Ketika 1+1=1

Al Gazali
Karya Al Gazali Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 April 2017
Ketika 1+1=1

Hari-hari indah baru dimulai dengan persaksian hati yang menyejukkan tergambar dari seorang perempuan idaman, menaruh hati seutuhnya untuk harapan yang selamanya.  Fitri namanya, Madura tempat tinggalnya, perempuan yang diimpikan dalam sadar oleh Sandi, bertaruh keyakinan  akan hati yang tak lagi sendiri, menitip hati yang baru diselami, berjanji untuk tetap dapat bersam-sama dalam hari.

Dalam dunia yang hanya suara Sandi dan Fitri kembali bersama.

Fitri yang penuh dengan masa lalu yang kelam, menjadi alasan Sandi merasa sulit berjuang, tapi tetap ia teruskan karena keyakinan untuk dapat dipercaya dan mempercaya. Banyak alasan yang membuat Sandi berfikir mendalam untuk meyakinkan, namun ia jawab sendiri dengan kesungguhan.  Derita masa lalu Fitri yang selalu ia kenang dengan air mata dan ketakutan, tidak menyurutkan niat Sandi untuk berjuang memudarkan masa lalu itu.

Ketika 1+1=1 (Satu ditambah Satu sama dengan Satu), artinya dua hati yang menyatu, disitu belum bisa membuat Fitri terlepas dari ketakutan masa lalunya, terkadang harus mengeluarkan air mata sejuknya, ketakutan itulah yang membuat Sandi seakan terpukul oleh tanggung jawab untuk mengubahnya, karena hatinya telah berikrar untuk satu dan tidak untuk yang lainnya, air mata sia-sia yang sering ia luncurkan untuk tangisan Fitri

Fitri yang ragu, menyayat hati Sandi dalam kebertanggung jawaban. Bagaimana tidak dirasa sakit itu, sedangkan kita sekarang satu, dan kau masih mengingat masa lalu kelammu itu, tutur Sandi dengan emosi. Fitri semakin terisak-isak dengan tangisnya, Sandi pun tak dapat mendengarnya hingga ia putuskan suara Fitri dalam telefonnya, karena ia tidak sanggup berkta-kata pada orang yang sedang berkucuran air mata.

Fitri pun memanggilnya kembali.

Bercerita tentang masa lalu, pasti ada yang terpukul salah satu, karena dalam hati yang sudah menyatu dirasa perlu untuk mengesampingkan itu, ujar Sandi tanpa salam. Ia terus meyakinkan Fitri untuk percaya dan bergerak untuk masa kedepan, tanpa selalu harus terkunkung dalam masa silam. Sandi yang mulai lancar karena emosi, merubah sikap dan menghentikan aliran air mata Fitri yang tak henti-henti ia iringi dengan desah desuh nadanya sendiri.

Siapa yang tidak terpukul dengan cerita masa lalu yang diungkap oleh separuh hatinya? Sandi mulai ingat pada Novel dari Marah Rusli yang berjudul “Sitti Nurbaya” yang baru dibacanya meski belum selesai, memang ini bukan tentang perjodohan namun kesamaannya ketika Sitti Nurbaya khawatir akan kekasihnya sebelum mendapat surat pertamanya yang panjang, Kekasihnya yang sama seperti Sandi, menimba Ilmu di kota Jakarta. Kekhawatiran Sitti Nurbaya seperti Fitri, yang ia poles dengan ketakutan masa lalunya.

Kekhawatiran akan banyaknya perempuan-perempuan yang pasti ditemui Samsul Bahri (kekasih Sitti Nurbaya), yang dapat merubah hatinya tidak lagi mengingatnya. Begitu pun Fitri, kekhawatiran akan itu dan kaitannya dengan masa lalu yang membuat hatinya pilu. Namun Sandi tidak surut dengan ketakutan dan berusaha meyakinkan dengan modal kepercayaannya sendiri, karena kota besar dengan sejuta hayati tidak akan merubah arti hati untuk Fitri, dengung Sandi.

Karena kepercayaan dan keyakinan itulah, Sandi menyatukan hati untuk Fitri. Jakarta sebagai ibu kota sudah tentu menjadi objek ketakutan dan kerisauan seorang yang ditinggalkan, namun hati tak bisa mengingkari jika itu sudah dalam jeruji hati, tegas Sandi. Ketakutan Sandi hadir, karena jaraknya Fitri yang jauh, namun dengan kepercayaannya, ia mengubur ketakutan dan meyakinkan Fitri akan arti kepercayaan itu.

Ini bukan cerita Sitti Nurbaya, yang setiap mendengar namanya Hipotesis tentang perjodohan mendominasi akal manusia, tidak harus dikesampingkan cerita dibaliknya yang menjadi kesamaan cerita dalam kekhawatirannya. Bukan untuk mengulang cerita Sitti Nurbaya, tapi meyakini dan menjalani yang kita satukan adalah tugas kita bedua. Yakin Sandi. Penjelasan Sandi membuat air mata suara Fitri menjadi normal dan menghentikan air mata yang mengalir di pipinya.

Fitri kembali tertawa, dan mengakui tangisannya yang terisak-isak, karena sebelumnya ia tidak mengakui suara bentuk tangisan, yang ia tutupi meski selalu ditanyakan Sandi. Senyumnya yang kembali membuat tenang hati. Fitri memang jauh, lebih jauh dari perempuan-perempuan cantik di kota, tapi itu soal jarak, takkan bisa merubah ikhlas hati yang melekat, tutup Sandi dengan seriusnya. Tawa kembali menyapa mereka.

Semakin larut dalam obrolan itu, Fitri mengusap air mata di pipi yang ia akui. Tentang ketakutan ia tidak bisa menghapus dengan berjanji, karena yakin akan selalu hadir sewaktu-waktu yang tidak ia inginkan, namun Sandi memaklumi, bagaimanapun Fitri juga butuh dimengerti.

 

Have a nice dream Fitri...........!

 

 

Ciputat, 18 April 2017

  • view 74