Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 22 September 2016   18:23 WIB
Lelaki Tua dan Anggrek

Tak ada yang indah saat terjebak lalu lintas yang macet. Kecuali sebuah toko di dekat persimpangan jalan. Tokonya tidak terlalu besar, tapi didesain dengan sangat apik. Sebagian besar toko itu berbahan kaca dengan kerangka kayu dan baja ringan. Bagian atapnya, aku menduga mungkin terbuat dari fiber jernih dengan tambahan jaring-jaring penghalau sinar matahari. Di dalam toko itu terlihat bunga-bunga yang sangat indah. Berwarna-warni mengalahkan warna mobil-mobil mewah yang berderet sepanjang jalan. Toko itu memiliki sebuah pintu, berada di bagian tengah muka toko. Di samping kiri dan kanan pintu, ada rak berisi pot-pot dengan bunga yang tumbuh subur. Ku rasa itu bunga anggrek, aku bisa lihat bunganya menjuntai, dan bunga lainnya yang tidak aku kenali. Di atas pintu, ada papan yang bertuliskan “Toko Bunga Alexandra”.


Terkadang pintu depan itu tidak ditutup. Hingga aku bisa melihat ke dalam, meski hanya dari kejauhan di jalan raya. Bunga-bunga seperti mawar, lili, sedap malam, sudah dirangkai sedemikian rupa, di bungkus dengan plastik, dijajarkan di rak bagian dalam toko dan siap untuk dijual. Kadang aku juga melihat seorang kakek yang sedang menyirami bunga-bunga di rak luar. Pasti itu adalah pemiliknya, ku tebak. Terlihat dari caranya merawat bunga-bunga itu, begitu tulus. Dia berpakaian sederhana, sebuah kemeja safari putih dan bawahan celana pendek. Dia juga memakai sepatu boot berwarna hitam, tapi sudah agak pudar warnanya hingga terlihat seperti abu-abu. Tangan kirinya memegang alat penyiram yang bentuknya mirip teko raksasa, sementara tangan kanannya memegang sebuah gunting kecil yang sesekali beliau gunakan untuk memotong daun rusak atau ranting yang sudah tua.

Setiap hari, saat melewati toko bunga itu, aku selalu melihat bunga-bunga begitu segar dalam rangkaian. Padahal secara logika, sebagian besar bunga akan terlihat segar hanya dalam waktu sehari setelah di petik. Selanjutnya bunga akan layu dan membusuk. Tapi bunga-bunga yang ada di toko itu selalu segar setiap harinya. Aku bertanya-tanya: Apa mungkin si kakek itu selalu mengganti bunganya dengan bunga yang baru setiap hari? Tapi beliau kemanakan bunga-bunga yang kemarin? Laku terjual? Selama ini, setiap aku lewat, aku tak pernah melihat ada pembeli datang ke toko itu. Jadi kemana bunga-bunga itu jika tidak terjual?

Semakin hari, aku jadi semakin penasaran. Karena hanya toko itu dan bunga-bunganya yang selalu membuat hati terasa damai meski dalam kemacetan parah. Kalau saja sepanjang jalan ibu kota terdapat toko bunga seperti itu.

Aku memutuskan untuk mampir, mungkin membeli setangkai mawar merah untuk ibuku. Siapa tahu, aku bisa sedikit mengobrol dengan si kakek. Aku memasang lampu sein dan berbelok menuju halaman toko. Halaman tokonya tidak terlalu luas, tapi cukup untuk parkir beberapa sepeda motor dan sebuah mobil. Samar-samar di balik bunga-bunga yang ada di rak depan, terlihat si kakek sedang asyik di dalam merangkai bunga-bunganya. Pintu depan tertutup, lalu aku menarik tuas pintunya dan sedikit dorongan ke dalam.

Tring… Terdengar suara lonceng kecil berbunyi di atas pintu. Rupanya si kakek memasang lonceng di atas pintu untuk menandakan ada seseorang masuk ke tokonya.

Dia menorah dan tersenyum ke arahku.
“Cari bunga nak?” Si kakek bertanya.
“Iya Kek.”
“Untuk kekasih?” Dia tersenyum.
“Oh tidak, untuk ibuku.”
Si kakek mengedarkan pandangannya ke rak. “Mungkin mawar putih itu akan cocok.”
“Kurasa. Berapa harganya?”
“15.000 rupiah.”

Si kakek berjalan menuju rak untuk mengambil setangkai mawar putih tadi. Langkah si kakek tak sebagus senyumannya. Tapi masih cukup gagah untuk seorang kakek yang ku duga usianya sudah 70 tahunan.

“Aku sering lewat sini Kek.”
“Oh ya?” Si Kakek menjawab dengan nada antusias. Senyuman tersungging memancarkan sisa-sisa kharismanya. Kakek ini sudah tua tapi beliau terlihat begitu segar dan bersemangat. Mungkin bunga-bunganya selalu menebarkan energi positif kepada si kakek.
“Iya kek, aku bekerja di Pejaten. Aku sering melihat tokomu dari jalan. Tapi baru kali ini aku sempat mampir.”
“Ya, mulai sekarang mampirlah sesukamu. Ku rasa aku akan senang.”
“Terima kasih Kek. Aku melihat bunga-bunga di toko mu selalu segar Kek, apa kau selalu mengganti bunga dengan yang baru setiap hari?”
“Begitulah. Aku punya sahabat di Puncak sana yang tak pernah bosan memasok bunga-bunga indah setiap hari.”
“Hm, lalu, apa bunga-bunganya terjual habis setiap hari?”
“Tidak. Hanya beberapa tangkai saja yang terjual, sisanya aku simpan dalam tong di belakang, sampai mereka busuk lalu jadi kompos. Setidaknya mereka tidak mati sia-sia, mereka akan berguna untuk bunga yang lain sebagai pupuk.”
“Begitu ya kek. Berarti, kau merugi setiap hari karena bungamu tidak terjual?”
“Rugi secara materil, mungkin. Tapi aku menyukai bunga, bisa melihat mereka mekar adalah keuntungan besar buat ku. Tak semua untung itu harus materil, benar?”
“Benar kek. Oh ya, namaku Arial. Namamu Alexandra, kek?”
“Hm, aku Ardhana. Alexandra adalah almarhum istriku.” Si Kakek menatapku. Seketika matanya berkaca-kaca.
“Maafkan aku kek. Aku tidak bermaksud…”
“Tak apa nak. Ini adalah toko bunga milik Alexandra. Dia sangat mencintai bunga. Bunga anggrek yang paling dia sukai. Dia sering ke toko ini tengah malam hanya untuk melihat bunga anggreknya mekar. Mm, aku sangat bahagia ketika melihat Alexandra tersenyum melihat bunga anggreknya mekar.”
Si kakek menatap ke sudut toko. Di sana ada sebatang pohon yang sudah lapuk. Terdapat lubang-lubang alami di sekujur pohon akibat pelapukan. Di setiap lubang itu, tumbuh pohon anggrek yang begitu indah. Tapi sedang tidak berbunga. “Toko bunga ini,” lanjut si kakek, “bunga anggrek itu, selalu mengingatkan ku kepada Alexandra, seolah aku masih bisa melihatnya sedang memandangi anggrek-anggreknya.”
“Anggrek itu kek?” Aku menunjuk ke arah pohon lapuk.
“Iya, itu adalah anggrek kesayangan Alexandra. Anggreknya hanya mekar di tengah malam.”
“Hm, Sayang sekali, aku tidak bisa melihat anggrek itu mekar.”

“Kau harus sabar menunggu sampai tengah malam nanti untuk melihat indahnya bunga anggrek itu mekar. Untuk mendapatkan sesuatu yang indah memang selalu butuh kesabaran. Sama seperti halnya aku saat ini, sedang sabar menunggu kematian agar bisa melihat indahnya senyum Alexandra lagi.”

Karya : Al Muh