Maafkan Aku yang Menuliskanmu

Aldila Umi Nursela
Karya Aldila Umi Nursela Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Februari 2016
Maafkan Aku yang Menuliskanmu

Maafkan Aku yang Menuliskanmu

Dahulu, sebuah perjalanan pernah kita tempuh bersama. Bersama untuk saling mengerti, saling menguatkan. Kamu pemberi bilik kenyamanan bagiku, dan aku penikmat rasa nyaman itu. Kamu pun mengatakan yang sama tentang itu. Selain keluargaku, kamu adalah seseorang yang aku takuti kehilangannya. Saat ini, apa kabarmu?

Biarpun kamu tak mengabarkannya langsung untukku. Tapi rasanya orang-orang seperti memberitahuku kabar tentangmu. Nampaknya benar, kebiasaanmu masih seperti dulu?

Apa kamu tahu? Aku disini selalu di datangi bayanganmu. Mungkin, karena tangan ini masih saja mengukir aksara untuk menceritakanmu. Isi kepala ini masih saja menguras memorinya untuk bergelut mendimensikan segala tentangmu.

Tentang barisan aksara dan menjadi tulisan yang berisi tentangmu. Ini hanya sebagai penawar perasaan yang aku pilih. Yang aku tahu, kamu sudah nyaman seperti ini, kan? Kamu bahagia dengan mereka, atau mungkin diantara mereka itu ada seseorang yang membuat tawamu seperti ini, ia dia yang telah menggantikan tempatku. Aku juga tidak akan memaksamu untuk bercerita lagi padaku. Toh, hari ini aku bukan seseorang yang kamu pilih untuk mendengar keluhmu. Bukan seseorang yang kau pilih mulutnya untuk memberi tanggapan keluhmu itu. Bukan aku. Hari ini, kamu bukan pula seseorang yang ingin mendengar kabarku. Menanti cerita-cerita yang aku lalui setiap hari.

Dan kita adalah perjalanan. Di dalamnya bahagia dan kecewa, manis seperti gulali dan pahit seperti ampas kopi, pasang seperti perasaan yang menggebu untuk bersama dan surut seperti rasa bosan yang pernah ada. Apa memang kita bertemu kemudian harus berpisah? Apa memang jika awalnya seperti itu maka harus berakhir seperti ini?

Aku tidak tahu kisah cinta kita cinta apa. Cinta monyet, cinta mati, atau seperti Bapak B.J Habibie dan ibu Ainun yang kisah perjalanan cintanya dibagikan melalui media film dengan soundtrack Cinta Sejati. Ya, kamu mengajakku menonton film itu. Padahal yang aku tahu itu tidak terlalu masuk dalam kategori film kesukaanmu. Lagi-lagi, kamu menarikku untuk masuk dalam daftar kisah cinta sejati. Ah, pemikiran yang sungguh terlalu berisiko.??? ???

Dengan tulisan ini, aku tidak bermaksud untuk memamerkan apa yang orang sebut itu luka. Bukan aku saja yang terluka, ku yakin kamu pun pernah merasakannya. Terserah mereka mau bilang apa. Mereka tidak tahu yang sebenarnya, bukan? Untuk menjatuhkanmu pun tidak, itu bukan tujuanku. Sebabku hanya ingin menyimpanmu dalam aksara, serta memastikan kamu ada dalam perasaan ini. Dan akan ku usahakan seperti maumu, untuk merubahnya menjadi pernah ada. Juga hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasa. Meski pendengarnya bukan lagi kamu. Mungkin dari tulisan ini, besar pula peluang membentuk ruang bencimu untukku. Bebas. Itu pilihanmu.

Nanti, jika saatnya tiba tak kutemukan lagi ragamu dalam nyata, aku bisa menemukanmu dalam aksara. Tapi jika kau yang tak pernah menemukanku dalam nyata, aku tak tahu usahamu mencari ku

Maka maafkan aku menulis semua ini. Jika itu kamu, aku minta maaf. Aku tidak tahu kamu membaca tulisan ini atau tidak. Yang aku tahu, aku merasa berbeda setelah menulis. Kedengarannya egois bukan? Tapi rasanya seperti bercerita pada hari-hari dimana aku masih didengarkan kamu.? Rasanya romantis. ?Meski pada kenyataannya, hari ini tak pernah lagi didengar oleh seseorang itu yang kusebut, kamu.? Ya, kamu. Seseorang yang menjadikan ku mencintaimu lewat doa, juga aksara.

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

  • view 206