pun yang tahu. wajahnya memang selalu terseyum, tapi aku yakin ia menyimpan berjuta rasa di dadanya yang kemudian ia tumpahkan dalam setiap doa malamnya.

Pernah suatu malam, angin bertiup lembut. Dibawah anyaman niru itu aku tertidur di pangkuannya. Aku terjaga saat bunda telah sempurna menghapus air matanya dan jawabanku pun dijawabya dengan kecupannya di keningku. Namun aku tahu, bunda lupa menyapu sisa kesedihannya itu yang jatuh di kelopak mata kiriku.

Di sisi lain, masih di bawah anyaman niru itu pula aku melihat seorang pahlawan dalam hidupku tertidur pulas di sebuah ranjang tua. Ku dengar nafasnya yang berat menceritakan kelelahannya seharian tadi demi memenuhi kebutuhan ananda-anandanya. Kulitnya yang semakin hari semakin mengerut menjadi saksi betapa banyaknya keringat yang tidak diperdulikannya. Ia terlalu sibuk dengan cita-citanya akan kebahagiaan si buah hatinya sampai keringat itu kering dengan sendirinya. Kulihat di telapak kakinya banyak sekali goresan, entah karena sudah terbiasa sehingga ia tidak menghiraukannya lagi atau memang karena terlalu lelah sampai kepedihan itupun terpaksa terbawa dalam tidurnya.

Hari ini sepi sekali. Masih di kejauhan dari sisi mereka aku menjalani hidup sebagai seorang dewasa. Dalam kerinduanku, suatu senja dengan lukisan Tuhan di kaki langit ufuk baratnya aku mencoba membuka lembaran kenangan itu. Dulu, dulu sekali, semasih aku dalam pelukan bunda. Masih melekat sekali di ingatanku ketika itu aku berteriak memanggil ?ayah!?, menodongnya yang baru memasuki pintu pagar rumahku, aku digendongnya ke dalam rumah, aku menanyakan apakah permintaanku dipenuhi. Begitu mudahnya aku meminta untuk dituruti kemahuanku. Lalu dengan senyum lebar di bibirnya ayah memberiku yang dari tadi dipegang di tangannya.

Masih pandanganku terpaku pada ratu jingga yang akan tenggelam bersama bayang malam nanti, air mataku menetes, terisak tangis saat aku teringat dengan perjuangan dua sahabat surga ini -amiiin- dengan segenap ketulusannya. Aku rindu dengan belaian lembut bundaku, senyum manis bidadari surga itu, kecupan serta pelukan hangatnya. Aku merindukan peluh-peluh gerak keseharian mereka.

Sembari senyum manis dua insan berhati mulia itu terbayang di ingatanku, air mataku sudah tak terbendung lagi, semua tumpah karena kerinduan yang mendalam. Andaikan jarak dapat kugulung dan detak-detik waktu kulumpuhkan sesaat, aku akan pergi ke ufuk barat, meminta senja mengabadikan mentarinya untukku. ku ingin lebih lama mengenang masa-masa indah bersama ayah bundaku di akhir petang ini.

Orang tua adalah sumber mata air yang mengalirkan berkubik-kubik kasih sayang tanpa menuntut balas. Jika adalah pelangi yang disematkan Tuhan di langit-Nya itu dapat kutarik dan kudedikasikan untuk mereka, maka belum satu pun senyum mereka yang terbalaskan. Semoga surga Allah pantas menjadi balasan bagi mereka nanti. Amin.

  • view 195