perasaanku, mengharu biru

Nafis  Albi
Karya Nafis  Albi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Februari 2017
perasaanku, mengharu biru

Aku menemukan ini. Pada lembaran awal yg terbalik. Isinya sungguh memukau.

 

"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil Cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi .

 

Sungguh di surga,  menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. 

 

Karena beda kau dan aku sering jadi sengketa. 

 

Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran. 

 

Karena satu kesalahanmu padaku sudah menghapus sejuta kebaikan yang lalu. 

 

Wasiat Sang nabi (Saw) itu rasanya berat sekali: "jadilah hamba hamba Allah yang bersaudara".

 

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja. 

 

Menjadi kepompong dan menyendiri .

 

Berdiri malam malam, bersujud dalam dalam, bertafakur bersama iman yang menerangi hati. 

 

Hingga tiba waktunya menjadi kupu kupu yang terbang menari melantun kebaikan diantara bunga, menebar keindahan pada dunia. 

 

Lalu dengan rindu, kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah,

 

Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi, dengan persaudaraan suci: 

 

Sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji."

 

Dibacanya ketika satu "S" terduduk manis dalam mesin baja hitam menuju pangkalan panjang pada rabu tahun lalu, kalian "S" dan "N" dan "D" pasti tau, ya kan? (Kalian suruh aku untuk membukanya ketika sampai? Kalian sudah tau aku kan?  Bahwa aku bandel ?? Hehe) sudah pasti suruhan kalian tidak aku patuhi. Tapi sungguh, bukan maksud untuk tak mematuhi tapi seperti yang sudah kalian ketahui, keinginan hatiku rasanya sudah tumpah meruah. Walau baru saja sebentar bungkusan ada dipangkuan, bisikan bisikan untuk segera membuka bungkusan kain seadanya itu lah yang mendorong kuat kekepoanku. Bungkusan apa ini? Hadiah kah? Oh, rasa rasanya aku tersanjung dengan bungkusan yang disodorkan oleh dua manusia ajaib hari itu. Maksudku, dengan penampakannya saja, yg kehadirannya dirasa mustahil bagiku, membuatku terbengong bengong, terheran heran dan mungkin juga terkagum kagum. Mereka hadir ditengah teriknya matahari melebihi dari terik biasanya. Benar benar terik. Datang dengan sebuah motor merah terparkir di bahu jalan. Ku akui, daerah perpisahan kami kemarin adalah kawasan elit. Seelit pengorbanan yang banyak mereka berikan padaku. Seelit pengakuan mereka atas diriku yang dengan tulus hati disampaikannya padaku bahwa aku adalah sahabat mereka. Semua itu juga sudah mewakilkan perasaan haruku. 

Ini malah ditambah bungkusan yang kalian beri. Mungkin kalian alpa dengan kondisiku kala itu, tentu saja selepas da- da an kita yang terkhir (mengingat sudah kesekian kali kita saling ber-da da tapi mata masih bisa saling memandang), selepas baja hitam kendaraan yang membawaku melaju. Menjauh dari titik berlabuhmu. 

 

Karena hari ini aku sedang berbaik hati, aku dengan senang hati akan memberikan kalian ucapan selamat. Selamat pada kalian karena sudah berhasil membuatku melepas kestabilan emosi yang darinya membuat mataku tak henti hentinya mengeluarkan tetesan air. Kalau kalian tanya apa arti dari setiap tetes nya yang jatuh? Tolong jangan tanyakan padaku! Karena aku akan menjawabnya seakan aku dongengkan kalian kisah dari buku yang setebal tumpukan buku yang paling tebal. Kalian pasti akan bosan mendengarnya. Jadi jangan tanyakan, ya? Tapi sekali lagi, karena hari ini hatiku sedang baik,  aku memilih untuk me-review-nya ke catatan kecil ini. Untuk kalian. Dengan bermodalkan bahan seadanya; handphone, otak dan jemari, catatan ini aku sampaikan sebagai bentuk haruku atas kebersamaan kita. Sebagai bentuk nyata jawaban pengisi kealpaan pengetahuan kalian tentang rasaku hari itu. Di dalam mesin baja hitam yang membawaku ke pemberhentian panjang. Pada sepanjang waktu yang membersamaiku menuju penghujung pulau. 

 

Entah apa yang kurasa, nyatanya, rasa itu berhasil membuat mata ku bengkak dan airmataku tak berhenti hentinya mengeluarkan air super deras. Hatiku tak menginginkannya tapi rasa yang kubilang tadi, berhasil membuatnya mengalir. Benar benar terus mengalir. Entah rasa apa ya itu? Sedihkah, senangkah, menyesalkah, terharukah, puaskah? Ah, tak tau. Itu review-ku. Untuk kalian yang tak pernah meninggalkanku jauh dibelakang. Untuk kalian yang bersedia menerimaku untuk senantiasa berjalan beriring. Untuk kalian, predikat sahabat terbaik. 

 

Uhibbukun fillah ^^

Apa kabarnya kalian? Aku disini dalam keadaan baik alhamdulillah.. 

 

Jan, 4th 2017

#latepost

  • view 88