Ibu Yang Tak Bertelapak Surga (bag.1)

alf
Karya alf  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Ibu Yang Tak Bertelapak Surga (bag.1)

Braaak..!!. Kubanting pintu ini untuk yang keseribu kalinya. Satu-satunya pintu di kamar kontrakan kumuh ini. "Kau hanya diam Ibu.." teriakanku tetap tak mampu menghentikan putaran tasbih ditanganmu. "Katakan.. anak siapa aku ini Bu..??, semua mengatakan aku adalah anak seorang pelacur. Dan kau hanya diam Ibu....?". Tampak samar kulihat tetesan bening menetes dipipi keriputmu, tapi itu tidak menjelaskan apapun Ibu. Braaak..!!. Kubanting pintu itu lagi, untuk yang terakhir kalinya. Dan masih bisa kudengar suara isak tangis di balik pintu itu. Tanpa pernah kutahu, itu adalah suara terakhir yang bisa kudengar darimu Ibu.

*******

Malam ini sangat pekat. Kegelapan telah memeluk bumi dengan begitu eratnya. Sepertinya bulan dan bintang telah bersekutu untuk tidak menampakkan bentuknya. Hanya berhembus semilir angin yang terasa seperti sepotong nafas yang tersengal-sengal menunggu ajal. Dari kejauhan tampak bayangan seorang perempuan yang setengah berlari menghampiriku. Ya.. dia adalah Anisa Rhamadani, satu-satunya sahabat dan kekasihku, satu-satunya perempuan yang mau menerima kondisiku, kondisi seorang buruh pabrik, dan kondisi bahwa aku adalah anak seorang pelacur, anak yang tidak mempunyai seorang ayah.

"Lif, aku barusan dapat sms dari Pak De di kampung. Katanya Ibumu sakit, sudah seminggu ini beliau terus mengigau, terus menyebut-nyebut namamu." Aku hanya bisa membisu dalam keheningan ini. Keheningan yang terasa begitu damai. Perlahan-lahan memoriku mulai memutar kenangan itu. Kenangan ketika engkau memelukku Ibu. Ketika aku jatuh terjerembab diantara parit-parit yang kotor itu, karena mengejar capung yang seakan terus mengejekku. Kenangan ketika engkau mendekapku, ketika aku lulus dengan nilai tertinggi di SMU ku dulu. Waktu itu kau pasti bangga Ibu, karena kau hanya seorang penjual gorengan.

"Hei.. Lif, malah bengong". Suara Nisa membuyarkan lamunanku. Aku hanya memberikan sedikit senyum untuk menjawabnya. Senyuman yang akupun tak tahu apa artinya. Tapi bagai seorang dewi perang, dia tidak pernah menyerah untuk menyadarkanku. Untuk membawaku keluar dari lubang gelap ini. Seperti cahaya lilin yang terombang-ambing dihajar angin, dia tetap bertahan. "Ya Nis, terima kasih ya, mungkin aku memang harus pulang untuk sekedar menyapa Ibu". Sudah 4 tahun aku tidak pulang, tanpa memberi kabar dan berita. Ya, sejak aku membanting pintu kamar kontrakan kumuh itu.

******

Bus kota ini terasa begitu pelan. Seolah waktu telah lelah untuk berputar. Tampak dibalik jendela kaca ini, titik-titik air hujan yang terus menari dan menyenandungkan bait-bait keputusasaan. Akhirnya, setelah 4 tahun aku pulang Ibu. Tunggu aku Ibu..

Kusandarkan kepalaku dijendela kaca ini. Entah kenapa kepala ini terasa begitu pusing dan berat. Samar-samar kudengar suara genderang yang ditabuh, makin lama makin keras dan memekakkan telinga, dan pada akhirnya terdengar seperti bom yang meledakkan kepalaku dan menghamburkan isinya.

*****

Akhirnya aku sampai di depan pintu ini. Pintu kontrakan kumuh ini. Masih rapuh sama seperti 4 tahun lalu. Kuucapkan salam dan kuketuk perlahan. Tidak ada jawaban. Kucoba mengetuk lebih keras, tetap tidak ada jawaban. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu di depan pintu rapuh ini. Biar kutunggu engkau keluar Ibu, seberapa lamapun itu. Karena engkau telah menungguku selama 4 tahun tanpa kabar dan berita dariku.

Kriieet...!! suara pintu yang terbuka mengagetkanku. Kupandangi wanita tua itu dalam bisu. Seakan hatiku meronta dan ingin memeluknya. Tapi kuurungkan itu. Engkau masih tetap sama seperti 4 tahun yang lalu. Wajah teduh dan kening yang berkeriput, namun ada satu yang hilang dari wajahmu Ibu. Iya.. senyum itu tidak tampak lagi dibibirmu.

Bergetar tubuhku ketika kulihat tatapan kosongmu itu Ibu, tatapan yang baru pertama kali kulihat selama 25 tahun aku bersamamu. Dan kaupun langsung pergi tanpa menghiraukanku. Kau berjalan dengan sangat berat, seolah kau berjalan menuju kematian. Dan tanpa kuperintah, tubuhku bergerak mengikutimu.?

Kau berhenti disebuah pusara, tanahnya masih basah. Kau usap tanah itu, kau belai pusara itu. Dan tampak beberapa orang memelukmu. Akhirnya ketegaranmu pecah Ibu. Suara tangismu begitu mengiris-iris hati siapapun yang mendengarnya. Di antara kebingunganku ini, kuberanikan diri untuk mendekatimu. aku ingin sedikit menghiburmu Ibu. Namun tidak ada kata yang sanggup keluar dari mulutku ketika kulihat batu nisan itu. Batu nisan yang diatasnya telah tertulis namaku - MUHAMMAD ALIF -.

?*****

Apa ini Tuhan..?. Apa kau telah menghukumku hanya karena aku ingin tahu siapa ayahku..?. Aku tahu Engkau tidak sepicik itu Tuhan. Aku berteriak, namun tidak ada suara yang bisa keluar dari tenggorokanku. Aku ingin berlari memelukmu Ibu, tapi ada sebuah kekuatan tak terlihat yang telah memborgol kaki dan tanganku. Dan akhirnya, aku hanya bisa terisak-isak melihat engkau bersimpuh dipusaraku. bahkan setelah kekurangajaranku padamu, kau tetap menangisi kematianku. Begitu banyak kata yang ingin kuucap. Begitu besar keinginan untuk bersimpuh dikakimu. Meskipun mereka menyebutmu pelacur yang tak bertelapak surga, aku tetap ingin memelukmu Ibu. Karena bagiku, kaulah surga itu. Aku sudah tidak peduli lagi anak siapa aku ini. ?. Hanya satu keinginanku, yaitu memelukmu Ibu. Namun semua sudah terlambat. Semua sudah berakhir. Ataukah... ini hanya permulaan Tuhan..?

(bersambung)

mojokerto, 28 agustus 2016

thumbnail : http://greatinspire.com/tag/herman-damar/

  • view 242

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Terharu...sambungannya kapan?

    • Lihat 10 Respon