Bahagia yang mampir

Al Gazali
Karya Al Gazali Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 April 2017
Bahagia yang mampir

Di malam yang sunyi, yang dikelilingi pepohonan pinggiran kota. Di rumah salah satu saudara yang tinggal bersama, Azam duduk di kursi depan rumahnya dengan sebuah handphone yang digenggam, yang Ia tempelkan ke telinga kanannya sembari berbicara dengan pelan dan tertawa-tawa penuh tanda tanya. Banyaknya pepohonan depan rumahnya itu, keluar nyamuk-nyamuk besar, Azam pun tak luput dari gangguan, namun itu tak menyurutkannya untuk tetap di posisinya dengan tertawa-tawa lepas.

Mungkin, nyamuk-nyamuk yang ada merasa terusik dengan kerasnya tawa Azam, atau mungkin kesal karena korbannya belum juga lelap, segala gangguannya yang tak luput dari serangan tangan Azam, satu persatu nyamuk itu yang menjadi korban kekeasalan Azam. Percakapan terus berlanjut, Syahnaz Putry, lawan bicara Azam di percakapan lewat handphone itu.! Azam yang suka bercanda, sering memanggilnya dengan sebutan Beb, jarang sekali memanggil nama aslinya.

Sesekali Azam memangil ‘Beb’, Syahnaz sering terlepas tawa manjanya, dan itu menjadi hal biasa bagi Azam yang suka (sering) bercanda. Syahnaz tidak lain adalah teman lama yang sering Azam kagumi lewat lagu-lagu yang sering dinyanyikannya, dalam percakapan lewat handphone inilah keduanya melepas rindu dengan suara dan tawa bersama seperti dulu. Saling tukar cerita yang pernah dilalui tanpa komunikasi.

Obrolan mengalir yang disertai dengan candaan pengundang tawa, membuat Syahnaz jadi tak bisa menahan tawanya. Memuji, menjaili, sampai menjelek-jelekkan tak luput dari percakapan keduanya, mungkin sudah keasyikan tenggelam daram rindunya masing-masing, tidak banyak jawaban yang diberikan Syahnaz ketika Azam membuat dirinya kesal dengan jailannya, jawab Syahnaz hanya ‘hmmm’ yang entah bagaimana itu artinya, mungkin itu jawaban singkat yang mewakili kegembiraan saat Azam membuatnya tertawa (fikir Azam).

Dari seringnya canda dalam percakapan Azam dengannya, dan sering juga Syahnaz ngambek karena candaan Azam yang berlebihan. Ancaman menutup telefon Syahnaz pun ia lontarkan, namun Azam, sembari menggerakkan tangan yang menepuk-nepuk pipinya karena gigitan nyamuk selalu meminta Maaf dan tidak berhenti memberitahu bahwa semuanya hanya candaannya. Namun Azam juga tahu bahwa itu hanyalah candaan Syahnaz juga untuk mengerjainya.

Percakapan yang asyik malam itu, hingga sampai pada pertanyaan tentang mendalam dari Azam tentang hubungan asmara Syahnaz, jauh sebelum malam itu Azam sudah tau bagaimana hubungannya, bahwa Syahnaz sudah sendiri atau tidak mempunyai cerita pada saat itu, hanya karena Azam ingin mendengar langsung dari Syahnaz yang lebih sering menutupinya. jawaban Syahnaz pun terdengar pasrah karena kesendiriannya.

Tidak terelakkan juga, meletuslah canda dan tawa ketika jawaban Syahnaz terdengar pasrah, karena Azam juga tidak mau larut dalam kepasrahan yang dialami. Meletusnya tawa yang semakin kencang sampai kedalam rumah, sampai-sampai Ratih (saudara Azam) yang sedang menikmati tidur malamnya mendengar, dan menyuruh Azam untuk tidur dengan suara lantangnya, Syahnaz yang mendengar ikut menyuruhnya untuk tidur dengan nada eloknya.

Azam yang sudah biasa, tak menghiraukan seruan dari saudaranya itu, Ia hanya menjawab singkat dan mengiyakan seruan itu. Syahnaz seakan mengecehnya dengan ikut-ikutan menyuruh Azam tidur, itu sudah terdengar dari kebiasaannya menjaili juga. Namun Syahnaz dengan seriusnya mengatakan ada kesibukan esok, hingga Ia memutuskan untuk menutup telefon dan pamit untuk tidur. Azam pun mau tidak mau harus mengiyakannya, meskipun masih ada kata-kata terpendam yang ingin Ia sampaikan.

Tepat jam 03:20 Syahnaz mengucap salam dan Azam menjawab dengan nada sedikit kekesalan. Azam yang sudah biasa dengan begadangnya, sambil merenung, karena menyesal tidak mengatakan dari awal apa kata-kata yang Ia pendam untuk Syahnaz. Sampai adzan subuh terdengar Azam masih duduk di kursi depan rumah itu yang nyamuk dan kunjung lelah menemaninya. Azam pun tertidur dengan sesal yang dibawanya.

----

Beberapa hari dari malam itu, pada malam tepat jam 23:00 Syahnaz mengirim pesan teks untuk Azam, dengan kalimat singkat berpamitan, dia tidak akan memegang Handphone atau alat komunikasi lainnya hari-hari kedepan, dengan rasionalisasi system baru yang dinaungi. Azam tergerak untuk memfokuskan pesan itu dengan menyendiri dalam kamarnya dan berharap apa yang Ia pendam bisa tersampaikan kepada Syahnaz.

Luang waktu setelah pertanyaan basa-basi seperti biasanya, Azam mulai bertanya tentang dirinya sendiri kepada Syahnaz.

Azam : Seberapa jauh kau mengenalku Beb?

Syahnaz   : Aku mengenalmu lebih dari yang kau tahu, meskipun kau tidak pernah memberitahu tentang dirimu kepadaku, aku selalu mencari tahu tentang dirimu

Azam terkejut girang dengan jawaban Syahnaz yang seperti itu, Ia mulai mengejar dengan bertanya  mengapa Syahnaz tahu tentangnya dengan tidak dari Azam sendiri. Syahnaz pun menjawab dengan penuh teka teki yang membuat Azam sulit mengerti, seakan mengarah pada apa yang Azam pendam, Syahnaz mulai dengan kalimat-kalimat indahnya yang membuat Azam semakin yakin bahwa Syahnaz mempunyai kata-kata yang terpendam juga untuknya.

Percakapan yang elok, membuat Azam tergerak memperjelas kalimat-kalimat yang penuh teka teki dari Syahnaz, tanpa sepengetahuan siapapun Syahnaz mengerti bahwa apa yang Azam pendam itu adalah kata-kata indah untuknya. Azam yang biasanya penuh tawa dan canda saat ngobrol dengan Syahnaz, kali ini Dia penuh dengan kalimat-kalimat panjang untuk Syahnaz yang ia simpan sekian lamanya. Melihat jawaban-jawaban Syahnaz yang semakin membuat Azam terpojok dengan kalimat-kalimat indahnya. Azam segera membuka kunci kata yang Ia pendam.

Azam : Izinkanlah aku yang mengisi kalimat indah dalam suasana hatimu saat ini?

Mendengar pernyataan Azam yang penuh keseriusan, Syahnaz membalas dengan kalimat tak terduga, dengan jujur dan tingginya rasa sesal, Syahnaz bilang masih ada ikatan dengan seseorang, yang tak lain adalah mantannya dulu. tentu jawaban Syahnaz yang seperti ini membuat Azam terkejut keras, Syahnaz yang sebelumnya bilang sudah tidak punya ikatan dengan siapa-siapa pada malam sunyi dengan banyak nyamuk itu, Azam kembali merenung cukup lama karena rasa tak percaya

 Syahnaz : Aku memang mengharapkanmu sedari dulu, dan aku harap kamu juga begitu. Tapi sekarang aku masih terikat dengan orang lain, kembali terikat.!

Tak terbayang bagaimana ambur adulnya perasaan Azam dengan pernyataan itu, meskipun Syahnaz selalu menekan dan atau meyakinkan bahwa hati dan tujuannya hanya untuk Azam. Namun Azam dengan emosinya berujar, tidak akan pernah bisa melipat tali rasa kita jika kau masih mempunyai ikatan yang tak bisa kubuka, karena itu bukan aku yang sebenarnya. Azam mempertegas kekecewaannya.

spontan jawaban pesan Syahnaz kepadanya, dengan nada dan air mata:

Syahnaz : Sampai disinikah perasaanmu kepadaku? Aku sudah lama mengaharapkanmu wahai kebahagianku, aku tidak mau dengan yang lain karena kamulah kebahagiaanku.

Azam : kamu memang yang sangat ku harapkan, yang aku kira tidak punya ikatan. Maaf, aku gak bisa menjadi tembok penghalang. hati dan fikiran keduanya sudah tak terkendali, karena emosi yang mengebu-gebu ingin memiliki.

Langit mulai terang, menjelang matahari terbit yang meredupkan malam yang tenang. Syahnaz tak henti-henti mengulang pengharapannya, dengan kecewa dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena pernyataan Azam yang tak dapat digoyahkan, Syahnaz hanya membalas pesan Azam dengan bilang tak bisa berkata-kata. Karena Azam yang semula tinggi pengharapan kepada Syahnaz berubah menjadi sosok yang tak bisa menerima.

Azam : aku mengerti, hatimu yang ku tempatkan dalam ruang syahdu jiwaku. Kamu perlu tahu, aku bukan orang suka jadi yang kedua.

Syahnaz : tapi kan, aku gak suka sama dia Zam, kebahagiaanku hanyalah kamu, ngerti gak sih.

Azam : tapi aku gak bisa, kalau kamu masih punya ikatan, apalagi sama orang yang ku kenal.

Syahnaz : jadi, kamu mengorbankan kebahagiaanmu ini,?

Pesan-pesan yang dikirim Syahnaz, menggertak kelopak matanya hingga keluar air suci yang tak diharapkan. Namun itu tidak megguncang keteguhan Azam, Ia hanya membalas dengan satu kalimat akhir “kamu tetap kebahagiaanku sampai kapanpun, karena hanya kamu objek "semoga" dalam segala doaku”. Syahnaz termenung dengan kekecewaannya, tak dapat membalas pesan Azam yang sangat menyakitkan untuknya, Ia hanya bisa berpamitan untuk sholat subuh sebagai bentuk tak bisa merangkai kata-kata lagi karena besar kecewanya.

Fikir yang carut marut, Azam beranjak ke kamar mandi di luar kamar, sedikit terkejut dan tidak menyangka, di luar sudah terang, matahari sebentar lagi terbit, pantes Syahnaz pamit sholat dan mengakhiri balasan-balasan pesannya. Malam itu sungguh penuh harapan dan penyesalan, merasakan kebahagiaan karena sama-sama mendapat pengharapan yang sama dari Syahnaz, rasa yang dalam namun tak bisa bersama dalam ruang bahagia.

Sebelum Azam lelap, yang memang semalaman tidak istirahat, dia sadar bahwa bahagia dan sesal yang dirasakan dalam pesan-pesannya bersama Syahnaz adalah sebuah bahagia yang sekedar menaruh senyum sesaat, namun itu tidak memutus pengharapan keduanya untuk tetap berjalan dalam satu harapan, satu rasa dan cita dalam ruang tanpa ikatan.

Azam : kamu tetap yang terindah Beb, dan kamulah arti “Semoga” dalam doa yang tak henti ku sebut, kamu pilihan hatiku, bahagialah untukku bersama siapapun itu.

Syahnaz : makasih Beb.

Obrolan yang berakhir pagi itu, juga menjadi akhir komunikasi Azam dan Syahnaz. Karena jarak yang jauh dan Syahnaz pun meninggalkan Handphone di rumahnya, handphone yang menjadi satu-satunya alat pengobat rindu mereka. Hal yang tak dapat dilupakan adalah pesan-pesan Syahnaz untuk Azam di malam itu, begitu pun dengan Syahnaz. Pesan itu menjadi bacaan harian Azam untuk mengingat Syahnaz, sembari mengingat dan melepas rindunya.

Suara bising di luar sudah terdengar, orang-orang sekitar mulai menghidupkan kendaraan untuk awal aktivitasnya, namun Azam tidak memaknai keramaian itu suatu gangguan, muka yang masih tidak percaya dengan pesanpesan Syahnaz, sambil melihat atap kamarnya dengan berucap “aku sayang kamu Beb”, tidak lama Azam terlelap seiring dengan lamunannya.. 

 

 

 

Ciputat, 23 February 2017

  • view 117