Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Bola 27 Maret 2018   23:56 WIB
Saatnya Revans, Juve!


Bertemu Madrid di fase perempat final Liga Champions tentu bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh seluruh Juventini di dunia, tak terkecuali saya. Secara pribadi, saya lebih suka Juventus bertemu dengan Liverpool di fase ini. Alasannya adalah karena Liverpool sering kali kesulitan jika bermain dengan tim yang memiliki pola defensif.

Pertanyaan yang selalu muncul setelah undian babak perempat final Liga Champions adalah apakah Juventus mampu melakukan revans dari Madrid atas kekalahan yang sangat menyakitkan di Millenium Stadium, Cardiff, tahun lalu? Saya jawab, ya! Karena dalam setiap tahunnya Juventus selalu mampu berkembang, baik mental maupun teknis.

 

Juve telah berkembang, dari segi mental maupun teknis


Bukti Juventus bisa selalu berkembang dari tahun ke tahun adalah karena dalam tiga kali penyelenggaraan Liga Champions, Juventus bisa dua kali mencapai final. Yakni, pada musim 2014-2015 dan 2016-2017. Walaupun pada dua partai final tersebut Juventus tak mampu membawa satu pun piala si “kuping besar” ke Turin. Namun setidaknya ada pengalaman bagi para punggawa Juventus bermain di partai puncak kompetisi tertinggi di Eropa, setelah terakhir kali pada musim 2002-2003 Juventus mampu bermain di final, sebelum dikalahkan rival senegaranya, AC Milan.

 

Dampak dari bermain di final Liga Champions pada 2015 adalah bahwa Juventus telah kembali ke habitat aslinya. Yaitu masuk ke dalam jajaran klub-klub besar Eropa; seperti Barcelona, Real Madrid, dan Bayern Munchen. Para pemain pun sadar bahwa mereka kini telah sejajar dengan tiga tim besar diatas, yang selalu menjadi langganan semifinal di Liga Champions dalam tiap tahunnya.

 

Pada musim berikutnya di babak grup Liga Champions, Juventus pun mampu mengalahkan tim kuat Inggris, Manchester City (home & away) dan tim kuda hitam asal Spanyol, Sevilla, di Turin. Lalu, di babak perdelapan final menahan imbang Munchen selama 180 menit sebelum akhirnya dikalahkan melalui perpanjangan waktu. Bahkan Juventus unggul dua gol terlebih dulu lewat gol cepat Paul Pogba dan Juan Cuadrado, sebelum disamakan oleh Lewandowski di menit 73 dan Muller di injury time babak kedua.

 

Ternyata, bermain di final Liga Champions di Olympia Stadion, Berlin mampu mendongkrak mental dan menaikkan level bermain para pemain Juventus. Lantas, apakah final tahun lalu di Cardiff, bisa mendongkrak mental pemain Bianconneri secara signifikan? Jelas. Perlu diingat, di fase perempat final sebelumnya, Juventus berhasil menumbangkan Barcelona dengan agregat yang sangat meyakinkan; tiga gol tanpa balas.

 

Sebelum laga puncak di Cardiff, Juventus menunjukkan performa yang sangat mengesankan dengan hanya kebobolan tiga gol. Juventus berhasil membuat Lionel Messi dan kawan-kawan frustasi, karena kehabisan akal untuk membobol gawang Buffon dalam rentang waktu 180 menit.

 

Bukti bahwa mental pemain Juventus telah meningkat dengan signifikan adalah ketika berhasil mengalahkan Tottenham di Wembley Stadium dengan skor 1-2. Setelah sempat tertinggal di menit ke-39 melalui gol pemain internasional asal Korea Selatan, Son Heung Min, Juventus berhasil bangkit dan mencetak dua gol lewat sontekan Gonzalo Higuain dan tendangan keras Paulo Dybala; masing-masing dicetak pada menit 64 dan 67.

 

Secara pribadi, saya merasa pesimis Juventus mampu mengatasi Tottenham di Wembley, setelah hanya bermain imbang 2-2 di Juventus Stadium. Apalagi rekor kandang Tottenham melawan tim-tim dari Italia juga begitu impresif. Dari tujuh laga terakhir melawan tim asal Italia, Tottenham berhasil menang empat kali, dan sisanya imbang. Tapi, dengan semangat pantang menyerah para pemain Juve dan improvisasi taktik yang keren dari Max Allegri, akhirnya Juve keluar sebagai pemenang di Wembley, setelah bermain selama 90 menit di bawah tekanan supporter lawan.

 

Dari segi teknis, Juve sudah berkembang menjadi lebih kuat. Contoh kecilnya, dari kedalaman skuad yang dimiliki saat ini.  Di final kemarin, Juve belum memiliki Douglas Costa, Federico Bernardeschi, dan Wojciech Szczesny. Kehadiran mereka tentu membuat Allegri bisa secara fleksibel menggunakan formasi sesuai dengan kebutuhan tim. Karena Costa dan Bernardeschi merupakan tipikal pemain yang bisa bermain lebih dari satu posisi. Untuk Szczesny, kehadirannya sangat membantu lini pertahanan Juventus. Apalagi ketika kiper utama, Gianluigi Buffon sedang cedera.

 

Head To Head Juventus VS Madrid

 


Sejauh ini, Juve dan Madrid, sudah bertemu 19 kali di kompetisi antar klub Eropa. Hasilnya, Madrid menang sembilan kali, sedangkan Juventus menang delapan kali. Sisanya berakhir imbang. Namun, kalau dari rekor pertemuan di fase knock out Liga Champions yang bermain dengan format dua leg, Juve terbukti sukses empat kali menjungkalkan tim pengoleksi gelar terbanyak Liga Champions tersebut.

 

Pertama, pada musim 1995-1996. Saat itu Madrid masih dipimpin sang mega bintang, Raul Gonzales. Juve menang dengan agregat 2-1. Kedua, di semifinal musim 2002-2003. Ketika itu, Madrid diperkuat bintang-bintang ternama sekaliber Ronaldo, Zidane, Figo, dan Carlos. Juve mampu unggul dengan agregat 4-3. Ketiga, di perdelapan final musim 2004-2005, dengan pemain bintang yang kurang lebih masih sama, Juve mampu singkirkan Madrid dengan agregat 2-1. Terakhir, di semifinal 2014-2015. Kalau itu, Madrid diperkuat trio lini depan mautnya; yaitu Ronaldo, Benzema, dan Gareth Bale. Juve kembali bisa melangkahi Madrid dengan agregat 3-2.

 


Saya berharap, semua pemain andalan dari kedua klub bisa tampil dalam pertandingan di dua leg nanti. Saya berani menjamin, pertandingan nanti bakal berlangsung seru. Walau dari statistik pemain, level Madrid berada sedikit di atas Juve. Walau demikian, bukan berarti Madrid bisa dengan mudah menghempaskan La Vecchia Signora.

 

Dengan semangat pantang menyerah, fleksibilitas dan interpretasi taktik dari Allegri, saya yakin Juve bisa membuat Real Madrid pulang lebih cepat dari kompetisi paling tinggi antar benua Eropa tersebut. Ditambah Madrid tidak dalam performa terbaiknya di musim ini. Beda 15 poin dengan Barcelona di La Liga adalah buktinya.

 

Juve bisa lolos ke babak berikutnya asal bisa memenangkan pertandingan di Allianz Stadium. Karena kalau sampai imbang, apalagi kalah, peluang Juve untuk menembus semifinal Liga Champions terasa sangat berat. Namun, apapun hasil dari pertandingan dua leg ini, sungguh tidak akan mengurangi kadar cinta saya terhadap Juventus. Karena sekali Juventus, selamanya akan menjadi Juventus. Fino alla fine. Forza Juve!

 

*Penulis adalah seorang fundamentalis Juve

Karya : Ale Nisfu