Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 3 November 2017   00:51 WIB
Abdurrahman

Sebakda kalah debat, ia pulang dengan perasaan buncah bukan main. Perasaan yang tak pernah bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Setetes embun hidayah itu kelak mengubah panjang perjalanan hidupnya. Jalan yang tak pernah bisa ia duga. Jalan yang kelak mengantarkan ia pada perjuangan penuh onak dan duri di depan sana. Ia yakin dengan keputusannya hari itu. Ketika usai berdebat panas menyoal pendapat yang diyakininya sebagai bagian dari sunnah baginda Nabi. Namun, ketika berjumpa dan duduk bersama mendiskusikan apa yang diyakininya itu, lalu setelah dipahamkan bahwa itu adalah sesuatu yang raddun. Ia pulang membawa satu jalan baru. Ia pun sudah siap dengan segala resikonya. Termasuk diusir dan dihempas dari perjalanan juga perjuangan panjang yang dulu pernah ia rintis bersama sang tuan yang pernah memberikan banyak kesempatan berharga untuk dirinya. Dan pada akhirnya, lelaki bersahaja itu pun menerima kenyataannya. Ia akhirnya diusir bersama beberapa orang santrinya meninggalkan segala bentuk kemewahan, kenyamanan fasilitas juga berhimpun kemudahan lainnya. Alasannya sederhana, ia diusir karena sudah dianggap berbeda jalan dengan sang tuan.
 
Sampai akhirnya, lelaki itu terpilih menjadi murid kinasih dari seorang lelaki berkebangsaan Singapura  yang menjadi guru utama sebuah organisasi Islam pembaharu di Nusantara. Ia satu dari sekian banyak murid sang pembaharu yang dikenal teliti dan apik. Ia juga yang kemudian dipercaya untuk menjadi editor kitab-kitab yang akan digunakan sang guru saat hendak berdebat dengan musuh-musuh Islam di  masa itu. Salah satunya adalah Ahmadiyyah. Saat debat panas dengan Ahmadiyyah berakhir dengan kemenangan teduh di pihak Islam, maka bergemuruhlah surat-surat kabar masa itu. Perdebatan sengit itu memantik banyak wartawan untuk menuliskan panjang catatannya dalam sebuah pemberitaan. Dan ketika akhirnya pemberitaan itu sudah mewujud dalam surat kabar. Ada satu yang terlupakan. Ya, nama sang murid yang turut menjadi ‘arsitek’ perdebatan sengit itu tak disebut. Tentu, rasa dalam dada tiba-tiba bergemuruh. Kecamuk amarah sesaat merasukki pemikirannya. Ia seperti tidak dianggap jasa dan juga ikhtiarnya mengarsiteki perdebatan maha dahsyat itu. Namun, pada saat bersamaan lelaki itu mendapatkan petuah meneduhkan dari sang guru yang kelak ia jadikan tuntunan untuk terus menapakki jalan-jalan dakwah yang sunyi. Hendaklah kamu meniadakan diri untuk mewujudkan sesuatu adalah petuah yang kelak menuntunnya untuk tetap berkhidmat dan membaktikan dirinya untuk umat.
 
Ia, lelaki yang berhijrah itu. Meninggalkan segala kefanaan dunia. Ia yang kemudian di ujung hijrahnya dititipi amanah sang guru Ahmad Hassan untuk memimpin Pesantren Kecil yang kini mewujud menjadi Pesantren Persatuan Islam 01 dan 02 Pajagalan. Ia yang pada akhirnya berada di pucuk pimpinan organisasi yang sembilan puluh empat tahun lalu telah mengajarkannya tentang perjalanan pulang yang tak biasa. Ia yang kemudian mengabadikan namanya lewat Renungan Tarikh, Recik-Recik Dakwah dan buku-buku lain yang lahir dari buah pikir, gagasan juga analisisnya yang jernih. Ia, lelaki yang berhijrah itu.***

Karya : Aldy Wiguna