Sang Penggenggam Wahyu

Fatihatun Nuril
Karya Fatihatun Nuril Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Desember 2017
Sang Penggenggam Wahyu

SANG PENGENGGAM WAHYU

Catatan cinta yang pendek untuk cinta yang panjang. Ungkapan yang mungkin bisa menggambarkan kenapa aku terus berlama-lama denganmu disini, menyelami dunia yang kebanyakan mereka menjauhinya, dengan daya sepenuh upaya.

Ini surat sang pengenggam wahyu

diatas segala rindu yang menggebu

beradu dalam padu

berujung pada yang tertuju

sore itu, dipenghujung acara haflah maulidurrosul salah satu pondok pesantren salafiyah di daerah terpencil di kota Malang, terlihat para santriwan-santriwati sumringah saling menyunggingkan tawa dan senyumnya. Ah... rumah menantiku, liburan didepan mata, pikirnya.

terlihat jelas ada yang menggenang di pelupuk matanya yang mendesak untuk keluar namun ia tahan habis-habisan ketika nama Azka dipanggil untuk maju kedepan panggung. Haru menyeruak. Dadanya bergemuruh terasa hangat pada sudut mata, ia mulai tersadar bulir-bulir itu berhasil meloloskan diri membawa haru bahagia menyertai namanya.

Ini belum berakhir, perjuanganku masih panjang.

* * *

Lima tahun yang lalu, tepatnya hari rabu bulan januari dini hari keberangkatanku menuju penjara suci begitulah kiranya pernyataan teman baruku setibanya disini

“Dadi anak seng apik yo le, ojo nakal-nakal, seng manut karo pak kyai bu nyai” pesan terakhir abah sebelum meninggalkan aku ditempat ini dan ku jawab dengan anggukan patuh

 Beberapa bulan berdiam ditempat ini aku tak serajin waktu masuk, mulai bermalas-malasan, bolos ngaji, dan lain sebagainya yang menyebabkan aku terkenal sebagai anak bandel. Hingga suatu waktu ketika sedang berjalan didepan ndalem aku melihat pemandangan yang menarik perhatianku, disana berkumpul para santri putra yang saling berjajar membentuk barisan tak searah namun terlihat rapi. Lama kuamati, hingga terlihatlah seorang laki-laki yang sedang mengalunkan sebuah ayat al-qur’an dengan terbata-bata bahkan ketika ia salah pak kyai memukulnya dengan keras dengan tongkat kayu, sebagai hukuman karena setoran yang tak lancar.

Berawal dari rasa penasaran, aku mulai mengikuti progam itu, progam tahfidz. “itung-itung cari suasana baru” pikirku

Awal-awal masuk progam ini, aku kelimpungan mengikuti rutinitasnya, dimulai dari aku tak hafal-hafal, malas menyerang, hingga kadang bolos kebiasaan lamaku masih belum hilang, hingga pada saat itu, dimana waktunya untuk menyetorkan hafalan. “kang azka, ditimbali kyai” betapa tidak kaget aku, ketika kang yusuf bilang aku ditunggu di ndalem oleh kyai 

“wonten nopo kang?” kang yusuf hanya menggeleng. dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan  memberanikan diri untuk melangkah ke ruangan yang telah diperintahkan oleh kyai

“samean laopo le? Kok wes mulai males. Arek apalan iku kudu istiqomah gak oleh males! Lek samean gak gelem istiqomah yo gak usah melu apalan, lek samean gak niat wes gk usah melu apalan ae! 

“nggeh kyai, kendalane kulo taseh dereng lanyah kyai”

“iku tondone samean kurang nderes e le, coba diulangi lagi sampai benar-benar hafal jangan lupa juga istiqomahnya dijaga”

“enggeh kyai” 

Azka hanya terus mengulang hafalannya, ia usahakan sampai ia betul-betul hafal baru berpindah ke ayat selanjutnya, setelah setiap ayat itu berhasil ia lancarkan ia ulangi dari awal kembali. Betapa tidak girang ia yang awalnya terbata-bata mampu melancarkan  ayat yang ia anggap susah.

Dari sini, ia mulai berfikir, tidak ada kata susah, susah hanya membuatnya menjadi susah. Husnudzan, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hal ini, ketika kita menerima sebuah ayat yang kita anggap mudah kemudian terus kita hafalkan maka itu akan menjdai mudah. Bahkan secara tidak kita sadari kita mampu untuk menghafal lebih banyak ketika kita berpositive thinking. Begitu juga sebaliknya, persepsi yang buruk mengenai sebuah ayat akan mempengaruhi hafalan kita.

Apalagi ia semakin giat hafalan dan bertambah istiqomah setelah dinasehati oleh kyai, bahkan kyai sendiri mengkhususkan waktu untuknya supaya ia tidak menjadi teledor terhadap hafalannya dengan mencari waktu hafalan khusus untuknya yang berbeda dengan santri lainnya.

 “Iso gak iso seng penting istiqomah” begitu pesan yang seringkali terngiang dalam pikirannya ketika malas menyerang dan seketika itu juga ia akan bangkit untuk melanjutkan hafalannya.

* * *

Masa menghafal adalah masa yang sulit hingga ia pun berada pada ambang kesuksesan hafalannya, khatam. Meski hafalannya sudah berada pada batasnya, nyatanya ini belum berakhir masih ada ujian yang lebih besar, yakni murajaah sampai akhir hayat.

Menghafal itu seperti menanam dan murajaah itu menyiramnya, menanam tanpa disiram ya.... Mati!

  • view 19