Kesenderianku

Al Gazali
Karya Al Gazali Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 April 2017
Kesenderianku

Dunia memang luas, hanya karena keterbatasan berfikir manusia yang menyempitkan dunia. Dan itu pun jika manusia itu sendiri menyempitkannya, artinya manusia berpotensi mnegetahui luasnya dunia krn kodratnya yang dinamis, begitu juga yg membedakannya dg makhluk lainnya.

Aku pun begitu, aku percaya dunia ini luas namun ketidak sampaian pada yang luas itu yang membuatku merasa dunia ini semakin luas jika difikir terus menerus, yang ujung2nya tak pernah sampai.

Begitu juga dengan rasa cinta (mahabbah), mahabbah yang sangatlah misterius dalam hidup, mengapa??? Keabstrakan yang tak mampu terdefinisikan, namun berpengaruh besar pada kehidupan, tidak lain juga krn keterbatasan

Dalam mahabbah seakan statis diri dan fikir ini, terkurung dalam besarnya rindu dan cita memilikinya, tak dapat kutipu rasa selagi aku bisa menulisnya dengan penuh cinta

Diri ini yang tunduk pada balasan sayangnya, menjelma bak darah yang setiap waktu mengalir tanpa keluar dari bungkusannya. Ini bukan penyakit namun dirasa mampu diingat sampai mengalahkan rasa diatas maknanya.

Mahabbah yang besar dan sulit untuk sampai, hanya ada dalam ingatan dan doa yang selalu dipanjatkan. Harus diakui adanya namun kerut membukanya.

Mahabbah yang hanya bisa ku orasikan dalam doa, disaksi hanya oleh sang maha benar. Dan pengakuan sama darinya semoga menjadi modal utama dalam semangat seperti yang tergambar dalam doa.

Kegagalanku menggapainya, semoga juga menjadi acuan berbeda dalam hidupnya, yang ku tau juga sama dengan apa yang ku rasa, dan dalam mengagumi hidupnya

Dunia ini seakan menutup diri, sehingga menghentikan pandangan jiwa pada cita. Ini tak dapat dipungkiri krn memang murni kesalahan diri pada dunia yang tak berdiri sendiri

Tak dapat kubayangkan nilai dari semua orang, yang ku konklusikan keangkuhan dan ketidak punyaan perasaan. Namun diibaratkan seorang sufi yg selalu bersih dari kebohongan, begitu pula shatahatnya, pun juga diri.

Terlalu tinggi memang pengibaratan itu, bahkan jauh dari kebenaran, mengingat diri ini yang tidak bersih dan atau jauh dari lurusnya jalan penghambaan pada umumnya.

Entah apalagi yang bisa kujadikan ibarat?? Tidak ada, hal itu terlintas begitu saja dan mengajak untuk mencatat supaya tidak keluar dari rasa hormat sebagai pelajar.

Terakhir, aku mencoba mundur meski berat rasanya, dan menjadikan ini sebagai pelajaran yang tetap tak mampu ku gait dengan yang sebenarnya, krn bagaimanapun tali pengikatnya terlalu kuat untuk ku lepas

Sendiri dulu, biar untukku saja!

  • view 56