10 Pemuda Dulu dan Sekarang

Indah puji Lestari
Karya Indah puji Lestari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Februari 2016
10 Pemuda Dulu dan Sekarang

Ada yang menggelitik hati tatkala melihat pemuda jaman sekarang. Penuh gaya, penuh gaul bahkan penuh romantika yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku juga masih termasuk barisan pemuda Indonesia yang bergaya meski seadanya, yang gaul meski masih cupu, yang penuh romantika meski kadang berakhir drama, bahkan dramatis.

Teringat pelajaran Sejarah saat sekolah dahulu, salah satu pelajaran favorite meski setiap ditanya tanggal, bulan dan tahun peristiwa pasti gelagapan karena tertukar-tukar. Lebih sulit daripada rumus kimia atau fisika. Pelajaran yang menumbuhkan rasa nasionalis, patriotisme, dan rasa menghargai perjuangan para pahlawan. Bahkan sampai berharap punya kekasih hati yang kuat, tangguh, jago diplomasi, dan punya rasa nasionalis yang tinggi. Intinya yang berjiwa pejuang kemerdekaan gitu.

Tapi dijaman yang penuh teknologi bahkan radiasi ini sungguh sulit menemukan pemuda yang "bersejarah" tersebut. Yang aku lihat bukan lagi pemuda-pemuda yang berkumpul membahas "kemerdekaan" Indonesia dengan prestasi yang mampu mengguncang dunia. Bukan lagi pemuda-pemuda yang berjuang melawan penjajah dengan beraninya. Yang kulihat adalah sekumpulan anak muda tengah bersiap tawuran, sedang kongkow sambil bergosip, menjadi korban sinetron dengan gaya bicara aneh dan penuh drama, bahkan ala-ala kebarat-baratan seperti jaman kompeni dahulu. Budaya dilupakan demi kata modern. Identitas bangsa hilang demi kata gaul. Kemanakah 10 pemuda seperti kata bapak Presiden RI pertama tercinta itu? ?10 pemuda bukan lagi mengguncang dunia, tapi berkumpul menjadi anak-anak alay dan bermasalah.

Tidak semua, memang tidak semua pemuda sekarang seperti itu. Masih banyak yang berprestasi dengan karyanya. Mereka hanya buih-buih di lautan yang terlihat mata. Pemuda-pemuda bak mutiara pun ada tapi memang di dasar samudera. Sedikit jumlahnya, bernilai harganya, tapi tak terlihat oleh mata bila kita tidak mencarinya. Bahkan petinggi negeri ini kadang tidak mempedulikan nasib mereka, hingga saatnya mereka dipinang oleh negara lain, baru merasa bangga, kehilangan, atau bahkan senang? Keinginan mengabdi malah tak dihargai.

Ir. Soekarno berkata, "beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia". Kata-kata Bapak masih relevan, tapi dengan arti yang berbeda.

Sekarang kita dijajah teknologi dan bangsa sendiri. Masihkah ada 10 pemuda yang tersisa itu? Ya, cukup 10 pemuda, tak mengapa, asalkan mereka mampu mengguncang dunia dan merubah pemuda-pemudi bangsa kita.

  • view 347