Aku Yang Telah

ales pamungkas
Karya ales pamungkas Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2016
Aku Yang Telah

Aku Yang Telah “MENCINTAINYA”

Mei 2013

“Sungguh, aku menyesal. Tak seharusnya kau ikut denganku saat itu. Semuanya tak akan terjadi jika kau tak memaksa untuk ikut bersamaku.” Dimas masih menangis sementara tangannya masih merangkul sebuah batu nisan. Hujan deras yang mengguyur tubuhnya tak sederas airmata yang mengalir dari bola mata lebarnya. Matanya lebam seharian menangis disana.

“Kenapa harus dia, Tuhan!” Makinya sekeras mungkin mengalahkan suara gemuruh petir dan juga gemerusuk hujan.

“HARUSNYA AKU YANG MATI! BUKAN DIA.”

“Sudah, cukup kau menyiksa diri seperti ini. Ini bukan murni kesalahanmu. Semua ini adalah kehendak Tuhan. Semua kejadian di dunia ini atas kehendak-Nya. Tuhan yang sudah mengatur semuanya termasuk mengambil nyawa seseorang. Kau harus bisa mengiklaskannya. Jika kau terus seperti ini sama saja kau melawan kehendak Tuhan. Kasihan juga dia di sana, pasti dia akan sedih! Menangis melihatmu seperti ini. Ingat Dimas, semua manusia pasti akan mati.” Suara serak itu mengganggu gendang telinga Dimas. Sebuah payung menghalangi air hujan semakin gila menyerang Dimas. Wanita itu yang sudah membawakannya. Dia datang disaat hujan tak bisa diajak bekerjasama.

“Iklas? Kau bilang aku harus iklas? Setelah aku membunuh kekasihku sendiri kau bilang aku harus iklas! Tidak bisa. INI SEMUA TIDAK ADIL! Aku yang seharusnya mati. Bukan dia.” Katanya lagi sambil menatap tajam wanita yang berada dihadapannya itu. Tatapannya sinis. Tajam dan menakutkan.

Kadang, jatuh cinta itu memang sangat indah. Namun terkadang jatuh cinta itu juga sakit. Pengorbanan saja tak cukup untuk meyakinkan hati bahwa cinta itu hadir. Namun, itulah cinta. Tak ada yang tahu apa maunya. Dia selalu seperti itu sampai akhirnya dia sadar bahwa seharusnya dia berhenti.

“Kau lihat aku. Aku sangat memperdulikanmu. Aku tahu sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa memiliki hatimu, namun aku sangat perduli. Aku tak bisa melihatmu seperti ini. Semuanya telah terjadi, tak adalagi yang harus disesali.” Ucapnya sementara tangannya ingin menyentuh bahu Dimas.

Seulas senyuman getir terbit dari bibir Dimas. “Untuk apa kau memperdulikanku? Aku tak pantas untuk kau perdulikan. Aku pembunuh!” Bentaknya. Jantung wanita itu langsung menjerit mendengar kata-kata itu.

“Dimas, aku tahu memang sangat berat semua ini bagimu. Tapi aku sahabatmu. Kita selalu bersama sejak kecil. Aku tak tahu mengapa hatiku sangat ingin sekali memperdulikanmu meski jasadku mengatakan hal lain.” Ucap Lisa sementara tangannya berusaha untuk menggapai bahu Dimas.

Saat itu, aku tak kuasa menahan sedih. Ia mengguguk dalam dekapanku penuh sesal. Aku tahu cukup jahat jika aku memanfaatkan kejadian ini agar aku bisa memeluk Dimas seperti ini, namun harus kuakui rasa itu ada. Aku damai saat Dimas berada dalam dekapanku. Hatiku tenang. Namun aku juga sedih melihat Dimas seperti ini. Aku tahu cintaku untuknya tak akan sebanding dengan cinta yang diberikan Dinda untuknya, namun hatiku tulus mencintainya. Aku, hanya bisa membuatnya merasa lebih nyaman dalam dekapan lara ini.

2010 SMAN 1 Pagar Dewa,

“Halooooo Lisa-Liso,” Dimas menyapaku dan dengan selengean dia duduk tepat disebelahku. Tidak lupa dia selalu menjailiku dengan meniup kedua bola mataku. Aku tak tahu apa itu artinya, namun itulah yang selalu ia lakukan setiap bertemu.

“Hay Gina.” Tak lupa Dimas menyapa satu gadis yang tengah asyik membaca novel. Dia Gina, sahabat kami sejak SD. Gina meliriknya sesaat lalu tersenyum acuh tak acuh.

Gina masih sibuk dengan novelnya. Tak ada yang bisa menarik perhatiannya selain novel. Apalagi novel cinta. Gadis berkacamata ini memang sangat berbeda dengan kami. Gadis satu ini lebih cuek, dan lebih memilih membaca novel daripada ngerumpiin hal-hal yang gak jelas. Sedangkan Dimas, cowok ganteng yang tak pernah luput dari lirikan banyak cewek di SMA. Dan aku, aku tak tahu, mungkin aku hanyalah sesosok wanita yang hanya mampu mengagumi tanpa bisa memiliki.

Dimas dengan sengaja mengacak-ngacak rambutku. “Dimas, kamu itu kebiasaan banget sih ngacak-ngacak rambut aku! Kan jadi berantakan, nih.” Protesku senonoh. Aku tetep saja kesal dengan kebiasaannya ini meskipun dia selalu melakukannya. Dan tak pernah kapok meskipun aku selalu memarahinya.

“Sory deh, sory. Gue lagi seneng banget. Gue-lagi jatuh cinta.” Dimas berseru manteb. Gina langsung mendongak meninggalkan novelnya sejenak. Matanya melirik Dimas. Sesaat lalu kembali fokus dengan novel.

Bugh. Kau buatku menerka-nerka. Aku tahu Dimas sulit untuk jatuh cinta meski banyak sekali cewek yang ngejar-ngejar dia. Namun, mengapa dia sekarang jatuh cinta? Apa itu aku? Aku bahagia jika memang itu terjadi. Namun aku akan lebih sakit jika itu terjadi dan bukan aku yang dicintainya. Kuakui terlalu naif jika aku memendam perasaan ini sendirian. Aku hanya tidak ingin cinta menghancurkan persahabatan kami.

Dengan semangat Dimas menceritakan gadis yang dicintainya itu kepada kami. Aku tahu saat itu Gina memang terlihat lebih cuek dan tidak seberapa menggubres kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Dimas, namun aku yakin, hatinya mencatat semua kalimat yang Dimas ucapkan. Aku tahu dia menyimaknya dengan khsusuk.

Aku menjadi pendengar setia yang hanya bisa mengangguk sambil tersenyum seolah ikut senang melihat Dimas jatuh cinta padahal hatiku berkata lain. Aku tak tahu apa aku harus bahagia atau sedih mendengar berita ini. Namun sungguh, Dimas membawa berita duka bagiku. Aku sadar jika aku yang meminta Dimas untuk mencari pasangan, namun bukan itu sesungguhnya yang ingin kuucapkan. Aku hanya ingin dia sadar jika disebelahnya itu ada wanita lemah yang sangat mencintainya. Lebih dari sahabat.

Aku sadar cinta itu tidak bisa dipaksakan. Aku sadar banyak yang bilang ‘melihat orang yang kita cintai bahagia juga membuat kita bahagia’. Namun jika dia bahagia dengan orang lain bagaimana? Apa kau tetap bahagia sementara setiap hari kau selalu bersamanya?

“Eh, Gin, lo lagi baca apaan sih kok kayaknya serius banget, sampe gak ngegubres gue? Gue mau pedekate sama cewek nih. Lo gak mau ngebantuin sahabat sendiri?” Tanya Dimas pada Gina yang asyik membaca novel daripada perduli dengan masalah Dimas. Namun sekarang Gina tidak bisa membaca novelnya lagi karena baru saja Dimas merampas novel itu dari tangannya.

“Aaahhh... Dimas. Balikin novel aku geh... Dukung, kok, dukung. Aku dukung. Aku seneng kamu jatuh cinta. And selamat buat kamu karena akhirnya kamu bisa jatuh cinta juga. Kita gak perlu menghawatirkanmu lagi.” Kata Gina sementara kedua bola matanya berkedip kearahku memberi kode.

“Maksut lho?”

“Ya-kan selama ini kamu belum pernah pacaran padahal cewek-cewek banyak banget tuh yang ngejar-ngejar. Yah, kita sih takut aja lo kayak gitu.” Jelas Gina sementara aku cekikian sendiri disebelahnya.

“Oke, gue gak pacaran bukan berati gue homo ya. Gue gak pacaran karena gue gak mau aja bikin cewek sakit hati. Gue kan tipe cowok yang gak tegaan.” Kilahnya. Kami hanya mesam-mesem disebelahnya.

“Tapi gue yakin, Dinda pasti yang terbaik untuk gue.” Kata Dimas sementara bibirnya tersenyum lebar. Hatiku mulai mendidih, memanas bagai lava gunung ber-api.

“Lo mau kemana? Kok pergi? Kan cerita gue belum selesai?” Dimas mencoba mencegahku. Aku beranjak dari sebelahnya. Terlalu naif jika aku terus berada disebelahnya.

“Mau ketoilet. Udah kebelet banget, nih. Ikut?” kilahku. Dimas mengernyit sementara kedua bola matanya menatap langkah kakiku yang perlahan menjauh darinya.

“Kenapa si Lisa? Kok aneh gitu?” Tanyanya kepada Gina yang masih asik dengan novelnya.

“Aku gak tau. Mungkin dia lagi PMS, makannya aneh.” Gina menjawab santai.

“Emang cewek kayak gitu ya kalo lagi PMS?”

“Mungkin.”

“Emang PMS itu kayak gimana sih kok sampe bikin orang berubah? Yang dikeluarin apaan?”

“Dimas, kamu kok nanyaknya kayak gitu, sih.... Jorok tauk!” Gina menepuk bahu Dimas dengan novel.

“Yeee... Kan gue pengin tau aja. Habis, PMS selalu aja dijadiin alasan buat cewek bertingkah aneh.” Dimas nyengir. Sedangkan Gina terlihat manyun disampingnya. Sesekali Dimas menjaili sahabatnya itu.

Beberapa bulan kemudian

DIMAASSS!!!!

Teriakku.

Semuanya serasa bergerak selomotion. Aku tak tahu ini nyata atau hanya sebuah mimpi. Hatiku menjerit, ragaku terbujur kaku, mataku terbuka lebar, seluruh nadiku serasa berhenti berfungsi melihat sosok yang tengah terkapar didepan sana. Tepat dijalan raya.

Aku berharap jika itu hanyalah sebuah mimpi, namun itu nyata. Aku dapat merasakannya. Aku dapat melihat banyak orang berhamburan berlari cepat menghampiri sosok yang tengah terkampar disana. Aku mendengar tangisan. Aku melihat ketakutan. Aku melihat kecemasan. Aku melihat kebingungan. Dan, aku melihat darah mengalir diatas aspal hitam disana.

Hening.

Siliner ambulan memecah keheningan itu

Aku melihat seorang laki-laki dibawa masuk ke dalam ambulan menggunakan tandu. Beberapa orang membantu petugas berseragam itu untuk mengangkatnya ke dalam ambulan. Disebelahnya, aku juga melihat sesosok wanita juga diangkat menggunakan tandu dan dibawa ke dalam ambulan. Wajahnya ditutupi kain. Namun, aku melihat darah pada kain itu. Darah merah itu bahkan sampai menetes membasahi aspal hitam yang saat ini ramai dengan orang-orang yang ingin melihatnya.

Aku tidak percaya jika korban kecelakaan itu adalah sahabatku, Dimas dan Dinda. Betapa kagetnya aku setelah mengetahui jika itu Dimas. Aku ikut menyusul kedua ambulan itu. Aku mengikuti mereka sampai kerumah sakit. Terkadang kita tidak tahu kapan ajal akan datang untuk membawa kita pada tempat yang sesungguhnya. Aku hanya bisa menangis. Mengguguk disudut koridor sementara disekelilingku ratusan orang menangis bak lautan airmata. Dinda meninggal. Dan Dimas, aku tak tahu pasti, saat itu yang kutahu dia koma.

Mei 2013

“Sudahlah, segera kita pulang. Sudah cukup kau seperti ini selama berbulan-bulan. Kini, saatnya kau bangkit dan kembali berjuang. Sahabat-sabatmu sudah tak sabar menanti Dimas Saputra kembali. Bukankah kau harus melanjutkan Kuliah?” Ucapku sesaat hujan mulai reda. Dimas berdiri menatap jauh kedepan tak membalas kalimatku. Aku bisa mengerti itu. Mungkin sebaiknya memang aku pergi dan tidak mengganggunya lagi.

Kakiku mulai melangkah. “Lisa,” panggilan itu. Panggilan itu yang menghentikan langkahku. Aku tak menoleh. Kutarik nafas dalam dan perlahan membuangnya untuk mengurangi rasa dingin yang melanda seluruh tubuhku.

“Berjuanglah denganku. Tetaplah bersamaku. Dan jadilah pendampingku.” Ucapnya tiba-tiba. Aku tak tahu kalimat ini berarti apa, namun aku tahu hatiku bahagia mendengarnya. Sangat bahagia.

Dimas berlari kecil menghampiriku dan dengan lembut mendekapku dari belakang. Tangannya merangkulku dan membelai perutku dengan lembut sampai membuatku merinding. Lembut sekali. Aku bisa merasakan kelembutan dan ketulusan itu.

Aku tahu, jatuh cinta itu membutuhkan dua hati yang berbeda untuk memulainya. Namun berbeda denganku. Aku hanya membutuhkan satu hati untuk memulainya. Karena aku yang telah “Mencintainya”.

Follow : @alespamungkas

  • view 264