Esok untukku yang lebih baik buatmu

akbar rahmatulloh
Karya akbar rahmatulloh Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Esok untukku yang lebih baik buatmu

Kalau urusan menikah hanya tentang kita berdua saja tentu aku akan segera melamarmu membawamu ke hadapan penghulu.

Seandainya menikah hanya tentang bersatunya dua jiwa tentu aku akan segera menghadap ayahmu.

Namun tidak sama seperti itu nyatanya, ada dua keluarga yang disatukan dalam pernikahan, dua pandangan besar dalam berpikir yang harus diselaraskan, dan bagaimana masing-masing menilai orang yang akan mendampingi anak mereka, dengan caranya mereka sendiri.

Mudah saja jika mereka mengembalikan pada apa yang diturunkan Sang Maha Pencipta lewat Utusanya yang mulia, namun ada banyak hal lain di luar itu yang menjadi pertimbangan sebelum kita berdua benar-benar melangkah menghadapi dunia berdua.


Sudah menjadi adat kebiasaan di negera kita ini, pernikahan adalah sesuatu yang harus dirayakan, aku menyebutnya pesta dari pada sekedar perjamuan makan.

Tentu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk kita berdua dan kedua orang tua kita seandainya bisa merayakanya, sesuatu yang memang terjadi sekali dalam seumur hidup, bisa berbagi kebahagiaan bersama dengan tetangga dan kerabat, seandainya aku memang seorang yang dilebihkan hartanya tentu aku juga akan berpikir seperti itu.

Namun aku lebih suka untuk menahan diri, lebih suka merayakanya dalam kesederhanaan, karena jamuan makan sudah cukup untuk memberitahu kerabat, sahabat, dan orang-orang terdekat akan hubungan kita yang baru ini.

Mempersiapkan sesuatu untuk hal yang lebih besar setelah halalnya hubungan kita ini, karena kehidupan rumah tangga kita yang baru ini akan dimulai setelah pesta usai.

Tapi dunia tidak berjalan selalu seperti yang kita inginkan, kita tentu saja tidak bisa semudah itu menutup telinga dari orang-orang yang berkata lain dengan yang kita mau, yang aku khawatirkan adalah salah satu diantara kita tergoda, hingga kemudian mengadakan sesuatu yang sebenarnya kita tidak mampu, dan aku benar-benar khawatir akan hal itu.


Rezeki memang menjadi urusan Sang Maha Pemberi Rizki, tapi tak dapat dinafikan jika setiap orang tua khawatir terhadap kesejahteraan putrinya, kita bisa saling menerima apa adanya, kita akan selalu bersabar dalam kesempitan, tetapi terkadang mereka tidak bisa seperti itu.

Tidak mengapa jika mereka sembunyi-sembunyi mencemaskanmu, selama mereka mempercayai aku untuk menjagamu itu sudah cukup.

Yang menjadi masalah adalah ketika mereka mencampuri terlalu dalam apa yang sebenarnya hendak kita bangun, karena apa yang orang tua katakan tidaklah sama dengan yang orang lain ucapkan, menjaga hati mereka lebih utama dari perselisihan tak berguna.


Mungkin kau akan menghela nafas mendengar ini, mungkin saja kau menganggapku terlalu khawatir dalam menghadapi pernikahan, mungkin kau akan menganggapku tak percaya pada Sang Maha Kuasa, tapi ingatlah aku selalu memohon di mudahkan jalan untuk segera bersamamu diiringi usaha membangun jalan itu.

Kekhawatiran orang tuamu adalah untuk kebaikan dirimu dan kita berdua nantinya, maka dari itu aku menyiapkan pondasi untuk membuat orang tuamu sedikit tenang kala aku meminangmu, percaya padaku untuk menjagamu sampai akhir hayatmu.


Karena menikah bukan hanya tentang kesiapan mental dan kedewasaan diri, melainkan materi yang akan menyertai nanti, meskipun bukan yang utama, tetapi tiang yang rapuh tentu membahayakan orang yang berteduh dibawahnya.

Entah  kemana takdir akan membawaku, yang pasti aku sedang mempersiapkan jalan yang akan kita lalui nanti jika takdir berkenan.

  • view 187