Segelas Air Hujan di Februari

Indah puji Lestari
Karya Indah puji Lestari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Segelas Air Hujan di Februari

Rintik hujan ini terus turun sejak jam 3 pagi. Cuaca dingin mengajak tubuh untuk masuk lebih dalam ke balutan selimut hangat. Mata seakan tak mau terbuka mendengar nyanyian hujan diluar sana. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 5.00. Sudah saatnya bergerak ke kamar mandi dan beraktivitas seperti biasanya.

Aku menahan untuk menguap. Setitik air keluar dari kedua sudut mataku. Sambil memegang secangkir kopi hangat ku pandangi tetesan air hujan di jendela. Terlihat syahdu.

Hujan tak mau berhenti juga. Setelah berlari memakai payung dari halte bis menuju tempat seminar, dia masih juga mengguyurkan airnya ke permukaan bumi ini. Seakan kesedihan belum berakhir darinya.

Terasa seseorang berdiri disampingku. Tanpa menoleh kearahku, tapi memandang lurus ke depan. Menembus hujan melewati kedinginannya. Mata syahdunya itu seakan memberi kehangatan siapapun yang tengah berada didalam hujan. Hidung mancung dari kulit putih ?tampak samping itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang di bulan Februari yang tengah hujan berlari dan berteriak memohon maaf lima tahun yang lalu. Seperti membuka kenangan lama yang mulai pudar.

Tangan kanannya memegang gelas, tapi bukan berisi kopi, teh atau pun susu. Hanya air bening. Mungkin air galon isi ulang bisa memberinya kehangatan diruangan ber AC ini.?

Aku kembali menatap hujan, setelah tanpa sadar aku menoleh kearahnya.

"Hujan di Februari ini mengingatkanku pada seseorang," tiba-tiba ia bersuara. Suara yang samar pernah ku dengar. Bahkan sering. Tapi itu dulu.

"Seseorang yang meminta segelas air hujan di bulan Februari yang kala itu tengah kemarau. Demi pembuktian cinta dan kejujuran atas tuduhan kebohongan yang kulakukan. Meski segelas air hujan itu terlambat untuk diberikan. Karena dia pergi jauh disaat akhirnya hujan turun di bulan Februari."

Aku terhenyak. Isi kepalaku seakan membuka file lama yang tersimpan. Saat aku melihat dia yang kucinta pergi berdua dengan wanita lain. Yang satu tahun kemudian aku baru tahu bahwa itu sepupunya dan sahabatku memfitnahnya karena ternyata dia juga mencintai kekasihku. Disaat aku tahu, semua komunikasi sudah terputus.

Saat itu aku meminta segelas air hujan padanya jika memang wanita itu bukan selingkuhannya. Di bulan Februari yang tengah kemarau panjang. Tanah gersang. Pepohonan banyak yang mati. Aku tak berniat meminta hal yang tak mungkin. Yang kutahu jika memang semua benar adanya, pasti hujan akan turun untuk mengabulkan doaku. Aku memberinya waktu tiga hari.

Ya, hari terakhir hujan memang turun. Tapi disaat aku sudah tersakiti dan aku akan pergi ke Australia untuk kuliahku. Rasanya saat itu pengkhianatan tak bisa ku tolerir sedikitpun.

Laki-laki disampingku menyodorkan gelas ditangan kanannya. Yang kutahu bukan kopi, teh ataupun susu.

"Segelas air hujan ditanggal yang sama, meski terlambat 5 tahun."

Aku menatapnya tak percaya. Sosok itu kini ada dihadapanku. Sosok tinggi, tegap, berhidung mancung dan bermata syahdu itu. Yang dulu selalu ada disampingku.

"Permintaan maaf ini mungkin sudah terlambat. Tapi tetap tak kan ada yang berubah dariku. Rasa air hujan ini pasti hambar, tapi pasti tetap sama seperti permintaanmu dahulu."

Aku hanya terdiam. Masih tak percaya dengan sosok dihadapanku. Penampilannya lebih islami, namun tak banyak berubah. Bedanya hanya ada sedikit janggut didagunya, dan wajahnya lebih bersinar.

Aku tak mampu menatapnya. Aku hanya mampu menatap lantai sambil memegang ujung jilbabku. Jilbab yang alhamdulillah sudah mulai kukenakan dua tahun terakhir ini.

"Raya, segelas air hujan ini bukan lagi permintaan maafku, tapi sebagai bukti bahwa aku serius padamu. Meski kita sudah berpisah lima tahun lamanya. Semua tetap tak ada yang berubah dari rasaku. Sore nanti izinkan aku bertemu dengan ayahmu. Bukan lagi seperti dahulu hanya sekedar untuk bermain, tapi aku akan melamarmu."

Aku menatapnya tak percaya. Saat mata kami bertemu, kami sama-sama saling menundukkan pandangan. Aku melihat ke lantai lagi. Berputar kembali kenangan masa lalu. Kami bersabahat sejak kecil, rumah kami berdampingan. Namun saat SMP aku pindah dua gang dari rumahnya. TK, SD, dan SMA kami selalu satu sekolah. Hanya SMP kami sempat terpisah. Dulu, aku sudah menyukainya sejak SMP. Namun kami baru berpacaran saat kelas 3 SMA. Bahkan dihari terakhir aku bertemu dengannya aku masih mencintainya. Dan rasa itu masih tetap ada saat aku kuliah di Australia. Aku masih selalu mendoakannya. Meminta pada Allah bila memang dia adalah jodohku, maka pertemukan kami kembali disaat kami sudah menjadi manusia yang lebih baik. Bahkan, doa itu tidak pernah putus, sampai saat ini.

"Jam 7 malam dirumahmu. Sampai ketemu nanti. Assalamu'alaikum," ucapnya sambil berlalu pergi.

Tanpa suara kujawab salamnya. Inikah jawaban atas doaku ya Allah??

Segelas air hujan permintaanku dahulu itu, kini ada digenggamanku, bukan sekedar permintaan yang mengada-ada. Aku berkata padaMu, aku ingin menjadi hambaMu yang lebih baik. Begitupun aku ingin dirinya sepertiku, menjadi lebih baik. Bila sedihku dan perpisahan saat ini memang yang terbaik, biarlah semua terpisah olehMu hingga datangnya saat itu. Aku yakin, jika memang kami berjodoh, kami akan di pertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik melalui segelas air hujan.

Tak terasa wajah ini terasa hangat. Titik air mata dikedua sudut itu kini meleleh. Seperti air hujan yang masih membasahi bumi.?