Tiada Batas

Aldifa Putri
Karya Aldifa Putri Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 Januari 2016
Tiada Batas

Banyak orang berkata,

?Ini sudah melebihi batas kesabaranku.?,

?Sabar kan ada batasnya.?,

?Sampai kapan aku harus terus bersabar??,

?Sabar, sabar, sabar, capek aku harus terus bersabar.?,

?Makan tuh sabar! Aku mah udah gak sanggup.?,

???

(sok atuh bagi temen-temen kalau mau nambahin kalimat yang berhubungan dengan sabar! ^_^)

Aku tidak pandai berteori. Jadi silakan dirumuskan sendiri teori tentang sabar-nya?

***

Jujur itu butuh kesabaran. Menuntut ilmu apalagi.

Menjadi anak harus sabar. Begitu juga menjadi orang tua.

Bekerja harus sabar. Menganggur pun harus sabar.

Makan harus sabar. Menunggu? jelas butuh kesabaran.

Berbuat baik harus sabar. Menjauhi keburukan pun harus sabar.

Beribadah? Sudah pasti butuh kesabaran.

?

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah:

?APAKAH SABAR ADA BATASNYA??

?

?

***

Jika sabar ada batasnya, mungkin aku tak kan mampu bercerita tentangnya.

Jika sabar ada batasnya, mungkin aku tak akan bisa sampai ke bangku kuliah.

Jika sabar ada batasnya, mungkin aku sudah menyerah dari segala ujian yang menjadikanku besar.

Jika sabar ada batasnya, mungkin keluargaku sudah pecah dan terpisah.

Jika sabar ada batasnya, mungkin aku tak bisa lagi melihat senyum indah di wajah wanita mulia yang sudah merawat dan menjadi guru besarku.

Jika sabar ada batasnya, orang pasti akan dengan mudah menyerah dengan mengatakan,

?Kesabaran orang ada batasnya.?

Jika sabar ada batasnya, maka?

Akulah orang pertama yang akan menghancurkan batas itu sehingga tidak ada lagi yang mengatakan ?kesabaran itu ada batasnya?.

Jika sabar ada batasnya, tak bisa kubayangkan akan jadi seperti apa dunia ini. Bayangkan saja seandainya dahulu Rasulullah menyerah dan berhenti berdakwah dengan alasan ?kesabaran itu ada batasnya?!

Bayangkan seandainya seorang ibu memutuskan untuk berhenti berjuang ketika akan melahirkan! Apakah anaknya akan terlahir di dunia? Bukankah melahirkan pun butuh kesabaran?

***

Aku dilahirkan oleh seorang wanita mulia. Wanita mulia itulah yang banyak mengajariku tentang makna dari sebuah kesabaran. Dia tak menjelaskannya dengan teori. Dia tahu teori tak akan bertahan lama dalam memoriku.

?

KEHIDUPAN

?

LIFE

?

Dari situlah dia mengajariku tentang kesabaran. Bagaimana seorang wanita menjaga keutuhan keluarganya. Bagaimana seorang wanita mampu mempertahankan keluarganya. Bagaimana seorang wanita mengatur rumah tangganya. Bagaimana seorang ibu mendidik anaknya. Dan bagaimana seorang istri menjaga kehormatan suaminya. Lihat, kawan? Itu semua bukan hal yang mudah. Bahkan wanita yang sekolah tinggi sampai ke luar negeri sekalipun belum tentu mampu melakukannya, kawan. Tapi, lihalah dia? wanita mulia yang telah melahirkanku. Wanita mulia yang hanya lulusan SMP. Dia mampu melakukan semua itu tanpa pernah sedikit pun mengeluh dan menyerah. Apalagi untuk sekedar mengatakan kalimat bunuh diri ?kesabaran itu ada batasnya?.

?

Aku miris melihat kondisi terkini dari manusia. Kasus perceraian marak terjadi dan seakan menjadi hal yang sangat ?enteng? untung dilakukan. Banyak sekali alasan yang dijadikan dalih. Mulai dari ketidakcocokan, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Seolah pernikahan yang dilakukan itu tidaklah berarti atau dengan kata lain, hanyalah main-main.Aku memang belum berkeluarga. Aku belum pernah menjadi seorang istri apalagi seorang ibu. Tapi aku tinggal dengan seorang istri sekaligus seorang ibu. Aku tahu betapa sulitnya dan betapa melelahkan tugas yang diembannya. Tapi dia tidak begitu mudahnya melayangkan kata ?cerai?.

?

Capek? Sudah pasti. Tapi capek itu tak seberapa dibandingkan kebahagiaan yang akan didapatkan.

?

Kawan, mungkin kau sudah bosan mendengar kata sabar didendangkan. Setiap kali ujian datang dan kau mengadu pada sahabatmu, pastilah kata ?sabar? yang dia ucapkan. Tapi percayalah kawan, Allah tak akan pernah mengingkari janjiNya?

?

?Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.?(Asy-Syu?ara:43)

?

***

?Kau tak mengerti apa yang aku rasakan karna kau tak mengalaminya.??

Dia pikir hidupnya adalah yang paling menderita.?Dia tak terima karena dengan entengnya aku berkata ?Sabarlah!? tiap kali dia bercerita tentang masalahnya. Seakan tak ada kata lain yang bisa aku berikan untuknya. Tapi masalahnya bukan karena tak ada kata lain yang bisa aku ucapkan. Melainkan karena itulah yang DIA BUTUHKAN.

?

Seringkali orang terlalu sibuk mencari solusi yang ?njlimet? sehingga melupakan solusi yang ?ada?. Sabar itu bukan sebatas ?pasrah? dan ?menunggu?, kawan. Tapi lebih dari itu. Sabar itu?.

  • Istiqomah pada kebaikan
  • Ikhlas dan hanya mengharap ridloNya
  • Terus berikhtiar dan berdo?a
  • Tawakkal dan selalu percaya pada JANJINya

Itulah sabar yang sudah mengantarkanku menuju sebuah pemaknaan hidup. Sabar yang dahulu seringkali aku remehkan dan aku anggap tiada guna,

Yang kini menjadikanku lebih dekat denganNya.

?

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersabar?^^

  • view 285