Penjara Si Bungsu

Aldifa Putri
Karya Aldifa Putri Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 23 Januari 2016
Penjara Si Bungsu

Suara-suara sumbang itu terus menghantui. Tak henti mengejar kemana pun pergi. Tak peduli yang dikejar tengah lelah berlari. Suara-suara sumbang itu akan terus mengejar hingga dia berhasil menjerat buruannya dan memerangkapkan buruannya ke dalam penjara sucinya.


?Hhh? aku ingin bebas sebebas-bebasnya. Aku ingin seperti burung yang bisa terbang lepas di angkasa. Bebas untuk menentukan arah dan tak harus mendengarkan suara-suara sumbang yang menggoreskan luka. AKU INGIN BEBAS?!!!?


Bungsu berteriak dalam diamnya. Tak seorang pun mampu mendengar jerit hatinya. Hanya dia dan sahabat sejati yang menemani dengan setia, serta Sang Pencipta yang mampu mendengarnya. Orang lain tak perlu tahu karena hanya akan menambah suara-suara sumbang yang terdengar.


?Hosh? hosh? hosh? sesak. Bahkan untuk sekedar bernafas dengan lega pun aku tak bisa. Betapa KEJAMNYA mereka. Hati mereka sudah beku ataukah mereka sebenarnya tak punya hati? Setelah apa yang aku lakukan untuk mereka, inikah BALASANNYA??


Bungsu meneteskan air mata. Rasa lelah itu telah menumpuk dan kini tumbuh menjadi gunung kebencian. Dia tak pernah mengharapkan semua ini terjadi. Keadaanlah yang menuntutnya untuk membenci apa yang dia pikir akan dia cintai.


?Kenapa harus AKU? Kenapa bukan MEREKA? Apakah kau lebih menyayangi mereka daripada AKU? Hiks? AKU juga ingin bisa seperti MEREKA. Tapi kenapa kau lakukan ini padaku? KENAPA? Padahal AKU sangat menyayangimu. Tapi kenapa KAU ingkari janjimu??


Air mata bungsu mengalir semakin deras. Biarlah suara-suara sumbang itu semakin terdengar. Dia tak peduli lagi. Dia sudah sangat lelah untuk terus berlaga. Panggung itu semakin reot dan tak mampu menopang tubuhnya lagi.


?Tak adakah sedikit kesempatan untukku menyicipi kebebasan? Sampai kapan aku harus terus berada disini? Lihatlah aku, kumohon! Aku sudah lelah??. Sungguh, aku tak akan minta lebih. Aku hanya ingin keluar dari sini, kumohon?. Keluarkanlah aku!?


Suara bungsu melemah. Dia tersungkur dan tak mampu berdiri lagi. kepalanya tertunduk lesu. Tak tahu pada siapa lagi dia akan memohon pertolongan. Dia tak pernah menyadari bahwa sulung tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


?Bungsu? tak ada yang bisa mengeluarkanmu dari situ. Berdirilah! Lihatlah duniamu dengan mata terbuka! Hanya KAU? yang mampu mengeluarkanmu dari penjara suci yang telah kau tanam dalam hatimu dengan setumpuk kebencian. Mintalah padaNya untuk memberikanmu kekuatan dan kesabaran. Maka, kebebasan itu pun akan datang??


Sulung mengusap pundak bungsu dengan lembut. Dia percaya bungsu mampu terbang lepas seperti burung. Dia yakin bungsu akan segera mengepakkan sayap indahnya. Bungsu yang dulu dia kenal pasti akan kembali?


?Kau tak pernah benar-benar sendiri, bungsu? AKU dan MEREKA sangat menyayangimu. Dia bahkan selalu mendo?akanmu. Kau tak berjuang sendirian, karena AKU dan MEREKA pun tengah berjuang??

Even if we are far apart, I have faith that
Our futures, originating from the same dream, will be connected
We have made a vow to each other to meet at the promised place someday?

  • view 122