Sultan

Aldy Wiguna
Karya Aldy Wiguna Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Sultan

Sinuwun memang bukan sultan biasa. Ia lelaki terhormat juga lelaki sederhana. Seorang tegas tapi juga teduh. Seorang yang detak-detik waktunya menggambarkan betapa kebermanfaatan terus ia alirkan dari kedalaman sumur suci dalam sorot tajam matanya. Ia hadirkan keteladanan sempurna seorang pimpinan yang dekat dengan rakyatnya. Ia lebih memilih tidak ambil pusing ketika namanya disebut-sebut orang hanya karena kaos kakinya yang bolong, mobilnya yang sering ditumpangi rakyat biasa atau tentang tindakannya yang mengaku pasrah ketika ditilang seorang polisi jujur di Pekalongan bernama Brigadir Royadin dan lantas memilih hormat kepada keputusan sang polisi ketika Sinuwun meminta sang polisi dipindah tugaskan dari Pekalongan ke Yogyakarta.
 
Sinuwun tengah menunjukkan satu teladan penting tentang bagaimana seharusnya sikap kesatria seorang pemimpin. Tengoklah, ketika presiden Soeharto meminta duduk disejajarkan dengan Sinuwun dalam film Janur Kuning. Sinuwun tak lantas memprotesnya tapi justru mempersilahkan RI 1 itu untuk utuh mengambil sikapnya. Sinuwun pula yang mengalirkan segala kemegahan istananya untuk membantu republik yang baru lahir kala itu bahkan mengizinkan salah satu istananya yang kini karib disebut Istana Agung menjadi istana kenegaraan dan Yogyakarta menjadi ibu kota republik muda. Sinuwun tetap menunjukkan sikap-sikap kesatrianya. Ia tidak pernah merasa kalah apalagi dikalahkan. Sebab seperti namanya, Gusti Raden Mas Dorodjatun. Ia tengah menunjukkan ketinggian adab seorang pimpinan, menunjukkan kasih kinasih seorang pemimpin kepada rakyat. Juga menunjukkan bahwa orang-orang baik di negeri ini tidak pernah menghilang bahkan berkurang. Mereka ada, meski tapak-tapak kebaikan mereka tidak pernah nampak ke permukaan. Mereka ada dan tetap bekerja memberi yang terbaik untuk perjalanan bangsa yang purna dalam hitungan tujuh puluh dua purnama.
 
Mereka yang tumbuh menjadi pahlawan dengan caranya sendiri. Mereka yang merahasiakan tiap-tiap kebaikannya, namun semesta kebermanfaatannya justru dirasa demikian dekat. Mereka yang tidak pernah merasa menjadi pemimpin, tapi justru mereka merasa bahwa pemimpin yang lahir dari rahim rakyat adalah mereka yang tak pernah usai memahamkan dalam dirinya bahwa tahta adalah ujian juga titipan yang kapanpun dan dimanapun bisa diambil-Nya. Maka, bila mahkota kebesaran sultan-sultan Utsmani adalah kain kafan. Tentu, itu menjadi isyarat bahwa setiap jengkal perjalanan, setiap alir kebaikan kelak akan bermuara pada satu tanda sederhana yang kerapkali terlupakan. Bahkan seringkali terasingkan lewat silau dunia juga gemerlapnya yang acapkali membuat diri sendiri lupa tentang kita yang sama-sama manusia bukan malaikat !

  • view 42