Cara Membangun Candi Borobudur

Bang Beni
Karya Bang Beni Kategori Sejarah
dipublikasikan 15 Agustus 2018
Cara Membangun Candi Borobudur

Cara Membangun Candi Borobudur - Candi Borobudur merupakan salah satu bangunan megastruktur kuno terbesar di Indonesia bahkan dunia, candi ini juga dinobatkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Candi yang dibangun pada abad 8 dan 9 ini diperkirakan memiliki volume 55.000 meter kubik, yang tersusun menggunakan sekitar 2 juta balok batu dan proses pembangunannya diperkirakan memakan waktu selama puluhan tahun dan melibatkan ribuan pekerja.

Pada saat itu tentunya teknologi konstruksi masih relatif sederhana dan hingga saat ini tidak ada bukti bahwa peradaban tersebut telah mengenal maket dan sistem pengukuran (metriks) standar yang memungkinkan untuk membuat bangunan megastruktur. Lantas bagaimana cara orang zaman dahulu membangun candi borobudur?

Bila pada konstruksi modern seperti sekarang ini desainer membuat desain dalam gambar yang rinci dan rumit, kemudian struktur dibuat berdasarkan desain yang tersusun secara detail tersebut. Proses ini dilakukan dalam pemabangunan bangunan, pembuatan mobil, pesawat terbang, kapal laut, peralatan elektronik dan lain sebagainya. Proses ini dapat disebut sebagai proses “dari rumit ke rumit” karena dengan desain yang rumit akan menghasilkan struktur yang rumit.

Terlebih lagi pada zaman sekarang ini sudah banyak teknologi yang mendukung dalam membuat berbagai rancangan seperti halnya bangunan. Saat membangunnya juga dimudahkan dengan teknologi, bahkan saat bangunan tersebut kekokohan bangunan tersebut juga dapat diuji menggunakan alat seperti halnya Alat Uji NDT. Namun hal ini sangat berbeda dengan yang terjadi saat pembangunan candi borobudur.

Pada zaman dahulu sistem konstruksi natural memiliki cara kerja yang berbeda, tidak ada desain yang rumit dari corak kulit zebra, loreng harimau atau pola pigmentasi cangkang kerang dalam sekuen DNA-nya. Yang ada hanya sebuah aturan yang simpel yang dilakukan secara berulang - ulang hingga menciptakan konstruksi yang kompleks atau dapat disebut sebagai proses “dari simpel ke kompleks”.

Aturan sederhana yang diproses secara berulang dan terkomputasional tersebut pada akhirnya akan melahirkan struktur kompleks seperti pigmentasi kerang atau pola yang kompleks lahir dari aturan yang sederhana.

Sepertinya nenek moyang kita telah mengakuisisi konsep konstruksi natural dalam proses pembangunan Candi Borobudur hingga berhasil membuat bangunan megastruktur kuno tersebut. Aturan penempatan batu ditentukan berdasarkan pola balok batu yang terletak di bawahnya sehingga keduanya akan saling menguatkan.

Akan tetapi hal tersebut masilah sebuah asumsi atau perkiraan karena hingga kini para ilmuan belum dapat membuktikannya. Namun asumsi tersebut juga dibuat berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan seksama. Mungkin misteri pembangunan candi borobudur tetaplah menjadi menjadi misteri agar tetap menarik untuk dibahas atau dikunjungi.

  • view 37