Nyaman dan Rahasia

Al Gazali
Karya Al Gazali Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 April 2017
Nyaman dan Rahasia

Mayoritas anggapan terhadap Lelah sudah pasti kepada Istirhat anjurannya, apalagi lelah karena habis bekerja yang banyak menguras tenaga, seperti kuli, pekerja bangunan dan sebagainya.

Sekitar dua bulan lamanya Sandi tinggal di Jakarta, meninggalkan kampung untuk bekerja. Lika-liku kehidupan sebelumnya yang membuat Sandi harus meninggalkan keluarganya ke luar kota, kehidupan yang sama sekali tak diharapkan, dan sangatlah jauh dari harapan. Kampung yang rindang ia ibaratkan, harus rela ditinggalkan. Panjang renungan Sandi saat sendiri memikirkan kampung yang ia tinggalkan itu, selalu menitik beratkan pada kerinduannya!

Di kamar Kos yang kecil, berbaring menunjukkan sedikit lelah bersama teman kamar yang kebetulan teman sekampungnya juga, lelah yang tiap hari dirasakan tanpa perbedaan. Sandi bermain-main dengan HP barunya, yang baru ia beli dari hasil keringatnya sendiri meski HP itu tak semahal dari teman-temannya yang lain. Blackberry yang pada waktu itu sangat tenar namanya karena kecanggihannya dalam mengakses berbagai macam informasi dunia luar, sambil ditemani kopi yang ia beli dari warung Buk De bawah kosannya.

Amir, salah satu teman sekamarnya selalu mengecehnya karena tidak henti-henti memandang Hp barunya, Sandi seakan menjadi apatis dan bahkan autis jika ada yang mengganggunya, maklum Hp baru, ujar Amir pada teman lainnya. BBM aplikasi chat yang menghubungkan orang yang jauh menjadi dekat, dengan biaya yang minim dan bisa dipakai berbulan-bulan, itulah yang dibuka Sandi pertama kali sambil senyum-senyum dengan teman barunya, yang ia pun tak kenal dalam dunia nyata.

Rasa kantuk yang biasa ia rasakan dg cepat setelah terbenanmnya matahari, sekarang menjadi lebih lama dan bahkan tidak bisa merasakannya, efek Hp baru memang sangat besar baginya. dalam dunia serba internet itu Sandi memanfaatkan berkomunikasi dengan teman-teman lama di daerahnya, karena ia juga cukup lama tidak bertukar sapa seperti sebelumnya yang Hpnya penuh dengan sms dan daftar panggilan temannya, baik yang perempuan maupun teman laki-laki sepermainannya. teman-teman sekampungnya juga sering ngechat dengan lumpahan-lumpahan rindu kepadanya.

Fitri, teman perempuannya ketika masih di bangku sekolah menengah, begitu akrab dan juga partner buat curhat, yang sampai pada saat Sandi di kota komunikasi tetap berjalan baik. Pesan pertamanya dari teman yang dikenal dari daerahnya itu dengan ucapan salam dan bertanya kabar yang diselimuti rasa penasaran akan jawaban, yang “sehat” sebagai harapan.

Pesan teks berisi obrolan canda tawa itu mengalir hingga larut malam, karena rindu dan lama tak bertegur sapa adalah alasan utamanya. Fitri curhat akan segala yang ia hadapi dimana ia tinggal (Pulau Madura), tentang sekolah, kesehatan dan bahkan tentang hubungan dengan pacar tak luput dari curhatannya. Seperti biasa keduanya kalau lagi curhat sampai larut malam, seakan pada lupa hari esok akan kegiatannya yang tertutupi dengan nyamannya obrolan berdua.

Fitri: Mas (panggilan biasa Fitri pada Sandi), aku pengen cerita boleh?

Sandi: cerita apa?

Jawaban Sandi singkat, namun juga penuh teka-teki penasaran, Fitri yang sebelumnya sudah cerita tentang kandasnya hubungan dengan  pacarnya, menjadi bahan awal spekulasi Sandi bahwa Fitri akan cerita tentang pacar yang baru diputusinnya itu, yang tidak lain juga temennya Sandi. Tak ada angin dan hujan Tiba-tiba Fitri menarik pertanyaannya, berselimut malu dan rasa tidak percaya untuk mengungkapkannya. Fitri yang cara berbicara tidak seperti biasanya membuat Sandi sedikit memaksa apa yang ingin diceritakannya.

Sandi: cerita apa sih? Jadi penasaran.! Tandas Sandi disela-sela Fitri memotong obrolan

Fitri: gak ada apa-apa Mas, Cuma iseng aja tadi biar gak ngantuk hehe. (jawabnya berulang-ulang)

Sandi: adduuu kirain ada apaan. Penasaran banget ini hehe

Jawaban Sandi mengalah, akan tetapi dalam hatinya berbicara, bahwa Fitri menyembunyikan sesuatu untuk diceritakan, namun tak bisa ia sampaikan malam ini. Sandi yang memaklumi, mungkin lain waktu dia pasti akan cerita. Pikir positif Sandi.

Fitri yang membuat penasaran itu dengan candaannya, membuat malam semakin tak terasa kalau sudah larut, dan dinginnya angin malam pun mulai masuk dari lubang-lubang kecil dinding kosan Sandi. Malam yang menyenangkan dengan HP baru dan bisa sampai larut malam, Charger yang tetap menempel di HPnya sejak dari awal dipegangnya, tak urung Sandi lepas, karena sayang Batery berkurang untuk berangkat kerja besoknya.

Teringat kerja, Sandi pun pamit istirahat, karena mengingat kerjanya yang melelahkan seharian. Fitri yang meskipun perempuan tapi kuat begadang (meskipun paginya harus sekolah) itu memaklumi dengan posisi Sandi yang sekarang menjadi buruh di daerah orang lain. Dengan pelan ucapan salam dan iringan kalimat untuk melanjutkan obrolan besok malam menjadi kiasan akhir menutup obrolan, perlahan hilang suara lembut Fitri dalam larut malam.

Sebelum lelap, Sandi masih sibuk dengan tempat dimana ia akan meletakkan HP barunya supaya aman, hingga ia temukan lemari bawah Televisi, dan beranjak ke pojok kanan kamar untuk mematikan lampu yang masih bersinar terang, dan gelap pun menyapa.

 

 

 

Kebon Pala 3, Tanah Abang

  • view 84