Tentara Bayaran

Akhmad Hanan
Karya Akhmad Hanan Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 11 Juni 2016
Tentara Bayaran

Sayang, maafkan aku..

Aku gugur di medan perang. Tak sempat menemuimu, melihat kelucuan bayi kita saat lahir. Kali ini aku tak seberuntung hari – hari sebelumnya. Dada kiriku tertembus timah panas dan tepat mengenai jantung, aku tak kuasa menahan perihnya.

Cukup, aku rasa ini sangat menyakitkan ketika aku terbaring lunglai. Darahku mengucur deras menembus baju doreng tebal meluber ke tanah kering tempat aku terbaring lemas.

I have often told you stories

About the way I lived the life of a drifter

Waiting for the day when I'd take your hand

Sayang, kali ini aku jatuh tersungkur..

Tidak seperti biasanya aku perkasa mengokang senjata. Pulang menemuimu dengan derap kaki kokoh.

And sing you songs

Then maybe you would say

Come lay with me love me

And I would surely stay

Sayang, aku telah berjanji akan istirahat setelah ini

Menghabiskan waktu bersamamu dan bayi kita kelak. Aku mengatakan padamu bahwa ini adalah pertempuran terakhirku. Tersirat senyum kelegaanmu setelah aku berbicara padamu perihal keinginanku untuk pensiun.

But I feel I'm growing older

And the songs that I have sung

Echo in the distance

Like the sound of a windmill going round

I guess I'll always be a soldier of fortune

 

Tetapi semua terasa berbeda ketika aku diterjunkan di medan perang. Musuhku kali ini sangat tangguh dan aku pun tak kuasa melawannya. Bukan persoalan senjata yang mereka pakai atau seberapa besar musuhku. Mereka pun hanya sedikit tapi mereka sangat perkasa.

Gema suara mereka meruntuhkan semangatku. Membuat jiwa dan ragaku pasrah hingga melepas rompi pelindung yang biasa aku kenakan.

Many times I've been a traveller

I looked for something new

In days of old when nights were cold

I wandered without you

But those days I thougt my eyes

Had seen you standing near

Though blindness is confusing

It shows that you're not here

 

Dari sekian banyak pertempuran yang aku jalani aku selalu menang. Seribu serdadu pun aku selalu merobohkannya. Tetapi kali ini berbeda. Seakan aku tak mampu melangkah, merinding dan pasrah menunggu dirobohkan.

Sayang, maafkanlah aku yang tak bisa menemanimu lagi...

Aku tak bisa dan tak sanggup lagi melawan mereka. Aku sangat hapal dan paham bendera dan panji – panji yang mereka bawa. Aku pun bisa mengikuti yel – yel patriotik mereka ketika di medan perang. Dulu aku sudah berjanji tak akan melawan mereka.

Mereka adalah bangsaku, yang sedang membela tanah air. Sedangkan aku berdiri di pihak lawan dengan membawa senjata.

Melawan mereka sama saja aku berkhianat kepada bangsaku. Maka biarlah ragaku berdiri tanpa senjata dan pelindung menunggu peluru nyasar mengenaiku.

Sayangku...

Aku meninggalkan beberapa lembar uang di bawah ranjang kita yang pasti akan cukup untuk biaya persalinanmu kelak. Kelak jika anak kita lahir, ceritakanlah tentang diriku apa adanya. Janganlah kau mengatakan kebohongan kepadanya. Selamanya aku adalah seorang tentara bayaran.

I guess I'll always be a soldier of fortune

  • view 159